Kisah Mahasiswa Unair yang 'Hobi' Jadi Relawan Bencana

Medcom.id Dipublikasikan 02.09, 12/08 • https://www.medcom.id
Wahyu bersama pasien Covid-19 yang telah sembuh di RS Lapangan Indrapura. Foto:  Dok. Pribadi

Jakarta: “Jadilah alasan untuk orang lain tersenyum, kebaikan bukanlah kelemahan, tapi kekuatan luar biasa dalam hati yang tulus. Buatlah Tuhanmu tersenyum atas kebaikan yang Kamu lakukan”. 

Untaian kalimat itu yang selalu menjadi prinsip hidup Wahyu Setyo Putro, mahasiswa Universitas Airlangga yang 'hobi' menjadi relawan bencana.  Penampilan Wahyu khas milenial, mengenakan kemeja putih, celana panjang, dan sneaker saat ditemui di Rumah Sakit Lapangan Indrapura Surabaya.

Ia merupakan mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia (Sasindo) Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (UNAIR).  Mahasiswa angkatan 2017 ini mengaku banyak melatih kepekaannya pada hal-hal berbau sosial dan kemanusiaan sejak menjadi Ksatria Airlangga (sebutan untuk mahasiswa Unair). 

Sejak itu pula, muncul keinginan Wahyu untuk memberi manfaat bagi sekitarnya dengan membantu sesama.  “Tahun 2018 Saya pertama kali terjun menjadi relawan di gempa dan tsunami Palu. Itu adalah momen yang sangat berkesan. Selanjutnya saya mulai aktif menjadi relawan bencana hingga pencarian orang hilang di Gunung Arjuna,” ungkap Wahyu Setyo Putro dikutip dari laman Unair, Rabu, 12 Agustus 2020.

Sedari Juni 2020, Rumah Sakit Terapung Ksatria Airlangga (RSTKA) merupakan tempat Wahyu berkembang dan menuangkan seluruh energi muda untuk membantu sesama di kawasan 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar). Bagi Wahyu, memilih menjadi relawan merupakan bagian dari histori hidupnya.

 

 

Namun, tak dapat dimungkiri bahwa jiwa sosialnya yang tinggi itu sempat mengganggu urusan akademisnya di kampus.  Ia pernah ketinggala ujian semester, karena terlalu asyik menjadi relawan bencana.

Alhamdulillah diberi kesempatan ujian susulan, Saya yakin itu berkah dari Allah atas kegiatan yang Saya ikuti,” ujar mahasiswa asal Rembang ini.

Diketahui, saat ini Wahyu menjadi relawan di RS Lapangan Indrapura Surabaya. Ia mendapat amanat untuk menjadi wakil koordinator pendamping pasien.

Lalu, pada April 2020, ia bersama teman-temannya mendirikan kelompok donasi bernama Ksatria Swadaya Pangan yang ditujukan untuk mahasiswa perantau yang terjebak di Surabaya.

“Imbas pandemi ini dirasakan oleh semua orang, mulai kehilangan pekerjaan, usaha yang merugi, hingga kehilangan keluarga karena covid-19. Mirisnya beredarnya hoaks juga berakibat pada stigmatisasi masyarakat pada penyintas covid-19 dan tenaga medis,” jelas pemuda 21 tahun itu.

Dari permasalahan tersebut, Wahyu menyadari bahwa edukasi dan pendampingan untuk masyarakat sangat penting. Sebagai mahasiswa Sasindo, ia menerapkan ilmu retorikanya untuk mengedukasi dan mempersuasi pasien hingga masyarakat mau melepaskan stigma yang ada.

 

 

Pengalaman paling berkesan selama menjadi relawan, kata Wahyu, ia dapatkan ketika berada di Lombok, Nusa Tenggara Barat pascagempa. Ia melihat trauma pada anak-anak yang ditemui, hal itu berakibat pada ketakutan dan kepanikan yang tampak jelas di wajah mereka.

Menurut keterangannya, ketika hendak pulang ia disuguhi tangisan anak-anak yang membuatnya tidak tega. Alhasil, Wahyu memutuskan untuk me-reschedule tiketnya dan mendampingi anak-anak tersebut hingga traumanya reda.

“Saat itu luar biasa menakutkan, karena terjadi gempa susulan yang cukup lama hingga listrik padam,” terang Wahyu yang hobi mendaki gunung itu.

Bagi Wahyu, menjadi relawan bukan alasan untuk melupakan perkuliahan, justru menjadi ajang untuk mengaplikasikan ilmu selama kuliah dengan terjun pada masyarakat. “Kebaikan itu berbeda dengan virus, ketika tertular maka kita harus menularkannya supaya menjadi benih yang tumbuh subur dan dapat kita tuai kelak,” ucap Wahyu.

Artikel Asli