Kisah Anak Genderuwo, Tebo dan Wagini

Keepo.me Dipublikasikan 02.56, 05/04 • Muchamad Dikdik R. Aripianto

Warga menyangka mereka anak genderuwo. Benarkah?

Keberadaan makhluk gaib membuat manusia takut untuk ditinggal sendiri di rumah, meskipun itu adalah rumahnya sendiri. Hal tersebut bukan tanpa sebab, ada beberapa yang merasa diganggu oleh makhluk gaib seperti kesurupan hingga diperlihatkan bentuk menyeramkan oleh makhluk gaib.

Namun yang paling mengerikan dari semua fenomena gaib adalah ketika makhluk gaib dapat merubah bentuknya menyerupai orang terkasih dan datang mengunjungi kita. Penyamaran makhluk gaib tersebut bukan lagi sebagai ketakutan pada hati dan pikiran manusia saja.

Coba kita ingat sekitar tahun 1990-an kita mengetahui kisahnya Tebo dan tahun 2013-an kita mengenal kisahnya Wagini, bukan? Tentu bagi kita yang lahir tahun 90-an tidak lupa dengan berita yang heboh pada masanya itu.

Kisah Tebo dan Wagini yang lahir dengan kondisi fisik yang berbeda dengan manusia biasa menyita perhatian massa. Bukan hanya soal fisik, mengingat berita yang beredar bahwa mereka adalah anak genderuwo dari Jawa. Yuk, kita ingat dan cari tahu lebih lanjut kisah keduanya.

Baca Juga: Mitos Nyi Blorong, Panglima Cantik yang Bisa Bikin Orang Kaya Mendadak

boombastis.com
boombastis.com

TEBO

Tebo lahir di Jember tepatnya di desa Wuluhan dari seorang ibu yang bernama Nasikah. Semula ia diberi nama Imam Sayuti, namun satu di antara keluarganya mendapatnya wangsit soal penamaannya, alhasil ia dipanggil dengan nama Tebo.

Kisah Tebo bermula saat ia dipamerkan di sebuah wahana misteri pada tahun 1990-an. Menjadi miris, bukan? Warga dan orang-orang berbondong-bondong menyaksikan keberadaan Tebo dipameran tersebut.

Baca Juga: Kisah Petilasan Mbang Lampir di Gunungkidul, Jadi Tempat Favorit Para Pelaku Pesugihan!

Kisah Tebo ini diawali ketika tahun 1970-an ayahnya, Fai dan ibunya, Nasikah menikah. Fai harus pergi meninggalkan Nasikah seorang diri untuk menerima tugas ke luar kotanya. Konon Nasikah dan Fai belum sempat berhubungan badan.

Fai harus pergi bertugas meninggalkan istrinya untuk beberapa lama. Setelah 3 hari pergi 'Fai' pulang dan Nasikah tidak curiga, tidak lama Nasikah mengandung. Setelah kandungannya mulai besar Fai pulang dan kaget dengan kehamilan istrinya.

Fai marah besar karena menganggap istrinya itu selingkuh. Akan tetapi para tetangga yang menyaksikan keberadaan 'Fai' di rumah sebelumnya itu meyakinkan bahwa istrinya tidak selingkuh tapi diganggu genderuwo.

Baca Juga: Pengalaman Mistis Rusno, Diteror Suara Aneh dan Bau Melati di Kamar Hotel Jogja

Dengan besar hati Fai menerima hal ini. Bahkan ia rela menerima bayi tersebut, yang tak lain adalah Tebo. Hingga Tebo besar, Fai dan Nasikah merawatnya sepeti layaknya manusia biasa.

Nafsu makan tebo bisa lima kali lebih besar dari manusia biasa. Ia hanya tidur sekitar dua jam dalam sehari, dua kali buang air kecil dalam sehari, dan dua kali buang air besar dalam sebulan.

Meskipun dibesarkan oleh manusia biasa dan tinggal di lingkungan yang mayoritasnya menggunakan bahasa Jawa, Tebo tidak bisa menggunakan bahasa Jawa dengan fasih, sehingga ia kesulitan untuk berkomunikasi.

