Kisah Kumpulan Pose Telanjang Dada Istri Sukarno yang Diberedel Negara: Madame D Syuga

Inibaru.id Dipublikasikan 11.00, 25/10 • inibaru.id

Inibaru.id – Kamu pernah membayangkan ada istri presiden negara ini berpose telanjang dada? Carilah Madame D Syuga! Di  buku tersebut, istri Presiden Sukarno melakukannya. Perempuan yang dimaksud adalah Naoko Nemoto atau lebih dikenal sebagai Ratna Sari Dewi.

Madame D Syuga berarti "unggul dan molek". Dewi memang terkenal akan kecantikannya. Kabarnya, karena itulah Sang Proklamator RI tergila-gila pada perempuan Jepang tersebut.

Buku itu dirancang elegan dengan kertas kualitas terbaik berukuran 23 cm x 35 cm. Ada 6 lembar halaman yang digunakan sebagai kata pengantar. Sisanya, foto-foto Ratna Sari Dewi dalam berbagai pose.

Penerbit buku ini adalah Scholar Publisher's Inc, Tokyo. Sebanyak 150 ribu eksemplar dicetak pada edisi pertama.

Jelas saja peluncuran buku itu sempat meramaikan media massa Tokyo. Pasalnya, yang menjadi model bukan perempuan dari kalangan biasa. Dulu, dia sering dipanggil Madame Sukarno. Dengan buku itu, Dewi disebut membuat sensasi besar.

Sebuah koran di Jepang bahkan melukiskan buku itu dengan judul bombastis "kejutan terbesar abad ini". Sebuah majalah bahkan menjadikannya laporan utama berjudul "Telanjang pada Usia 53".

Apakah di Indonesia Syuga jadi berita besar? Tentu saja! Namun, Dewi berdalih, dia dan Sukarno senang berkesenian.

“Kami sering bergantian melukis. Saya melukis Bapak (Sukarno) dan Bapak melukis saya. Oleh karena itu, saya yakin, bila Bapak masih ada, dia pasti akan menikmati Syuga sebagai karya seni kelas tinggi," ujar Dewi dikutip dari Harian Kompas edisi 12 November 1993.

Dilarang Beredar

Meski peluncuran buku itu disertai embel-embel karya seni, Syuga dilarang beredar tiga pekan usai diluncurkan. November 1993, Kejaksaan Agung mengeluarkan larangan peredarannya. Buku tersebut dianggap mengandung pornografi dan dinilai bisa mencemarkan nama Presiden Sukarno.

“Dia istri Bung Karno, itu fakta. Dia tak mungkin melepaskan atribut sebagai janda mendiang Presiden Sukarno,” kata Suparman, juru bicara Kejaksaan Agung.

Clearing House Kejaksaan Agung, yang beranggotakan tim Kejaksaan, polisi, Departemen Penerangan, dan Departemen Pendidikan Nasional, cuma butuh waktu seminggu, jauh lebih cepat dari waktu biasanya.

“Karena cukup dilihat saja,” kata Suparman, “makanya bisa selesai seminggu.”

Dewi juga sempat datang ke Jakarta nggak lama setelah surat tersebut keluar. Dia berdalih bahwa bukunya hanya diperuntukkan bagi kaum perempuan yang menyukai keindahan, bukan buat kaum lelaki.

Dewi juga keberatan jika bukunya dikaitkan dengan mendiang suaminya. Dia menegaskan buku tersebut menjadi tanggung jawab pribadinya.

“Ini ekspresi seni. Demi keindahan, apa pun diizinkan. Saya kira orang yang mencintai seni tak akan mencela buku saya,” kata Ratna Sari Dewi kepada Tempo, kala itu.

Dewi mengaku memilih semua orang yang terlibat dengan saksama. Penerbit, fotografer, perias wajah, bahkan asistennya, dia pilih hanya yang profesional.

Hal ini tampak pada angle-angle yang diambil sang fotografer, Hideki Fujii. Dia menjauhi kesan porno. Dia mengarahkan Dewi duduk di atas sofa tenun ikat, beralas sarung Bali merah dengan menghadap lukisan perang Ramayana. 

Jelas, Dewi nggak mau jika buku tersebut dibandingkan dengan foto-foto di majalah Playboy dan Penthouse. Kalau menurutmu, berlebihan nggak sih kalau buku berbau body painting itu dilarang beredar, Millens? (detikX/IB21/E03)

Artikel Asli