Kiprah Radjiman, Sang Dokter Keraton

Historia.id Diupdate 14.47, 10/07/2020 • Dipublikasikan 14.47, 10/07/2020 • historia.id
Radjiman Wedyodiningrat (Perpustakaan Nasional RI)

Tahun 1910, nama Kanjeng Raden Tumenggung Radjiman Wedyodiningrat begitu kesohor di Solo sebagai dokter pribadi keluarga Keraton Surokartohadiningrat. Kendati banyak yang belum pernah melihat sosoknya secara langsung, tiap orang pasti akan langsung tahu saat nama itu disebutkan.

Menurut A.T. Sugito dalam Dr. K.R.T. Radjiman Wedyodiningrat: Hasil karya dan Pengabdiannya, keberadaan Dokter Radjiman amat melekat dengan praktek kedokteran modern di lingkungan Keraton Surakarta. Radjiman merupakan satu dari sedikit orang yang memilih untuk mengabdi di bawah naungan keraton, ketimbang kepada pemerintah Hindia Belanda. Padahal kalau dilihat dari riwayat hidupnya, dia merupakan hasil pendidikan gaya Eropa sejak kecil.

 

Sekolah Kedokteran

Radjiman bukan berasal dari kalangan elit Jawa. Diceritakan Riris Sarumpaet dalam Seri Pengenalan Tokoh: Sekitar Proklamasi Kemerdekaan, ayahnya, Ki Sutodrono, hanya pensiunan prajurit rendahan dari KNIL. Namun Radjiman kecil terkenal pandai, sehingga keluarganya bertekad memasukan dia ke sekolah Eropa.

Setamat dari sekolah rendah Tweede Europese Lagere School Yogyakarta pada 1893, Radjiman diminta bekerja di kantor pemerintahan. Tetapi dia menolak dan lebih memilih mengambil beasiswa pendidikan di Sekolah Dokter Jawa (STOVIA) di Batavia. Pada 1898, dia lulus secara gemilang. Tawaran sebagai pegawai di Centrale Burgelijke Ziekenhuis (Rumah Sakit Umum) Batavia pun langsung diterimanya. Radjiman resmi memulai kiprah sebagai dokter Jawa. Dia ditempatkan di Jawa Tengah lalu di Jawa Timur.

 

“Dalam perjalanannya ke berbagai daerah itu, Radjiman berjumpa dengan orang-orang desa dan mengobati yang sakit. Dari pengalaman itu timbulah kesadaran padanya betapa bangsa Indonesia menderita di bawah kekuasaan penjajah,” ungkap Riris.

Tahun 1904, Rjiman menerima gelar Indisch Arts. Setelah pengabdian selama enam tahun, pada 1910 dia memilih melanjutkan studinya di Universitas Amsterdam. Sejarawan Harry A. Poeze dalam Di Negeri Penjajah: Orang Indonesia di Negeri Belanda, mencatat Radjiman tiba di Belanda pada 1909.

“… Ia tiba di Negeri Belanda untuk melanjutkan pendidikan sebagai dokter dan untuk mengkhitan putra-putra Susuhunan,” ungkap Poeze.

Sebelum kembali ke Tanah Air, Radjiman pergi ke Berlin, Jerman, untuk belajar ilmu kebidanan, penyakin perempuan dan ilmu bedah. Tahun 1931, dia memperoleh serifikat dokter untuk Gudascopie Urinoir dari Paris, Prancis.

Membangun Kedokteran Keraton

Tidak lama setelah menerima gelar Indisch Arts dari STOVIA, Radjiman memutuskan berhenti dari posisinya sebagai tenaga kesehatan di CBZ. Itu berarti dia juga turut melepaskan status kepegawaian di dalam pemerintahan Hindia Belanda yang diterimanya. Menurut Sugito, Radjiman memilih mengabdikan diri kepada masyarakat, ketimbang hidup mudah di bawah pemerintah Hindia Belanda.

“Lembaran baru kehidupan Radjiman sebagai dokter sebenarnya tidaklah terlalu berbeda, bilamana dilihat dari segi profesi. Sesuatu yang benar-benar baru dalam pengertian bahwa sebelumnya belum pernah ada dan baru ada pada dirinya setelah bertugas di Keraton ini adalah minatnya terhadap ilmu filsafat dan kebudayaan Timur, khususnya Jawa di samping dia sejak saat di Keraton ini memperdalam tentang teosofi,” ungkap Sugito.

 

Berbekal pengalaman praktik di berbagai daerah, pada 1906 Radjiman diangkat menjadi dokter di Keraton Surakarta. Praktiknya sempat terhenti karena dia menempuh pendidikan di Belanda dan Jerman sepanjang 1910-1911. Begitu kembali, Radjiman membawa perubahan besar bagi pengobatan di lingkungan keraton.

Antara 1915-1917, atas usaha Radjiman, Keraton Solo membuka apotek pertamanya. Dinamai Panti Hoesodo, apotek ini dijalankan oleh seorang apoteker yang didatangkan pihak Keraton dari Belanda. Bagi Radjiman, yang sudah merasakan langsung praktik pengobatan Barat, keberadaan apotek sangat penting untuk pemeliharaan kesehatan dan membantu memperlancar proses penyembuhan penyakit.

“Jadi, pendirian sebuah apotek ini merupakan suatu keberanian pada saat itu, mengingat tenaga ahli untuk itu memang belum ada. Tetapi keahliannya dalam dunia kedokteran menuntut adanya sarana tersebut,” ungkap Sugito.

Tidak hanya apotek, Radjiman juga mengusulkan pendirian rumah sakit untuk abdi dalem keraton. Dia ingin semua memperoleh kesempatan yang sama untuk berobat, tidak hanya orang-orang terdekat sultan saja. Gagasan itu disambut baik oleh banyak pihak, termasuk sultan dan keluarganya. Rumah sakit itu diberi nama Panti Rogo, terletak di Kadipala.

Setelah pendirian Panti Rogo, Radjiman terus berusaha mengembangkan keilmuannya. Bermodal pengetahuan dari Jerman soal ilmu kebidanan dan penyakit kandungan, dia membuka kursus kebidanan. Radjiman merasa perlu meningkatkan pengetahuan para dukun bayi agar praktik persalinan berjalan baik dan lebih dapat dipertanggungjawabkan. Mengingat masih banyak masyarakat yang memercayakan proses persalinan kepada para dukun bayi tersebut.

 

“Pengabdian Radjiman di Keraton Solo bukan sesuatu yang kebetulan tanpa tujuan dan makna. Tetapi suatu sumbangsih, suatu darmabakti yang penuh makna dan sebagai perwujudan dari prestasi seorang yang berkarya,” ungkap Sugito.

Pada 1934, menjelang usia 55 tahun, Radjiman mengajukan permohonan pensiun kepada Sultan. Keinginan itu dikabulkan. Perjuangan selanjutnya Radjiman ada di bidang politik. Dia bahkan tercatat dalam sejarah sebagai salah satu penyusun rumusan kemerdekaan Indonesia bersama Sukarno dan founding fathers lainnya.

Artikel Asli