Ketika Cemburu Membakar Amangkurat I

Historia.id Diupdate 14.02, 21/11/2019 • Dipublikasikan 14.02, 21/11/2019 • historia.id
Kompleks makam Imogiri tahun 1890 (Wikimedia Commons)

SETELAH berhasil mengatasi kesedihan akibat kehilangan Ratu Malang, Amangkurat I mencoba bangkit. Ia telah kembali duduk di takhtanya dan perlahan memperbaiki pemerintahan yang sempat ditinggalkan. Amangkurat I berusaha keluar dari derita yang hampir menghancurkan Mataram tersebut.

Tidak ingin larut dalam kesendirian, raja kemudian menyuruh para pejabat negerinya agar dicarikan perempuan lain yang setara dengan sang pujaan hati. Namun perkara itu tidaklah mudah. Terlebih tidak banyak perempuan di dalam negeri kala itu yang kecantikannya bisa disetarakan dengan Ratu Malang.

Dikisahkan J.J. Meinsma dalam Babad Tanah Jawi: Javaanse Rijkroniek, Amangkurat I mengutus dua orang dalam misi pencarian calon kekasihnya itu, yakni Nayatruna dan Yudakarti. Sebagai petunjuk, keduanya harus bisa menemukan seorang perempuan yang “berasal dari suatu daerah dengan air sumur yang baunya segar”. Dan pencarian itupun berakhir di wilayah tepi Kali Mas, Surabaya, Jawa Timur.

Di sebuah daerah yang masuk dalam kuasa Pangeran Pekik, mertua Amangkurat I, tinggal seorang mantri bernama Ngabei Mangunjaya. Sang mantri memiliki seorang putri cantik jelita yang usianya kurang lebih 11 tahun. Oyi, begitulah Mangunjaya memanggilnya.

“Memang para utusan terpesona melihat gadis cantik itu, dan anak tersebut mereka bawa,” tulis H.J. De Graaf dalam Runtuhnya Istana Mataram.

 

Para utusan lalu membawa gadis cilik itu ke hadapan Amangkurat I. Memang benar sunan langsung jatuh hati padanya, tetapi ia menilai calon istrinya itu masih terlalu kecil untuk diperistri. Maka sunan memerintahkan kepala mantri kapedhak, Ngabei Wirareja, agar mengurus Oyi hingga usianya siap untuk menjadi bagian dari keluarga inti Raja Mataram.

Di sisi lain, putra Amangkurat I, Pangeran Anom, juga sedang dipusingkan dengan pencarian calon istrinya. Ia berulang kali gagal dalam memutuskan gadis yang akan dipinang. Hampir sama seperti ayahnya, Pangeran Anom agak pemilih dalam menentukan gadis pujaannya. Terakhir kali dijodohkan dengan putri Cirebon, sang pangeran malah ketakutan dengan sifat keras gadis tersebut.

“Ketika pangeran melihat gadis itu, ia memuji penampilannya yang cantik, tetapi agak sedikit pemarah. Pangeran mulai khawatir gadis itu akan bersikap kasar pada suaminya,” tulis Meinsma.

Pada suatu waktu, setelah rencana perjodohannya gagal, Pangeran Anom secara kebetulan pergi ke kediaman Wirareja. Babad Tanah Jawi, maupun Serat Kandha tidak secara jelas menyebut apa tujuan pangeran memasuki kediaman sang kepala mantra. Namun di sana ia bertemu dengan Oyi yang sedang membatik bersama ibu angkatnya (istri Wirareja).

“Sebagaimana layaknya, larilah gadis itu ketakutan, tetapi sempat ia menoleh sebentar dan merapikan rambutnya,” kata Graaf.

Gadis misterius yang jelita itupun seketika merasuk jiwa Pangeran Anom. Oyi sangat sesuai dengan kriteria gadis yang sedang dicari-carinya. Segera ia bertanya kepada Wirareja siapa gerangan yang sedang membatik tersebut. Wirareja lalu menerangkan bahwa mutiara indah itu diperuntukkan bagi ayahnya. Ia hanya sekedar mengurusi hingga usia gadis itu matang. Namun pangeran terlanjur mabuk kepayang kepada gadis “kepunyaan” ayahnya itu. Sejak itu, pikirannya terus melayang membayangi sosok Oyi.

Di dalam babad, pangeran diceritakan jatuh sakit karena cintanya itu. Bahkan sampai mengurung diri di kamar, tidak makan dan tidak tidur. Melihat cucu kesayangannya dirundung sendu seperti itu, Pangeran Purbaya berusaha menghibur. Ia memutuskan akan melakukan segalanya, apapun resiko yang akan terjadi.

Bersama istrinya, Purbaya lalu pergi ke rumah Wirareja. Ia meminta agar Oyi diserahkan kepadanya. Wirareja tentu menolak karena takut akan kemurkaan Amangkurat I. Namun bujukan barang-barang mewah dari Purbaya akhirnya melemahkan Wirareja. Oyi kemudian dibawa menggunakan tandu menuju kediaman Purbaya. Segera cucunya dipanggil agar keluar dari dalam kamarnya.

Betapa terkejut pangeran Anom ketika menemukan Oyi sudah ada di hadapannya. Ia tidak percaya gadis pujaan hatinya bisa sedekat itu. Sang putra mahkota pun terlihat seperti hidup kembali. Namun menurut Graaf: “Sang kakek memikul segala tanggung jawab demi kegembiraan dan kebahagiaan si cucu”. Mereka tidak tahu kekejaman apa yang menanti.

Benar saja, tidak lama setelah, Amangkurat I mendengar kabar penjemputan Oyi dari kediaman Wirareja. Ia begitu marah kepada putranya, Purbaya, dan Wirareja. Amangkurat I lalu memerintahkan pasukannya untuk menghancurkan kediaman Purbaya. Dalam laporan Residen Mataram 5 Juli 1669, sunan sampai menghancurkan kediaman Pangeran Anom dan membakar rumah-rumah di sekitarnya.

Laporan pemerintah Belanda tahun 1670 menyebut banyak kaki tangan Pangeran Anom yang dihukum berat. Bahkan Wirareja dan keluarganya diusir ke Ponorogo, dan tidak lama kemudian keluar perintah dari sang raja untuk menghukum mati mereka. Sementara itu, Pangeran Anom sendiri dihukum  dengan diusir dari keraton Mataram. Meski akhirnya diperbolehkan untuk kembali.

Artikel Asli