Kisah Bunuh Dirinya Penghuni Hotel Angker yang Digunakan untuk Pesugihan

kumparan Dipublikasikan 10.46, 09/08 • Pesugihan
Ilustrasi hotel angker. Foto: kumparan

Pak Sony memang dikenal karena kepiawaiannya menjalankan berbagai macam bisnis. Di umur yang baru menginjak 40-an tahun, ia telah menggeluti berbagai macam urusan mulai dari berinvestasi saham, membuka restoran yang punya banyak cabang, hingga berbisnis properti. Maka, dari situ, jadilah ia manusia yang tak cuma kaya biasa. Bahkan, karena kekayaannya, ia sudah pantas dipanggil konglomerat.

Namun, bulan-bulan ini, sebagaimana yang kita tahu, pandemi telah meluluhlantakkan segala hal, tak terkecuali banyak bisnis Pak Sony. Ia terancam bangkrut. Dari banyak bisnisnya yang telah ia jalankan selama beberapa tahun, hanya tersisa sebuah hotel yang berdiri di pusat kota.

Konon, Pak Sony hampir mengalami kebangkrutan karena ia terjerat utang dalam jumlah yang amat banyak. Maklum, bagi pebisnis sekaliber Pak Sony, utang adalah salah satu jalan terbaik untuk memastikan semua usahanya berjalan dengan baik.

Banyak macam usahanya mulai dari restoran, saham, dan beberapa usahanya di cabang yang lain, terpaksa dijual Pak Sony untuk melunasi utang-utang itu. Kini, satu-satunya pemasukan yang ia dapatkan hanyalah dari hotel itu.

Di kota, hotel milik Pak Sony termasuk yang berdiri paling megah. Ia banyak jadi incaran para artis, pebisnis, dan orang-orang kaya untuk menginap jika mereka berkunjung ke kota itu. Maklum, tarif menginap di hotel itu per malamnya dibanderol dengan harga yang tak mungkin orang biasa bisa membayar.

Namun, sudah menjadi rahasia umum, bahwa hotel itu dulu dibangun di atas kuburan yang digusur paksa oleh proyek besar yang diadakan Pak Sony. Sebelum berdiri, konflik sempat menjadi amat tegang antara para pelaksana proyek dengan warga sekitar. Namun, karena yang menang dan kuat adalah selalu mereka yang punya uang, Pak Sony dan kroni-kroninya akhirnya memenangi sengketa itu.

Mengetahui bahwa hotel itulah satu-satunya sumber pemasukan bagi pundi-pundi keuangannya dan keluarga, Pak Sony betul-betul mencari cara untuk bisa mengembalikan kondisi ekonominya seperti sedia kala. Ia mendatangi beberapa kolega hingga saudara, meminta saran dan masukan untuk keluar dari masalah yang membelenggunya.

Pada suatu hari, ia bertemu dengan salah seorang kolega bisnisnya yang dulu ikut membantu Pak Sony mendirikan hotel itu. Ia juga orang kaya. Dan, mendengar cerita Pak Sony, ia mengusulkan suatu cara yang tak biasa.

“Kamu udah tahu, hotel yang kamu bangun itu berdiri di atas kuburan,” kata orang itu.

“Lha iya, memang. Lalu kenapa?” tanya Pak Sony bingung.

“Di bangunan yang berdiri di tanah yang dulunya kuburan, selalu ada jin penunggu. Jin-jin itu bisa membuatmu kaya raya,” kata orang itu.

Memang, selama ini, hotel Pak Sony dikenal sebagai tempat yang angker. Makin lama, hotel itu makin jarang didatangi pengunjung karena mereka banyak mendapati pengalaman tak mengenakkan ketika berkunjung ke sana. Hal itu pun telah diketahui oleh banyak masyarakat yang hidup di sana.

Mendengar saran kawannya itu, Pak Sony hanya manggut-manggut. Ia memang mengandai-andai, apabila ia memakai pesugihan untuk mengembalikan keadaan ekonominya seperti dulu lagi, tak perlulah ia harus susah-susah untuk mengembangkan bisnis baru dengan segala tetek-bengeknya.

