Keuntungan Pelihara Motor Sport 2-Tak Jadul

Kompas.com Dipublikasikan 01.42, 22/11/2019 • Donny Dwisatryo Priyantoro
Macantua.com
Honda NSR 150

JAKARTA, KOMPAS.com - Tren motor 2-tak mulai naik sejak beberapa tahun belakangan ini, khususnya untuk motor tipe sport. Pemiliknya juga pada umumnya adalah kolektor atau benar-benar pecinta otomotif.

Motor sport 2-tak jadul di Indonesia cukup banyak modelnya, mulai dari Honda NSR 150, Suzuki RGR 150, Yamaha RZR dan TZM 150, dan lainnya. Rata-rata merupakan produksi akhir '80-an dan awal '90-an. Sehingga, populasinya juga tak banyak sekarang ini.

Baca juga: Pelihara Motor Sport 2-Tak Jadul, Perhatikan Ini

Meskipun membutuhkan perawatan dan perhatian ekstra, namun memelihara motor sport 2-tak jadul juga memiliki beberapa keuntungan. Salah satunya adalah memperluas pertemanan.

"Temannya jadi bertambah banyak, karena ada kesamaan hobi, yaitu memelihara motor sport 2-tak. Jadi kenal juga dengan teman-teman komunitas lainnya," ujar Joey Tumanduk, pengguna Honda NSR 150 R.

Pria yang juga tergabung dalam NMC (NSR Motorcycle Club) ini menambahkan, bermain atau memelihara motor sport 2-tak juga membuka peluang bisnis, yakni berjualan spare parts.

Baca juga: Tips Membeli Motor Sport 2-Tak Suzuki RGR 150

"Ada peluang bisnis di situ, karena market-nya khusus dan kalau kita sudah kuasai dan tahu mengenai dunia tersebut, bisa kita jadikan usaha," kata Joey.

Beberapa motor sport 2-tak jadul ini ada yang sulit dicari bagian bodi-bodinya. Hal tersebut juga bisa dijadikan peluang bisnis, seperti yang diungkapkan oleh John Semrichardo, pemilik Suzuki RGR 150.

"Contohnya, fairing dan bracket fairing, itu sudah sulit didapatkan. Ada beberapa teman komunitas yang membuat cetakan bodi, lalu dicetak dan dijual kembali mirip aslinya. Bisa dibilang, akhirnya harus mengakali," ujar John.

Keuntungan terakhir adalah kepuasan batin. Sebab, sensasi yang diberikan saat memacu motor 2-tak sangat berbeda dengan motor 4-tak. Tak hanya dari suara knalpotnya, tapi juga performanya.

Penulis: Donny Dwisatryo PriyantoroEditor: Agung Kurniawan

Artikel Asli