Kisah Fuad, Suporter Timnas yang Dikeroyok Oknum Suporter Malaysia

kumparan Dipublikasikan 05.40, 22/11/2019 • Ferry Tri Adi Sasono
Polisi Malaysia berjaga didekat suporter Malaysia saat pertandingan Timnas Indonesia melawan Malaysia di Stadion Bukit Jalil, Malaysia. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Away day merupakan istilah lumrah bagi suporter yang mendukung langsung tim kesayangan bertandang. Memicu adrenalin, tak memandang risiko, sekaligus menunjukkan bentuk fanatisme.

Fuad paham konsekuensi yang diterima saat dirinya memutuskan mendukung Timnas Indonesia melawan Timnas Malaysia di Stadion Bukit Jalil, Kuala Lumpur.

Rivalitas. Begitu kata yang selalu terlintas jika bicara suporter Indonesia dan Malaysia.

Tentunya, ancaman benturan dengan pendukung Malaysia ada di kepala Fuad. Atas nama loyalitas, Fuad tak acuh. Itulah tantangannya.

Pendukung Timnas Indonesia dari bali di dalam stadion jelang pertandingan Timnas Indonesia melawan Timnas Malaysia di Stadion Bukit Jalil, Malaysia. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Senin pagi (18/11/2019), Fuad mantap bertolak ke Malaysia bersama seorang temannya. Ia berangkat terpisah dengan rombongan suporter Indonesia lain.

Tak ada ancaman apa pun begitu Fuad menginjakkan kaki di Negeri Jiran.

"Sampai sana tidak masalah. Saya naik angkutan umum dari bandara menuju hotel--tempat menginap dan berkumpul suporter Indonesia. Senin siang sampai sore juga sempat jalan-jalan di KL [Kuala Lumpur]. Aman, kok," ujar Fuad kepada kumparanBOLA.

Pikir Fuad, sampai hari pertandingan, Selasa (19/11/2019), tak akan ada petaka yang menimpanya. Namun, kumparanBOLA yang menemui rombongan suporter Indonesia saat hari laga mendengar kabar tak mengenakkan.

"Semalam ada dua orang pendukung Indonesia yang dipukuli suporter Malaysia, Bang," kata salah seorang suporter Indonesia, Said, di Stadion Bukit Jalil.

Berita itu masih simpang siur. Tak ada yang bisa dikonfirmasi kumparanBOLA kala itu.

Beruntung, kumparanBOLA bertemu Fuad di Bandara Internasional Kuala Lumpur, Rabu (20/11/2019), saat hendak pulang ke Jakarta. Jam penerbangan dan pesawat yang ditumpangi Fuad sama dengankumparanBOLA.

Ternyata, ia adalah korban yang dimaksud Said. kumparanBOLA menggali kronologi kejadian dari Fuad.

Fuad tentu tak menyangka away days kali ini berujung malang baginya. Risiko bentrok suporter sudah tertanam di benak Fuad. Hanya, tak ada dalam bayangannya jika dirinya bakal dikeroyok sampai dirampok oleh suporter tuan rumah.

Selasa dini hari (19/11/2019), Fuad dan beberapa rekan suporter Indonesia tengah mencari makan di kawasan Bukit Bintang. Selepas makan, mereka pulang terpisah lantaran hotel tempat menginap tidak searah. Fuad hanya berdua dengan seorang rekannya.

Polisi Malaysia berjaga didekat suporter Malaysia saat pertandingan Timnas Indonesia melawan Malaysia di Stadion Bukit Jalil, Malaysia. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Ketika hendak masuk ke dalam taksi online, teman Fuad ditarik keluar oleh beberapa orang tak dikenal. Sontak Fuad langsung menolong.

"Kejadiannya sekitar pukul 02.00 [waktu Malaysia]. Sempat ada debat mulut. Mereka menginterogasi kami dengan bertanya Indo atau Malay. Saya disuruh bicara Melayu,tapi enggak bisa. Kemudian ditanya indentitas--paspor dan KTP. Mereka langsung bilang: Indo anjing. Fix, mereka suporter Malaysia," kata Fuad.

Fuad dan rekannya dikeroyok hingga tak berdaya. Bahkan, tas berisi barang berharga Fuad, seperti paspor, dompet berisi uang dan identitas, serta telepon genggam dirampas.

Keduanya sudah tak bisa keluar dari situasi sulit itu. Fuad memang sempat merancang beberapa skenario melepaskan diri, tapi gagal.

"Pertama, melawan karena saya lihat mereka cuma berempat. Okelah, dua lawan empat. Ternyata, langsung datang bergerombol sekitar 15-20 orang. Sopir taksi online diam saja, begitu pun warga sekitar. Tak ada rasa kemanusiaan. Cara kedua, saya berniat meminta sopir taksionline jalan untuk memanggil teman suporter lain yang belum jauh, tapi tetap enggak bisa. Semua berlangsung cepat," tutur Fuad.

Pengeroyokan bak sudah direncanakan. Dalam gambaran Fuad, ada yang berperan sebagai eksekutor dan ada yang memantau kondisi sekitar.

"Kami dihajar habis. Cuma jadi tontonan warga sekitar yang masih ramai. Sudah habis dipukuli, semua barang berharga hilang. Sempat tarik-menarik tas, tapi akhirnya saya lepas. Mereka juga merampas jaket, topi, dan sepatu," ujar Fuad.

Meski babak belur, untung masih bisa diraih. Fuad dan temannya punya tenaga untuk sekadar kabur.

Mereka menuju Sungei Wang mencari tempat berlindung. Fuad masih sempat berpikir jernih bahwa ia punya teman di Sungei Wang.

"Coba evakuasi diri. Saya kenal ada teman dari Boys of Straits (salah satu kelompok suporter Johor Darul Takzim). Dia menolong dan membawa kami ke rumah sakit. Semua biaya ditanggung dia," kata Fuad.

Fuad dan rekannya bisa lepas dari maut. Mereka lantas dibantu Asosiasi Suporter Indonesia-Malaysia (ASIM) untuk mengurus kepulangan ke Indonesia.

Apa boleh buat, niat menonton Timnas pun pupus. Keduanya mesti mengurus paspor yang hilang dan segala macam kebutuhan untuk pulang.

"Tidak jadi menonton akhirnya. Hari pertandingan saya di rumah sakit dan kantor polisi untuk mengurus laporan kepolisian. ASIM lalu membantu kami ke KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia). Kami harus bikin Surat Perjalanan Laksana Paspor sebagai pengganti paspor yang hilang," jelas Fuad.

"Semua dipermudah, sih. Harusnya dikenai biaya 30 ringgit, tapi entah itu siapa yang bayar. Di Imigrasi Malaysia pun ditagih 100 ringgit untuk semacam special pass," ujar Fuad.

Urusan dokumen Fuad dan temannya kelar pada Rabu. Mereka menjadi saksi bagaimana perlakuan suporter Malaysia.

"Yang ingin saya sampaikan, tidak 100 persen suporter Malaysia begitu, sih. Yang menolong kami saja suporternya JDT. Ini yang mengeroyok dan merampok kami suporter yang dandanannya kasual gitu," kata Fuad.

Atas kejadian ini, publik meminta PSSI untuk segera melapor ke FIFA. Ketika kericuhan suporter pecah di Stadion Utama Gelora Bung Karno selepas laga Indonesia vs Malaysia (5/9/2019), FIFA langsung memberi hukuman kepada PSSI.

Artikel Asli