Kisah Tragis Nicolas Anelka: Dibully, Dijebak, Hingga Dimusuhi di Real Madrid

kumparan Dipublikasikan 05.02, 06/08/2020 • Viral Bola
Anelka saat membela Liverpool Foto: AFP/PAUL BARKER

''Bermain di Real Madrid memang membutuhkan pengorbanan. Nampaknya saya terlalu muda untuk memahami itu. Saya melakukan hal-hal yang tidak seharusnya. Mungkin, itu karena saya masih terlalu dini.'' ungkap Anelka.

Nicolas Anelka membagikan kisah dukanya. Eks penyerang asal Prancis tersebut membeberkan pelajaran berharga yang ia dapat ketika berseragam Real Madrid.

Anelka, baru-baru ini menjadi bintang dalam film dokumenter Netflix yang berjudul 'Anelka: Missunderstood'. Pria yang dikenal kerap bergonta-ganti klub tersebut membuka pengalaman pahitnya ketika berseragam Real Madrid.

Anelka muda memang sukses tampil memukau bersama Paris Saint-Germain dan Arsenal. Hal ini yang membikin raksasa Liga Spanyol, Real Madrid, kepicut untuk mendatangkannya di tahun 1999.

Dengan nilai transfer yang terbilang besar saat itu (22 pounds atau sekitar 421 miliar rupiah), Anelka muda memikul beban berat -- dituntut tampil gemilang bersama Los Blancos.

Dibully rekan setimnya

Pil pahit ternyata sudah didapati Anelka di hari pertamanya bergabung bersama Real Madrid. Ya, alih-alih mendapat sambutan hangat, Anelka malah diperlakukan bak pemain yang tak dianggap rekan-rekan setimnya.

Pria berusia 41 tahun tersebut menuturkan bahwa tekanan itu datang sangat cepat, bahkan sehabis ia melakukan konferensi pers di hari perkenalannya.

''Setelah konferensi pers, saya bergegas ke ruang ganti. Ketika saya duduk, pemain lain mengusir saya dan mengatakan bahwa itu tempatnya. Lalu saya pindah lagi, dan pemain yang lainnya kembali mengatakan hal itu kepada saya,'' ungkap Anelka, dikutip dari Daily Mail.

''Itu terjadi sekitar 20 kali. Lalu saya berpikir apakah di sini hanya akan terjadi permusuhan? Dan ternyata apa yang saya alami hanyalah awal dari mimpi buruk saya di sana.''

Dijebak awak media

Di bawah asuhan Arsene Wenger, pesona Anelka sebagai pemain muda memang memukau. Mengawinkan trofi Premier League dan FA Cup, kesuksesannya di Arsenal diharapkan mampu menjadi modal berharganya di Real Madrid.

Namun, perjalannya ternyata tak semulus yang diharapkan. Anelka bahkan tak mampu mencetak sebiji gol pun di lima bulan pertamanya.

Alhasil tekanan demi tekanan terus ia dapati dari media. Berbagai jenis pemberitaan sudah menjadi makanan sehari-harinya di saat itu.

Anelka saat membela Manchester City. Foto: AFP

''Ada begitu banyak tekanan dari media setiap hari. Di lapangan pun menjadi tidak bagus. Saya juga merasa tidak memiliki kehidupan,'' bebernya

''Bayangkan kamu berusia 20 tahun. Kamu selalu mendapat sorotan. Apa pun yang kamu lakukan akan menjadi berita di esok hari,'' dirinya menambahkan.

Selain menjadi 'makanan empuk' awak media, Anelka juga menuturkan bahwa ia pernah dijebak salah satu media besar Spayol, Marca. Ia bahkan tak menyadari bahwa hal tersebut bisa terjadi dalam kariernya di Madrid.

''Aku diundang ke kantor Marca. Saya pergi untuk membeli sesuatu karena saya tak terbiasa berbicara dengan mereka. Sampai akhirnya salah satu wartawan menawari saya bermain gim FIFA. Saya tak pikir aneh-aneh saat itu.''

''Kemudian di hari esoknya, muncul pemberitaan 'Anelka akhirnya mampu mencetak gol… di video game'. Itu menjadi berita utama. Saya tak mengerti itu adalah jebakan pers. Saya kira mereka tak akan sekejam itu,'' tambahnya.

Berselisih dengan klub

Nicolas Anelka saat membela West Bromwich Albion. (Foto: AFP)

Anelka akhirnya mampu mengakhiri penceklik golnya di final Piala Dunia klub di Brasil. Setelah itu, penampilannya perlahan membaik. Dirinya juga kerap mengisi pos utama skuat Los Blancos.

Namun, situasi tersebut tak berlangsung lama. Ya, Anelka dikabarkan berselisih dengan pihak klub. Hingga akhirnya ia kembali hanya menjadi penghangat bangku cadangan.

''Suatu hari saya datang ke pelatihan dan berkata bahwa kami harus berbicara. Namun mereka menunda-nunda pembicaraan tersebut. Saya memiliki mental anak jalanan yang tak ingin hanya tertunduk diam,'' ungkapnya.

''Mereka mengusir saya dari area pelatihan. Ya, mereka memang membuat drama. Yang saya inginkan hanyalah mereka memberikan saya waktu untuk berfokus pada sepak bola.''

Segudang persoalan tersebut setidaknya terbayarkan di penghujung musim. Yak, Anelka sukses membawa Madrid menjuarai Liga Champions musim 1999/2000.

''Benar-benar sulit ketika para pemain memusuhi saya.''

''Namun, saya tahu cara bermain fisik. Ada sedikit perselisihan dan pertengkaran di lapangan. Tapi itu semua tak masalah. Saya juga akhirnya mampu membawa Madrid menjuara Liga Champions ke-8 mereka. Saya bangga akan itu,'' dirinya menambahkan.

***

Anelka yang sukses bersama Chelsea, AFP/ALEXANDER NEMENOV

Perjalanan Anelka di Madrid memang tak berlangsung lama. Segudang persolan yang ia dapatkan di sana membuat dirinya kian tangguh. Setelah itu, Anelka juga mengisi CV-nya dengan daftar tim-tim besar.

Di samping membela klub-klub elit. Anelka juga sukses merengkuh berbagai trofi bergengsi di Eropa: Premier League, FA Cup, Serie A, dan Liga Champions,

Artikel Asli