Kisah Ayah di Afganistan Perjuangkan Pendidikan 3 Anak Perempuan

Tempo.co Dipublikasikan 01.30, 08/12/2019 • Suci Sekarwati
Mia Khan setiap hari mengantar dan menunggui ketiga putrinya ke sekolah dengan sepeda motor demi pendidikan anak-anaknya. Sumber: Reporterly
Seorang ayah di Afganistan setiap hari mengantar 3 anak perempuannya ke sekolah menunggui mereka hingga sekolah bubar demi pendidikan.

TEMPO.CO, Jakarta - Mia Khan, warga Sharana di Afganistan, menuai pujian di media sosial setelah diketahui setiap hari dengan mengendarai motor sejauh 12 kilometer mengantarkan 3 anak perempuannya ke sekolah dan menunggunya di luar gedung berjam-jam sampai sekolah selesai.

Kisah ini diungkap ke publik oleh sebuah lembaga nirlaba Komite Swedish untuk Afganistan yang menceritakan kegiatan ini bagi Khan sudah menjadi hal rutin. Ketiga putri Khan bersekolah di Nooraniya, sebuah sekolah yang dikelola oleh lemabaga nirlaba itu.

This Pushtun father is a real hero ! Mia Khan takes his daughter 12km on his motorcycle to school daily and waits 4 hours till his daughter’s class ends. He’s uneducated himself and wants his daughter to be a doctor as there is none in their Village!
There is a hope ! @Malala pic.twitter.com/vPHzPvAipq

— Safi Ali (@SafiAli94) December 3, 2019

Khan menjelaskan, pendidikan putrinya adalah hal yang penting baginya. Sebab tidak ada dokter perempuan di desanya.

“Saya buta huruf dan hidup dengan upah harian. Akan tetapi, pendidikan putri-putri saya sangat berharga. Tidak ada dokter perempuan di area tempat kami tinggal. Ini adalah keinginan terbesar saya untuk mendidik putri-putri saya setara dengan anak laki-laki saya,” kata Khan, seperti dikutip dari ndtv.com.

Unggahan mengenai Khan dan putri-putrinya di Facebook, viral. Unggahan itu dihujani komentar positif dan pujian.

Rozi, satu dari tiga putri Khan, mengatakan dia sangat gembira bisa sekolah. Rozi sekarang duduk dibangku kelas enam. Dia menceritakan ayahnya atau sesekali abangnya mengantar dia dan dua saudara perempuan lainnya naik motor ke sekolah, menunggui mereka sampai sekolah bubar.

Artikel Asli