Baca Juga: Ritual dan Tumbal Pesugihan Babi Ngepet yang Konon Bikin Kaya Mendadak

merdeka.com
merdeka.com

WAGINI

Sekitar tahun 2013 kisah Wagini terkenal di media massa. Kemudian berbagai wawancara pun disanggupinya demi meluruskan berita yang beredar serta memberikan pernyataan ihwal dirinya dan kebenarannya.

Wagini lahir di Alas Purwo dari seorang ibu yang bernama Wakijem. Kisahnya bermula saat Wakijem dan Gimo menikah. Suatu waktu Gimo pamit untuk pergi mencari kayu bakar. Gimo yang seharusnya pergi berjam-jam, ia kembali kurang dari satu jam.

Baca Juga: Bangunan Tua di Kota Solo Ini Diyakini Jadi Sarang Para Arwah Kelaparan!

Ia kemudian berhubungan intim dengan Wakijem. Tanpa disadari ternyata Gimo (yang sebenarnya) masih di dalam hutan mencari kayu bakar. Tak lama lahirlah Wagini. Gimo menerima Wagini tapi tidak dengan Wakijem.

Semenjak ayahnya, Gimo meninggal lalu ibunya melarikan diri, Wagini tinggal di Alas Purwo, Banyuwangi sampai bertemu dengan Eyang Ratih saat usianya 13 tahun. Sejak itu ia tidak pernah ingin tinggal bersama ibu kandungnya.

Eyang Ratih mengasuh Wagini dengan penuh kasih sayang selama lebih dari 16 tahun. Sekarang usianya 36 tahun dan terbilang masih muda karena umurnya disebut bisa mencapai ratusan tahun.

Baca Juga: Merinding! Konon Sering Muncul Penampakan Sosok Botak Bertaring di Stasiun Solo Kota

Konon, Wagini adalah anak genderuwo yang paling tampan, Wagini dipuja di alam lain. Usut punya usut Wagini mempunyai kemampuan spiritual, ia mampu menyembuhkan orang yang kesurupan dan menetralisir pengaruh gaib terhadap seseorang.

Selain itu, pernah suatu waktu ada ular masuk ke rumah tetangga, Wagini datang dan berbicara dengan ular itu tak lama ular itu mati. Hal ajaib itu terjadi karena menurut Eyang Ratih, Wagini dijaga oleh ayahnya (genderuwo) dan Wagini memang persatuan antara manusia dan alam gaib.

Percaya atau tidak siapapun yang menghujat Wagini biasanya akan celaka, hal ini pernah terjadi kepada seorang paranormal yang tangannya tidak dapat ditekuk semenjak ia menghujat Wagini. Tangan paranormal itu baru sembuh ketika ia meminta maaf secara langsung kepada Wagini.

Baca Juga: Mengungkap Misteri Kembang Tabur di Area Jembatan Jurug Lama Solo

Wagini masih belajar memakan nasi dan roti seperti manusia. Sebelumnya Wagini memakan belalang, jangkrik, dan singkong. Nafsu makannya 5 kali lebih besar daripada manusia biasa. Meskipun tinggal bersama manusia dan dirawat seperti manusia biasa, Wagini masih sulit menggunakan bahasa manusia.

Dari berita yang beredar, Wagini saat ini sering mengikuti kegiatan-kegiatan masyarakat di Banyuwangi. Ia kerap membantu masyarakat sekitar, dan masyarakat sekitar menerima Wagini dengan sangat baik.

Madiunpos.com
Madiunpos.com

Pro dan kontra bermunculan saat mendengar kisah Wagini dan Tebo. Wagini dan Tebo memang tidak memiliki fisik yang sama dengan manusia biasa, ada yang menganggap itu adalah kelainan genetik, ada juga yang mempercayai kisah tersebut melalui kacamata gaib.

Tapi terlepas dari itu berarti kita harus tetap waspada dan selalu berdoa agar kita selalu dihindarkan dari hal-hal negatif baik dari manusia maupun dari alam lain. Dan perlu diingat perlakukan sesama manusia selayaknya diri kita pribadi.

Artikel Asli