Kisah 4 Makam Keramat Ulama Kepercayaan Pangeran Diponegoro di Cilacap

Liputan6.com Diupdate 14.00, 06/08 • Dipublikasikan 14.00, 06/08 • Muhamad Ridlo
Ilustrasi - Makam tua. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)
Ilustrasi - Makam tua. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

Liputan6.com, Cilacap - Nama Kiai Nur Saleh memang tak tercatat dalam sejarah perang Pangeran Diponegoro. Akan tetapi, diyakini, dia adalah salah satu orang kepercayaan di lingkar dalam sang pangeran dalam masa perang Jawa.

Keyakinan itu beralasan lantaran dalam keluarga inti keturunannya, Kiai Nur Saleh memiliki silsilah hingga kerajaan Mataram, serupa dengan Pangeran Diponegoro. Tentu tak mudah untuk menjadi orang kepercayaan di masa gawat perang Jawa.

Hanya orang-orang istimewa yang diperbolehkan berada begitu dekat dengan Pangeran Diponegoro. Ia dikenal sebagai seorang ulama linuwih. Ilmu agamanya mendalam, disertai dengan kemampuan karomahnya yang tinggi.

Perjalanan hidupnya diwarnai dengan kisah keramat, yang bagi orang biasa, sulit dinalar. Terlebih pada masa kini, di abad modern. Tetapi, itu lah keistimewaan ulama.

Seorang anggota keluarga yang dituakan namun enggan disebut namanya bercerita, usai perang Jawa, Kiai Nur Saleh turut dibuang Sulawesi. Tentu pemerintah Kolonial Belanda khawatir, sosok dan pemikirannya akan menggerakkan perlawanan baru ketika Pangeran Diponegoro telah ditangkap dengan cara licik.

Kala itu, ia ditangkap dan lantas dibui di Batavia. Tak berapa lama usai dibui, Kiai Nur Saleh diberangkatkan ke Sulawesi, ke tanah buangan. Kiai Nur Saleh lantas meminta izin kepada penguasa kala itu untuk terlebih dahulu menemui seseorang di sebuah wilayah perbatasan Jawa Tengah dengan Jawa Barat.

Namun, pejabat kolonial tak mengizinkan. Mereka takut, salah satu ulama kepercayaan Pangeran Diponegoro itu melarikan diri. Maka, diangkutlah Kiai Nur Saleh dan sejumlah tahanan lainnya berlayar dengan kapal dari Pelabuhan Sunda Kelapa menyusuri Laut Jawa.

 

Diselamatkan oleh Nelayan Gowa

Risalah dalam aksara Jawa yang ditemukan dalam Alquran kuno peninggal pasca-Perang Jawa atau Perang Diponegoro. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

Namun keanehan terjadi, sesampai di perairan utara Semarang, kapal itu justru berlayar mundur tanpa disadari nahkoda. Bukannya tiba di Sulawesi, kapal itu justru kembali ke Sunda Kelapa.

Melihat karomah atau keistimewaan Kiai Nur Saleh, akhirnya pemerintah Kolonial Belanda mengizinkan ulama ini untuk menemui seseorang yang dimaksud. Kala itu, Kiai Nur Saleh juga berjanji akan kembali ke Batavia, setelah menyelesaikan hajatnya. Usai selesai hajatnya, Kiai ini dibuang ke Sulawesi.

Sepanjang perjalanan dia dimasukkan ke kerangkeng besi dan ternyata dibuang di perairan Gowa. Beruntung, dia diselamatkan oleh nelayan Gowa. Bertahun-tahun kemudian, Kiai Nur Saleh kembali ke Jawa, berikut dengan kerangkengnya yang kini konon masih tersimpan di Banten.

Kisah penyelamatan Kiai Nur Saleh ini rupanya didengar oleh para pembesar kerajaan. Maka, selama beberapa tahun, Kiai Nur Saleh berada di Sulawesi. Tak ada riwayat yang menceritakan perjalanan kiai ini di Sulawesi. Namun, beberapa tahun kemudian, Kiai Nur Saleh diantar kembali ke tanah Jawa, berikut kerangkengnya. Bahkan, diyakini kerangkeng itu pun masih ada hingga saat ini, di Banten.

Kiai Nur Saleh lantas kembali ke Dayeuhluhur, untuk mengajarkan ilmu agama. Namun, ia harus pintar bersembunyi. Dia khawatir, keberadaannya diketahui oleh pemerintah kolonial yang meyakini bahwa dia telah meninggal dunia di perairan Sulawesi.

Akhirnya, Kiai Nur Saleh punya santri dari berbagai wilayah. Mereka semua takzim kepada kiai yang begitu mendalam ilmu agama dan dianggap keramat. Bahkan, kala itu masyarakat meyakini ulama ini bisa berada di dua tempat atau lebih dalam waktu bersamaan. Pasalnya, Kiai Nur Saleh bisa mengajar di tempat berbeda dalam satu waktu.

“Seperti ada kembarannya,” ucap pria yang tinggal di Cimanggu, Cilacap ini.

 

Dimakamkan di Empat Tempat?

Alquran kuno tulis tangan peninggalan pasca-Perang Diponegoro berusia setidaknya 147 tahun. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

Bahkan, sebagian masyarakat awam meyakini, Kiai Nur Saleh dimakamkan di empat tempat berbeda. Makam tersebut pun dikeramatkan hingga saat ini. Yakni, di sebuah tempat di Kecamatan Cipari, Majenang, Dayeuhluhur, dan Pesahangan, Cimanggu.

“Karena karomahnya diyakini kalau dimakamkan di empat tempat berbeda,” ujarnya.

Soal ini, dia menjelaskan tidak benar bahwa Kiai Nur Saleh dimakamkan di empat tempat berbeda. Masa itu, tak aneh jika di beberapa tempat Kiai Nur Saleh punya semacam padepokan atau pondok.

Di tempat itu juga dibangun rumah peristirahatan atau petilasan. Saking hormatnya kepada sang guru, ketika santri mengaji, mereka akan datang ke pondok, meski Kiai Nur Saleh sedang berada di tempat lain.

Lantaran sudah menjadi kebiasaan, hingga akhir hayatnya, santri tetap mengaji di petilasan, seolah-seolah sang kiai alim masih berada di tempat tersebut. Belakangan ada salah kaprah pengertian masyarakat, antara petilasan dengan makam.

“Makam itu kan ada jenazahnya. Kalau petilasan itu hanya tempat buat beristirahat. Tapi karena orang-orang rindu kepada gurunya, mereka berdoa di situ dan malah pengertian umum itu adalah makam,” ucap tokoh agama yang sudah sepuh ini.

Lazimnya buron pemerintah kolonial, Kiai Nur Saleh selalu tinggal berpindah-pindah. Polanya mirip dengan yang diterapkan para kstaria perang Jawa yang menggunakan sistem perang gerilya. Salah satunya, Panglima Pasukan Pangerang Diponegoro, Kiai Ngabehi Singadipa, di Banyumas.

Keluarga sendiri meyakini bahwa jenazah Kiai Nur Saleh disemayamkan di sebuah makam di Banten. Dan itu, hanya diketahui oleh anggota keluarga. Kini, keturunan Kiai Nur Saleh masih meneruskan perjuangan pendidikan, baik ilmu agama maupun sekolah formal.

Keturunannya mendirikan yayasan untuk menaungi pesantren dan sekolah. Nama yayasannya adalah Nur Jalin. Ada pula keturunannya yang kini menjadi pimpinan di Yayasan Elbayan, Majenang.

Simak Video Pilihan Berikut Ini:

Artikel Asli