Kisah Pesugihan Dupa untuk Riasan

kumparan Dipublikasikan 11.44, 02/07 • Pesugihan
rootpretty.com

Seperti kebanyakan gadis di umurnya, Larasati juga hobi mengandrungi make up. Apalagi dirinya kini diterima di universitas terbaik di Indonesia. Ia ingin tampil cantik dan beken dikalangan teman-temannya. Sepulang kuliah, ia dan kawan-kawan satu gengnya akan pergi ke pusat kosmetik untuk membeli produk make up terbaru.

Adalah Dinda, Bunga, dan Indi yang menjadi kawan Larasati. Pertemanan mereka dimulai sejak masa pengenalan mahaswa baru. Mereka berempat langsung merasa klop dan memutuskan untuk berteman bersama. Hanya Larasati yang asli Yogyakarta, Larasati pasti menjadi si penunjuk arah bagi mereka bertiga ketika berpergian bersama.

Tak ada yang tak kenal dengan geng tersebut. Sebagai maba (mahasiswa baru) gengnya sudah dikenal hingga ke mahasiwa angkatan paling tua sekalipun. Terdiri dari gadis-gadis cantik tajir yang sangat gaul menyita perhatian seisi kampus.

Keempatnya memiliki kesukaan yang sama, yakni suka make up. Mereka suka berbagi tips dan trik make up yang benar. Diantara keempatnya, Larasati menjadi yang paling ambisius dalam karya dandannya. Ia bermimpi memiliki usaha make up artis terkemuka seantero kota.

healthyblab.com

Untuk meraih mimpinya, Larasati pun sering mengikuti pelatihan dandan yang diadakan oleh perias professional. Ia juga membuka jasa dandan kecil-kecilan. Mayoritas pelanggannya adalah teman-teman kampusnya sendiri. Ia merasa telah mendandani banyak orang, tetapi ia tak memiliki pelanggan tetap. Ia keheranan sendiri. Padahal biaya jasa yang ia patok juga standar, tidaklah mahal.

Usut punya usut, ternyata kemampuan dandan Larasati tidaklah teralu bagus. Banyak pelanggan yang kecewa setelah menggunakan jasanya. Menurut mereka alis hasil karya larasati berbentuk aneh dan tidak simetris. Memiliki alis yang tak simetris membuat mereka malu. Para pelanggannya kapok tak ingin menggunakan jasa Larasati lagi.

Larasati tak mengerti apa yang salah dengan alis buatannya. Menurutnya alis buatannya baik-baik saja. Ia memang memiliki silinder dimatanya, tetapi ia berusaha untuk membuat alis yang sesimetris mungkin. Kegundahan hatinya ia lampiaskan dengan melamun di danau.

Kegelesiahan Larasati ditangkap sang penjaga danau. Ia heran mengapa gadis cantik itu sangat sering menghabiskan waktu sendirian di danau. Larasati juga tak kenal waktu ketika datang ke danau. Kadang pagi hari, kadang siang hari, bahkan juga sore menjelang malam, waktu yang tak baik untuk di alam terbuka.

“Kok sering ke sini kenapa mba? Pikirannya lagi penuh ya?” tanya Heru hati-hati.

“Iya pak, ini bisnisnya lagi sepi. Gak ada pelanggan sebulan terakhir” tuturnya.

“wahh kebetulan sekali, itu Simbah Pujo yang punya danau ini barusan rawuh. Coba saja mbak tanya beliau. Mbok bilih bisa bantu” katanya sembari menunjuk pendopo yang ada di bukit sebrang danau.

Larasati mengangguk sopan kepada Pak Heru. Ia kemudian melakukan apa yang direkomendasikan bapak tadi. Ia berjalan kecil mengikuti jalan setapak yang ada. Ia biasa saja, tak tahu harus berharap apa. Syukur kalau memang Simbah Pujo bisa membantu, kalau tidak juga tidak apa-apa.

Sekejap kemudian, Larasati ternyata sudah sampai di pendopo yang dimaksud. Di tengahnya terdapat seorang kakek yang duduk membelakanginya. Ia mengenakan pakaian serba putih lengkap dengan kopiah. Duduknya menyila dengan kedua tangan dipaha. Di depan Simbah Pujo terdapat lukisan pemandangan alam yang menggantung di dinding kayu. Larasati kemudian menyadari aroma wewangian. Aroma dupa yang menyeruak dari keempat sudut pedopo menyerbak tajam.

