Kisah Nyata: Ada Hantu di Kantorku

kumparan Dipublikasikan 04.12, 02/07/2020 • PondokMisteri
Ilustrasi kantor. Foto: Benjamin Child/Unsplash

Hari sabtu sudah menjadi agenda wajib aku bertemu dengan Mas Bima. Biasanya di akhir pekan seperti ini kami akan menghabiskan waktu bersama, entah sekadar nonton bioskop, pergi makan, atau duduk di rumah sambil bermain game.

Namun hari ini sedikit berbeda, di tengah kencan kami, Mas Bima mendapatkan pesan dari atasannya untuk datang ke kantor saat itu juga. Sehingga aku yang sedang bersamanya pun, terpaksa ikut pergi.

Sebenarnya aku tak masalah bila di akhir pekan seperti ini menemani Mas Bima ke kantor, mengingat kesibukan kami membuat waktu bertemu terbatas. Namun banyak teman kantor Mas Bima yang bercerita sering mengalami gangguan makhluk gaib selama lembur, membuatku sedikit was-was.

Eits, jangan berpikir tempat kerja Mas Bima di sebuah gedung tua yang usang, Kantor Mas Bima justru berada di sebuah gedung mewah bersampingan dengan Mal dan Hotel bintang 5, sehingga tak ada sedikitpun kesan seram.

Tetapi banyak teman Mas Bima yang lembur sering mengalami kejadian mistis, dari suara tawa, hingga saklar lampu dimainkan. Entah benar atau tidak, namun bagiku yang penakut cerita tersebut cukup mengerikan apabila dialami sendiri.

“Tenang aja.” Hibur Mas Bima ketika kami sampai di depan kantornya. “Ini masih siang, mana ada han…”

“Iya Mas. Udah nggak usah disebut itu nama terlarang.” Potongku.

“Ya udah yuk.” Ajaknya.

Aku mengangguk mengikuti Mas Bima.

Kantor Mas Bima berada di lantai 6, biasanya di setiap lantai ada 2 hingga 3 perusahaan. Namun karena memiliki pegawai yang banyak, maka perusahaan Mas Bima memutuskan menyewa satu lantai sendirian untuk kantornya.

Alhasil di hari Sabtu ini, hanya ada kami berdua di ruangan seluas itu. Suasana seram tak begitu terasa, terutama di ruangan Mas Bima yang langsung berhadapan dengan kaca. Cahaya Matahari yang terik membuat semua kesan seram dan menakutkan lenyap.

***

Aku dan Mas Bima sama-sama menghadap ke arah pintu. Kemudian kami saling menatap dan kembali dengan aktivitas masing-masing.

Sebenarnya aku ingin langsung bercerita kepada Mas Bima bahwa mendengan suara pintu terbuka, disusul dengan langkah kaki mendekat kemari. Namun aku terlalu takut, karena katanya ‘mereka’ akan tahu saat dibicarakan.

“Hhh.” Keluhku dalam hati. Lebih baik aku diam dan pura-pura tak tahu.

Bosan bermain ponsel, aku mengamati sekeliling. Tepat di seberang gedung perkantoran ini merupakan parkiran. Sejak tadi sama sekali tak ada henti-hentinya mobil lalu lalang, menunjukkan banyaknya pengunjung Mal di akhir pekan.

Deg! Jantungku seolah berhenti berdetak. Aku melihat sebuah siluet hitam tepat di samping pintu masuk ruangan Mas Bima yang dibiarkan terbuka. Siluet tersebut tak begitu jelas, tapi aku tahu bahwa itu adalah ‘makhluk’ asing.

Aku menundukkan pelan kepalaku, berusaha agar tak terlihat jelas mengetahui kehadirannya. “Hhh.” “Hhh.” “Hhh.” Aku mengambil nafas pelan, untuk menenangkan jantungku yang masih berdegub kencang.

“Rin kenapa?”

“Anu Mas.” Kataku terpotong bingung membuat alasan apa. “Bosan aja, Hehehe.” Lanjutku tertawa menutupi kegugupan hatiku yang masih bisa kurasakan.

