Kisah Penggali Kubur Covid-19 di Jakarta, Kerja 15 Jam Sehari, Satu Makam Harus Jadi dalam 10 Menit

Tribun Style Dipublikasikan 23.33, 25/05 • Gigih Panggayuh Utomo
Foto yang diambil pada 6 Mei 2020, memperlihatkan Junaidi Hakim, salah seorang penggali makam Pondok Ranggon, Jakarta Timur.

TRIBUNSTYLE.COM - Media asing soroti kisah para penggali makam jenazah Covid-19 di Jakarta yang harus kerja berat dengan ekstra cepat karena banyaknya jenazah pasien virus corona yang harus segera dimakamkan.

Adapun media besar tersebut adalah South China Morning Post, yang beritanya menyadur dari media Prancis, AFP.

Seorang penggali kubur, Junaidi Hakim, harus bekerja keras bersama rekan-rekannya untuk menyelesaikan pemakaman dengan cepat.

Mereka harus segera menyelesaikan pemakaman jenazah dalam kurun waktu kurang dari 10 menit.

Begitu peti diturunkan dari ambulans, jenazah harus segera dikuburkan dengan cepat.

Hal itu bertujuan untuk mengurangi risiko kemungkinan penularan.

Para penggali kubur di pemakaman Pondok Ranggon, Jakarta. Foto diambil pada 6 Mei 2020. (AFP/Adek Berry)

"Bagian yang paling mengkhawatirkan adalah ketika kita menurunkan peti mati karena kita harus menyentuhnya," kata Junaidi (42).

Penggali kubur lain, Minar, mengaku belum pernah bekerja seberat itu sebelumnya.

"Saya telah menggali kuburan selama 33 tahun sekarang dan saya belum pernah selelah ini sebelumnya," ungkap Minar (54).

"Ini mungkin ujian dari Tuhan," imbuhya.

Bekerja 15 jam Sehari

Ada sekitar 50 penggali kubur di Pondok Ranggon, salah satu pemakaman khusus bagi korban Covid-19 di Jakarta.

Mereka bekerja hingga 15 jam setiap hari dengan upah bulanan sekitar Rp 4,2 juta.

Foto yang diambil pada 6 Mei 2020, menunjukkan penggali kubur membawa peti mati korban virus corona Covid-19 di pemakaman Pondok Ranggon, Jakarta. (AFP/Adek Berry)

Setidaknya 20 makam baru harus selesai setiap hari, ditandai dengan tiang kayu putih yang mencantumkan nama, tanggal lahir, dan hari meninggal jenazah tersebut.

Dikisahkan para penggali makam harus bekerja di bawah teriknya sinar matahari, dikelilingi keluarga korban yang tidak bisa berlama-lama menghadiri pemakaman.

Tantangan semakin bertambah ketika bulan Ramadhan, di mana banyak orang Indonesia, negara dengan mayoritas muslim terbesar di dunia, tidak makan dan minum di siang hari.

Seorang penggali kibir lain, Naman Suherman, mengatakan ia mampu mengatasi rasa haus dan lapar ketika sedang bertugas.

Foto diambil pada 6 Mei 2020, menunjukkan seorang penggali kubur sedang mempersiapkan sebuah kuburan untuk para korban virus corona Covid-19 di pemakaman Pondok Ranggon, Jakarta. (AFP/Adek Berry)

Ia berkeyakinan bahwa yang dilakukannya adalah sesuatu yang "mulia".

"Apa yang memperkuat iman saya pada pekerjaan ini adalah mengetahui bahwa saya dapat membantu membawa almarhum ke tempat peristirahatan terakhir mereka," kata penggali kubur berusia 55 tahun itu.

Beban Kerja yang Berat

Menurut pemberitaan South China Morning Post, setidaknya 2.107 orang telah dimakamkan di bawah protokol keamanan Covid-19 di Jakarta.

Kota-kota lain juga telah melihat angka pemakaman yang luar biasa tinggi dalam beberapa bulan terakhir, menunjukkan lebih banyak korban.

Basis data sukarela KawalCovid-19, yang diciptakan oleh para profesional kesehatan dan teknologi, memperkirakan ada lebih dari 3.000 kematian akibat virus di hanya 16 dari 34 provinsi.

Tidak mengherankan melihat beban kerja para penggali kubur di pemakaman Pondok Ranggon yang melambung.

Foto yang diambil pada 6 Mei 2020, memperlihatkan Minar, salah seorang penggali makam Pondok Ranggon, Jakarta Timur, sedang beristirahat. (AFP/Adek Berry)

Kendati demikian, sebagian besar penggali tidak tahu banyak soal risiko.

Pada awalnya mengubur korban virus tanpa alat pelindung.

"Awalnya, dari kita tidak ada yang tahu soal virus corona," ungkap Minar.

Ia mengaku baru tahu setelah menyaksikan pemberitaan di televisi mengenai penyakit menular itu.

“Hari berikutnya saya bergegas membeli masker wajah saya sendiri. Beberapa hari kemudian kami dapat alat pelindung diri,” tambahnya.

Sementara itu, Junaidi Hakim menceritakan pengalamannya dijauhi tetangga.

"Meski mereka tidak mengatakannya langsung, tapi saya bisa merasakan mereka menjaga jarak," kata Junaidi.

"Seakan-akan mereka takut dengan saya," imbuhnya.

(TribunStyle.com/Gigih Panggayuh)

Artikel Asli