Kisah 1 Keluarga di Jakbar Positif Corona meski Sudah Patuhi Protokol Kesehatan

kumparan Dipublikasikan 06.42, 02/07 • kumparanNEWS
Ilustrasi anak sakit Foto: Shutterstock

Tidak pernah terbayang oleh Anita (nama samaran), dia dan seluruh keluarganya yang menetap di Jakarta Barat, akan terpapar virus corona. Perempuan berusia 22 tahun yang baru lulus dari perguruan tinggi akhir tahun 2019 itu, kini harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit.

"Tanggal 25 Juni, mama dinyatakan positif COVID-19 dan sekeluarga langsung swab, ternyata aku, adik, dan papa positif juga," ungkap Anita kepada kumparan, Kamis (2/7).

Ibu Anita adalah seorang petugas medis yang difasilitasi tes swab secara berkala. Ibu Anita dinyatakan positif COVID-19 dari hasil swab pada tanggal 25 Juni 2020.

Sebelumnya Anita pernah melakukan rapid test karena batuk yang tak kunjung sembuh selama sebulan, namun hasilnya negatif.

Setelah ibunya dinyatakan positif, Anita beserta ayah, kakak, dan adiknya pun menyusul melakukan tes swab. Hasilnya Anita dan ayah beserta adiknya juga dinyatakan positif COVID-19, sementara hasil swab kakak, yang juga bekerja sebagai tenaga medis seperti sang ibu, negatif COVID-19.

Hal itu juga Anita ceritakan dalam sebuah unggahan di akun media sosial pribadinya dan menjadi viral.

Hingga hari ini, Anita sendiri tidak dapat memastikan dari mana virus itu menginfeksi mereka. Pasalnya, ibu dan kakaknya selalu mengikuti protokol kesehatan setiap pulang bekerja. Anggota keluarga yang lain juga mematuhi aturan tersebut.

"Kita sekeluarga enggak tahu dapatnya dari mana, sekeluarga itu patuh banget sama protokol kesehatan. Cuci tangan sehabis dari luar, bajunya langsung dicuci meski keluar kurang dari sejam. Mama dan kakak juga kalau pulang dari rumah sakit langsung bersihin badan tanpa menyentuh apa pun," kata Anita.

Anita juga tidak memiliki riwayat bepergian atau ada kerabat yang mendatangi mereka di rumah. Namun, ibunya memang sempat pergi ke pasar dan setelahnya merasakan demam dan batuk, lalu diikuti oleh Anita dan ayahnya. Sang adik yang berusia 15 tahun tidak mengalami gejala apa-apa.

Sejak Senin (29/7), Anita mulai tidak dapat merasakan makanan dan mencium aroma apa pun. Setiap malam muntah akibat efek obat. Anita mengatakan, anggota tubuh yang dipasang infus pernah bengkak dan harus diganti hingga lima kali.

Selama menjalani perawatan, Anita dibantu oleh perawat dan tim medis dengan cepat dan tanggap. Meskipun begitu, Anita menaruh harapan dapat pulang dan kembali berkumpul dengan keluarga dalam keadaan yang sehat.

"Aku juga menguatkan adikku yang sedang berjuang daftar sekolah SMA, semoga dia masih bisa masuk ke sekolah favoritnya," ungkap Anita.

Dari kamar isolasi rumah sakit, Anita berpesan agar masyarakat tidak berkeliaran dan tidak menerapkan normal baru dengan bebas, tanpa mengutamakan keselamatan dirinya dan orang lain.

"Sungguh betapa enggak enaknya kena virus ini. Aku yang aware aja dan tetap di rumah, bisa terpapar. Jadi rakyat Indonesia jangan berkeliaran tanpa urusan penting dengan alasan new normal," tandas Anita.

****

(Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona)

Artikel Asli