Kisah Anak Kuli Angkut Raih IPK 3,94 dari Unsoed, Rela Kerja Part Time hingga Orangtua Jual Ayam

Kompas.com Dipublikasikan 09.35, 10/12/2019 • Kontributor Banyumas, Fadlan Mukhtar Zain
KOMPAS.COM/FADLAN MUKHTAR ZAIN
Indri Suwarti mahasiswi Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Jawa Tengah, peraih IPK 3,94.

PURWOKERTO, KOMPAS.com - Indri Suwarti sama (22) sekali tidak menyangka bakal mengenyam pendidikan hingga bangku kuliah.

Faktor ekonomi menjadi kendala utama untuk menggapai impiannya sejak kecil itu.

Namun, berbekal tekad yang kuat dan dukungan dari gurunya di SMK, Indri akhirnya berhasil masuk Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Jawa Tengah melalui jalur Bidikmisi.

Dan perjuangannya selama empat tahun menyelesaikan kuliah, Selasa (10/12/2019), terbayar lunas dengan menjalani prosesi wisuda.

Indri meraih predikat cumlaude dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,94.

Baca juga: Dongkrak Inovasi Mahasiswa lewat Kompetisi Ide Bisnis

Indri, warga Desa Pejogol, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah ini mengaku, selama kuliah harus prihatin.

Uang saku dari oran tuanya yang hanya Rp 10.000 per hari hanya cukup untuk biaya transportasi.

"Uang tersebut saya pakai buat beli bensin, sehingga saat di kampus saya jarang sekali jajan, karena uangnya sudah habis. Yang penting bisa buat beli bensin daripada buat jajan," tutur Indri, Selasa.

Untuk memenuhi kebutuhan lain, Indri rela kerja part time. Berbekal pengalaman ketika duduk di bangku SMK Negeri 3 Purwokerto Jurusan Perhotelan, Indri bekerja di sebuah hotel sebagai waiters dan housekeeping pada akhir pekan.

"Kalau Sabtu dan Minggu atau hari libur saya kerja di hotel. Dulu waktu awal bayarannya Rp 40.000 per hari, terakhir kemarin sudah Rp 75.000 per hari. Kerjanya kadang sampai malam hari," kata Indri.

Indri mengaku harus melakukan pekerjaan itu untuk meringankan beban orangtua.

Ayahnya, Natun, hanya bekerja sebagai kuli bongkar muat truk pembawa pasir atau batu sedangkan ibunya, Toinah alias Sutarni menderita sakit epilepsi.

"Sehari penghasilannya Rp 60.000, sekarang malah jarang berangkat, karena truknya sering rusak, kadang pulang malam justru memperbaiki truk. Kalau musim hujan juga sungai banjir, jadi enggak berangkat," ujar Indri.

Baca juga: KBRI Kairo Beri Penghargaan 201 Mahasiswa Berprestasi Al Azhar

Di tengah kondisi seperti itu, orangtuanya terpaksa menjual beberapa ekor ayam peliharaan dan pisang yang tumbuh di pekarangan rumah untuk menutup biaya hidup dan kuliah Indri.

"Terkadang ketika uang Bidikmisi belum cair dan saya memerlukan uang untuk biaya kuliah, ayah saya sampai harus menjual ayamnya. Saya juga kadang kerja part time kalau akhir pekan atau liburan," kata Indri.

Namun berbagai kendala yang dihadapi, tak menyurutkan semangat Indri untuk menyelesaikan kuliah dengan prestasi yang memuaskan.

Indri mengisi waktu jeda kuliah di kampus untuk belajar materi yang baru diberikan dosen hari itu.

"Yang membuat saya semangat kuliah karena melihat susahnya orangtua bekerja untuk saya sejak kecil sampai sekarang. Jadi lebih semangat kuliah, saya nggak mau mengecewakan orang tua," ujar Indri.

Indri mengatakan, selepas lulus rencananya akan mengajar di sekolah. Impian untuk melanjutkan S2 terpaksa ditunda terlebih dahulu karena ingin mencari uang untuk menyekolahkan adiknya yang akan masuk SMK.

"Kemarin sudah daftar di beberapa sekolah, ingin kerja dulu, kalau sudah punya uang bisa sambil kuliah. Kuliah S2 ditunda dulu, karena ingin menyekolahkan adik saya juga," ujar Indri yang bercita-cita menjadi dosen ini.

Penulis: Kontributor Banyumas, Fadlan Mukhtar ZainEditor: Khairina

Artikel Asli