Kisah Pilu Arga 20 Tahun Lumpuh Tak Berdaya, Ibu Kandung Tiba-tiba Menghilang, Kini Dirawat Pemulung

Tribun Style Dipublikasikan 06.13, 05/08
Kondisi memperihatinkan Arga Wahyu Pratama 20 tahun alami kelumpuhan.

TRIBUNSTYLE.COM - Inilah kisah pilu Arga Wahyu Pratama pemuda desa Sobontoro, Balen, Bojonegoro, Jawa Timur yang selama 20 tahun lumpuh tak berdaya.

Tak hanya pedih 20 tahun mengalami kelumpuhan, kini Arga Wahyu Pratama harus menerima kenyataan ibu kandungnya justru memilih pergi meninggalkannya.

Selama 20 tahun ini, Arga Wahyu Pratama dirawat oleh pasangan suami istri yang berprofesi sebagai pemulung.

Sayangnya ibu angkat Arga Wahyu Pratama mendahuluinya tutup usia pada 2010 silam.

Kini sehari-hari Arga dirawat dengan penuh kasih oleh Suharto ayah angkatnya.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-sehari, Suharto masih harus memulung di sisa masa tuanya.

Kondisi Arga (20), remaja asal Desa Sobontoro, Kecamatan Balen, Kabupaten Bojonegoro, terbaring lumpuh di atas tempat tidur saat dikunjungi Kompas.com. Selasa (4/8/2020). ((KOMPAS.com/Hamim))

Saat Kompas.com datang bertamu ke rumahnya, melihat Arga yang terbaring seperti memberikan isyarat menyapa dengan berusaha keras menggerak-gerakkan anggota tubuhnya yang kaku.

Di atas ranjang tempat Arga terbaring, tampak sejumlah botol minuman larutan penyegar yang masih terisi air di sekelilingnya untuk persediaan minum, serta toples berisi uang pemberian dari orang.

Suharto, orangtua Arga mengatakan, kelumpuhan yang mendera anak semata wayangnya itu sudah diketahui sejak masih balita di usia sekitar 7 bulan.

"Arga usianya sudah tujuh bulan tapi kok belum bisa tengkurap, gerakan tubuhnya juga kurang aktif layaknya bayi normal pada umumnya,'' kata Suharto, kepada Kompas.com, Selasa (4/8/2020).

Menyadari ada keganjilan terhadap pertumbuhan bayi Arga, Suharto lantas bergegas memeriksakan Arga ke dokter spesialis anak di Kota Bojonegoro.

Setelah dilakukan pemeriksaan medis termasuk melakukan foto scan atau rontgen pada tubuh Arga, hasilnya ternyata di dalam batang otak Arga terdapat cairan air yang menganggu sarafnya.

Pada saat itu juga dokter menyarankan untuk dilakukan tindakan operasi terhadap bayi Arga.

Namun, biaya operasi yang amat mahal dan keterbatasan ekonomi membuat bayi Arga batal mendapatkan pengobatan secara medis.

"Waktu itu, biaya operasi ditaksir sekitar Rp 2 jutaan, tapi enggak punya duit, ya udah dirawat semampunya aja," terang dia.

Sejak saat itu, Suharto bersama istrinya Supriyatin hanya bisa pasrah merawat Arga tanpa mendapatkan pengobatan medis untuk kesembuhan bayi Arga.

Beban merawat Arga semakin berat dirasakan oleh Suharto, semenjak istrinya, Supriyatin, meninggal dunia pada tahun 2010 silam, akibat penyakit lambung yang diderita sejak lama.

Suharto harus merawat Arga yang telah tumbuh besar sendirian tanpa bantuan sang istri yang mendampinginya.

Ilustrasi bayi (fox5dc.com)

Di tengah keterbatasan ekonomi, Suharto berusaha sekuat tenaga menyambung hidup dan merawat Arga dengan baik dengan bekerja menjadi pemulung setiap hari.

Kondisi itu memaksa Suharto tidak bisa bepergian jauh dari rumahnya.

Sebab, setiap hari dan setiap saat, harus merawat Arga seperti menyuapi makan dan minum dikala lapar maupun haus.

"Cari rongsokannya ya paling sehari di sekitar sini saja sudah pulang, soalnya ada tanggungan merawat ini loh," kata Suharto, sambil mengelus kepala Arga.

Terkadang juga uang yang diperolehnya dari hasil mencari rongsokan dibagi dengan tetangga yang membantu menjaga Arga, selama Suharto bekerja mencari barang bekas atau rongsokan.

"Kalau dapat Rp 20.000 ya dibagi Rp 10.000, kalau dapatnya Rp 50.000 ya omzet paruhnya untuk yang jaga Arga," terang Suharto,

Arga Wahyu Pratama, sejatinya adalah anak angkat pasangan Suharto dan Supriyatin yang diadopsi dari ibu kandungnya bernama Kasmi, asal Kecamatan Montong, Kabupaten Tuban, yang masih kerabat dari Supriyatin.

Kala itu, pasangan Suharto dan Supriyatin bersepakat untuk mengadopsi anak Kasmi, lantaran puluhan tahun membina rumah tangga belum juga kunjung dikaruniai buah hati.

Keberadaan Arga yang diadopsi dan diasuhnya sejak masih bayi adalah permata yang diharapkan bagi pasangan Suharto dan Supriyatin.

Takdir berkata lain, bayi yang telah diadopsi dari orangtua kandungnya yang diberi nama Arga Wahyu Pratama tersebut divonis sakit akibat adanya cairan yang masuk di dalam otaknya.

Meski telah divonis sakit oleh dokter dan menderita kelumpuhan sejak bayi, Suharto bersama istri tetap merawatnya hingga tumbuh dewasa dengan penuh kasih sayang.

"Dulu bersama istriku sudah komitmen untuk merawat Arga apapun kondisinya, dan sekarang sudah berkumis mas gini," ungkapnya.

Beban merawat Arga yang menderita kelumpuhan mulai bertambah apalagi Arga saat ini sudah tumbuh besar dan beranjak dewasa diusianya yang menginjak 20 tahun.

Kini, Suharto mengaku khawatir seiring berjalannya waktu usianya yang terus bertambah tua dan tenaganya yang terus berkurang tak mampu merawat Arga dengan baik.

"Kadang ya jadi kepikiran, siapa yang mau merawat Arga seterusnya, sedangkan saya semakin lama semakin tua, tenaga juga berkurang," tutur dia.

Pernah sekitar 40 hari sepeninggal istrinya, Suharto sempat hendak menyerahkan Arga kepada ibu kandungnya agar mendapat perawatan dan kasih sayang ibu dengan baik.

Kenyataannya tidak seperti yang dibayangkan, ibu kandung Arga justru menghilang tidak ada kontak dan komunikasi sama sekali.

"Keberadaannya ibunya enggak tahu, sudah tidak ada kabarnya lagi, komunikasi juga tidak pernah," ujar dia.

Artikel ini sudah tayang di Kompas.com dengan judul Derita Arga, lumpuh Selama 20 tahun, Dirawat pemulung Sejak Bayi

Artikel Asli