Ketika Ulama Jabar Ditanya Kasus Ahok Saat Berdakwah di Inggris

kumparan Dipublikasikan 12.49, 12/11/2019 • Teuku Muhammad Valdy Arief
Ridwan Kamil bersama Direktur British Counsil Paul Smith saat konferensi pers di Bank Jawa Barat, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (12/11). Foto: Darin Atiandina/kumparan

Lima ulama asal Jawa Barat yang dikirim berdakwah ke Inggris tidak hanya mendapatkan pengalaman tak terlupakan. Mereka juga dihadapkan sejumlah tantangan ketika menyampaikan pesan-pesan Islam.

Lima ulama tersebut adalah Wifni Yusifa, Ridwan Subagya, Ihya Ulumudin, Safitra, dan Hasan Al-Banna. Mereka merupakan lima orang terpilih untuk berangkat berdakwah ke London, Bristol, Glasgow, Manchester, dan Birmingham lewat program English for Ulama.

Kelimanya berada di lima kota selama 10 hari, sejak 4 November hingga 14 November.

Ada banyak pengalaman unik yang dialami peserta program kerja sama antara Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Kedubes Inggris itu. Mulai dari kecopetan, ditanya soal hukum syariah di Aceh, hingga diminta penjelasan kasus penistaan agama oleh mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama.

Suasana saat Ridwan Kamil bersama Direktur British Counsil Paul Smith menggelar konferensi pers di Bank Jawa Barat, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (12/11). Foto: Darin Atiandina/kumparan

Salah satu ulama asal Cirebon, Hassan Al-Banna, bercerita mendapat pertanyaan-pertanyaan sulit ketika berdakwah. Hassan merupakan ulama yang ditugaskan untuk berdialog ke London.

“Pertanyaan paling sulit yang diajukan kepada saya baru kemarin, pertanyaan yang cukup tricky, ada yang bertanya tentang politik Indonesia, antara Prabowo dan Jokowi. Mereka juga bertanya tentang dikotomi syariah di Aceh, lalu juga ditanya soal kasus Pak Ahok, ini adalah pertanyaan yang cukup sulit dijawab.” kata Hassan lewat video call yang digelar saat konferensi pers di kantor Bank BJB di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (12/11). Acara ini juga dihadiri oleh British Council.

“Tapi alhamdulillah, berkat bimbingan dari British Council, saya bisa membawa diskusi dengan baik, soal bagaimana Islam berbicara tentang perdamaian dan harmonisasi di segala aspek,” sambungnya lagi.

Ridwan Kamil bersama Direktur British Counsil Paul Smith saat konferensi pers di Bank Jawa Barat, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (12/11). Foto: Darin Atiandina/kumparan

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menceritakan pengalaman salah satu dari lima ulama utusannya itu yang pernah kecopetan di Inggris. Namun, Ridwan mengaku tidak ingat siapa yang mengalami hal tersebut.

“Ada yang jago menangkap copet, kalau nggak salah satu dari lima ulama ada yang kecopetan, tetapi karena jago silat, si copet berhasil ditangkap dan dompet kembali,” kata Ridwan.

“Jadi jangan macam-macam dengan ulama Jawa Barat, selain jago salat, mereka juga jago silat,” tutur Ridwan disambut tawa hadirin.

Ridwan Kamil bersama Direktur British Counsil Paul Smith saat konferensi pers di Bank Jawa Barat, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (12/11). Foto: Darin Atiandina/kumparan

Ridwan mengaku bangga atas kinerja kelima ulama ini. Mereka berhasil diundang untuk dialog jauh di tingkatan yang ditargetkan.

“Tadinya kami cuma menargetkan untuk berdialog ditingkat komunitas, paling maksimal di universitas,” kata Ridwan.

“Namun nyatanya mereka berdialog tidak hanya dengan komunitas muslim di Eropa tetapi justru dengan komunitas muslim Inggris, komunitas non muslim juga, diundang ke parlemen, DPR-nya Inggris, ke wali kota-wali kota inggris, anggota DPRD-nya, bahkan dengan kapolresnya, mereka ingin tahu apa yang menjadi pesan adalah bercerita tentang keislaman Indonesia di Jabar yang insyallah selalu damai mengedepankan toleransi,” ujar Ridwan.

Artikel Asli