Mulanya ia ragu-ragu, tapi akhirnya Larasati membuka mulutnya. “Ekhmm… kulon nuwun Simbah…” katanya takut menggangu.

“Sebentar ya, kamu duduk di situ dulu” tutur Simbah tanpa bergeming.

Larasati pun mengikuti perkataan Simbah. Tak lama, Simbah kemudian membalikkan badannya dan bertanya kepada Larasati sembari tersenyum.

“Ada apa nak? Kata Pak Heru, kamu sedang gelisah ya?” tanya Simbah.

“Iya mbah, ini usaha saya engga laku” jawab Larasati singkat.

Larasati kemudian menceritakan usahanya yang tak laku lantaran alis buatanya kurang simetris. Simbah Pujo hanya mengangguk sesekali sembari tersenyum. Ia memahami apa yang dirasa anak gadis itu. Simbah Pujo pun menawarkan bantuannya.

Ia memberikan Larasati lima dupa yang ada di lemari pojok pendopo. Simbah menjelaskan bahwa dupa ini harus digunakan ketika Larasati mendandani pelanggannya. Dupa harus ditiupkan sebelum dan sesudah Larasati mendandani.

Larasati mangangguk. Ia menurut tetapi tetap tampak kebingung. Dengan ragu-ragu ia berkata.

“Matur nuwun mbah,..ii..ini saya harus bayar atau bagaimana ya?” tanyanya hati-hati.

Simbah Pujo pun terbahak. Kumisnya bergetar sembari badannya tergoncang.

“Enggak nak, kamu tidak perlu membayar saya, kamu cukup taburkan bunga di danau itu saja tiap jumat kliwon. Kamu harus ke sini jam 9 sampai jam 1 malam. Penghuni danau situ suka dengan bunga. Mereka juga suka melihat wajahmu yang cantik bak mawar merkah”

Larasati mengucapkan rasa terima kasihnya lagi.

**

Larasati memulai bisnisnya dengan gembira berkat bantuan Simbah Pujo. Ia membuka jasanya dengan diskon 50% untuk menarik pelanggan. Larasati pun menuruti anjuran Simbah Pujo. Sebelum mengoleskan primer. Ia meniupkan aroma dupa ke wajah pelanggannya. Para pelanggan pun tak curiga. Mereka tak terpikir perempuan modern seperti Larasati melakoni pesugihan. Mereka pikir itu adalah aroma terapi yang menjadi bagian dari ciri khas jasa make up nya.

Para pelanggannya takjub dengan hasil karya Larasati. Mereka jadi tampak jauh lebih cantik dari biasanya. Aura para pelanggannya pun jadi tampak lebih bahagia. Apalagi alisnya. Alis yang dulu dihujat, kini justru dicintai. Meskipun dalam pembuatan alis, Larasati tidak menggunakan teknik yang berbeda. Alias, sama saja.

Mujur memang dupa pemberian Simbah Pujo. Pelanggannya kembali datang untuk memakai jasanya. Dalam sebulan, Larasati sangat sibuk melayani para pelanggannya. Usahanya pun semakin berkembang. Bisnisnya tenar dengan ciri khas yang ia miliki. ‘Aroma Terapi Dupa’ yang membuat bisnis make up nya mengudara.

Larasati pun menepati janjinya. Saban jumat kliwon ia datang ke danau itu menaburkan bunga selama satu tahun. Ia tak sadar dinginnya angin malam menganggu kesehatanya.

Ditengah-tengah merias, Larasati tiba-tiba merasa panas di kepalanya. Seketika ia jatuh pingsan. Ketika dibawa ke rumah sakit Larasati terkejut. Dokter menemukan adanya tumor otak ganas berbentuk bunga yang ada di kepalanya. Larasati pun divonis tak akan hidup lama lagi.

Tulisan ini merupakan rekayasa. Kesamaan nama dan tempat kejadian hanya kebetulan belaka.

Artikel Asli