“Sabar ya ini tinggal tunggu konfirmasi email aja, kalau udah oke bisa langsung cabut kita.”

Aku mengangguk.

Belum usai penampakan siluet hitam mengganggu pikiranku, lagi-lagi suara pintu terbuka dan langkah kaki mendekat kembali terdengar. Entah dengar atau sengaja mengabaikan, Mas Bima tetap sibuk dengan layar komputernya.

Aku tetap duduk dan tak bergeming sekalipun mendengar suara itu berulang kali. Rasanya terlalu takut untuk memastikan dan beranjak dari kursi.

“Ehm Mas.” Panggilku. “Nyalain lampu dong. Gelap.”

Mas Bima menatapku bingung. Sebenarnya sudah jelas bila dia bingung, karena ini masih pukul 3 sore, bahkan matahari masih bersinar terik. Namun melihat raut wajahku, seolah Mas Bima paham dan memilih menyalakan lampu.

Hatiku terasa lebih tenang sejak lampu menyala. Tahu kan perasaan ketika nonton film horor, kamu bisa bernafas lega ketika hari menjelang siang, seolah digambarkan bahwa saat terang hantu tak mungkin muncul.

Aku kembali mencoret-coret kertas di hadapanku. Sampai dikagetkan dengan sesuatu yang menggelinding dari bawah kakiku. Tanpa suara dan rupa jelas, bayangan hitam pekat serta bulat menggelinding begitu saja di bawah kakiku.

Aku mengambil napas, membuangnya, mengambil napas, membuangnya. Namun seolah sia-sia, jantungku masih berdetak kencang, dan perasaanku takut masih menyelimuti hatiku.

“Karin.” Panggil Mas Bima. “Turun yuk.”

Tanpa Ba Bi Bu aku segera mengambil tasku dan segera menggandeng Mas Bima berjalan cepat keluar dari ruangannya.

***

“Haaaah.” Aku bernafas lega sesampainya di Mal. Aku masih ingat dengan jelas perasaan mencekam yang mengangguku semenjak tadi, bahkan di ruangan dingin yang hanya ada kami berdua, keringatku tak berhenti mengucur.

“Oh ya Mas Emailnya udah dibales? Kok tiba-tiba ajak turun?” Tanyaku menyadari, bahwa Mas Bima mendadak mengajak turun.

“Belum.”

“Nah kok ajak turun?” Tanyaku penasaran, walau sebenarnya sih senang-senang aja karena akhirnya bisa berada dikeramaian.

“Mas tadi.” Jawabnya terpotong. “Lihat ada yang ngintip.” Lanjutnya pelan.

“Di mana Mas?” Kataku terkejut, karena Mas Bima juga mengalami gangguan sama denganku.

“Pintu. Nggak ada rupanya, hanya bayangan hitam. Anehnya bentuknya itu Oval, kayak kepala ngintip tapi hitam.”

Aku terdiam, terkejut. Apa yang dilihat Mas Bima, sama dengan sesuatu di bawah kakiku tadi. “Jangan-jangan penunggu kantor Mas, karena tadi aku juga lihat.”

“Kamu juga lihat?”

Aku mengangguk. “Tapi nggak berani ngomong, takut.”

Mas Bima tertawa. “Wah gila banget lho ini masih sore, bahkan matahari aja masih terang banget.”

“Mas juga denger suara pintu dibuka dan langkah kaki?”

“Dengar, tapi yang kedua dan selanjutnya sengaja Mas diemin.”

Aku mengangguk paham.

“Padahal selama ini Mas masih ragu sama cerita anak-anak kantor.” Lanjutnya tertawa. “Bahkan si Hadi tangannya pernah dicakar. Mas mikirnya rasional aja, kalau dia nggak sengaja kegaruk. Tapi setelah mengalami sendiri, bahkan di siang bolong gini, Mas jadi percaya mereka benaran ada.”

Aku tersenyum, benar kata Mas Bima. Bila kita tidak mengalami sendiri, mungkin cerita-cerita seperti ini hanya seperti bualan, tapi percayalah bahwa kita selalu hidup berdampingan dengan mereka.

Artikel Asli