Maka benar. Akhirnya, Pak Sony pun setuju dengan saran temannya itu.

*

Suatu malam, bersama temannya dan seorang dukun yang telah dimintai tolong, Pak Sony melangsungkan sebuah ritual di salah satu kamar yang ada di hotel itu. Di dalam ruangan yang sejatinya adalah sebuah hotel mewah, terdapat banyak macam sesajen yang terdiri dari air kembang tujuh rupa, dupa yang dibakar, bebek rebus satu ekor, dan beberapa ceruk tanah yang diambil dari salah satu kebun yang ada di hotel itu.

“Tanah ini sebenarnya adalah tanah liat kuburan. Bahan inilah yang paling bisa membuatmu kaya raya,” kata si dukun.

Setelah semuanya lengkap, dukun itu pun memulai ritual. Ia membacakan beberapa rapal mantra, memanggil jin penunggu hotel untuk meminta kekayaan guna memperbaiki kehidupan Pak Sony. Sementara di sisi lain, Pak Sony dan temannya hanya disuruh si dukun untuk berdiri dan menunggu di pojok ruangan.

Dalam sekejap, nuansa ruangan itu pun berubah 180 derajat. Di ruangan yang tadinya terasa dingin karena AC itu, sekonyong-konyong Pak Sony dan temannya merasa ada sebuah hawa panas yang masuk dan memenuhi ruang itu. Mereka kepanasan.

“Ini kenapa panas banget, Mbah???” tanya Pak Sony dan kawannya bingung.

“Mereka sudah berdatangan. Mereka bilang mau membantumu,” kata si dukun. ‘Mereka’ yang ia maksud tentulah adalah para jin.

Maka, setelah semuanya selesai, ketiganya pun pergi meninggalkan ruangan. Kepada Pak Sony, si dukun berkata bahwa dalam sekejap, hotel itu akan kian ramai didatangi pengunjung. Bahkan, dalam sehari, seluruh ruangannya bisa penuh.

Akan tetapi, di balik ramainya hotel itu, akan ada suatu hal yang tak beres terjadi. Sebuah konsekuensi atas pesugihan yang dilakukan oleh Pak Sony.

“Nanti, kamu akan tahu sendiri,” kata si dukun singkat.

*

Ilustrasi gantung diri. Foto: kumparan

Sehari setelah si dukun melakukan ritual, telah benar dan terbukti, hotel Pak Sony lantas dibanjiri pengunjung. Bahkan, ketika di hari biasa para pegawai hotel merasa kebingungan karena tak ada pekerjaan mendesak yang harus dilakukan, hari itu mereka benar-benar merasa kewalahan.

Namun, di hari itu pula, konsekuensi yang telah dikatakan si dukun pada Pak Sony terjadi.

Di malam harinya, yakni pukul 12 tengah malam, tepat sebagaimana waktu ketika si dukun melaksanakan ritual sehari lalu, seorang pengunjung mati gantung diri di salah satu ruangan hotel milik Pak Sony. Ruangan hotel itu, tentu saja, adalah ruangan yang sama dengan yang dipakai oleh si dukun melangsungkan ritual.

Banyak penghuni hotel panik. Meski amat ramai, hotel Pak Sony malam itu seperti dilingkupi ketakutan yang amat sangat. Pak Sony juga tak pernah menyangka, bahwa hanya untuk membuat hotelnya ramai dikunjungi saja, ia harus menghilangkan satu nyawa pengunjung yang datang ke sana.

Tak ada satupun orang yang mengetahui perilaku bejat Pak Sony dan temannya. Mereka berdua pun amat bingung dan ketakutan, berjanji untuk tak mengatakan rahasia itu kepada siapapun, meski mungkin suatu hari bakal ada sesuatu yang mengungkap itu semua.

Dan, mereka berdua tak pernah tahu, harus ada berapa nyawa lagi yang melayang untuk membuat hotel itu semakin ramai didatangi pengunjung.

Tulisan ini hanyalah rekayasa. Kesamaan nama dan kejadian hanyalah kebetulan belaka.

Artikel Asli