Kerusuhan di AS, Walikota Atlanta: "Ini Bukan Unjuk Rasa, Ini Kekacauan!"

Trending Now! Dipublikasikan 06.30, 01/06

Unjuk rasa menuntut keadilan atas meninggal warga kulit hitam Amerika Serikat, George Floyd, yang ditindih polisi masih digelar hingga sekarang. Protes yang awalnya terjadi di kota Minneapolis, kini telah meluas ke seluruh negeri, termasuk ibu kota Washington D. C. 

Awalnya bertujuan mulia untuk menuntut keempat polisi yang menyebabkan Floyd tewas agar dihukum, serta menyorakkan dihentikannya kekerasan polisi terhadap warga kilit hitam dan minoritas, kini telah banyak dinilai orang bahwa protes tersebut tidak lagi masuk akal lantaran telah menimbulkan kerusuhan dan penjarahan di sejumlah negara bagian.

If you missed it last night, you really need to take just 4.5 minutes to listen to this statement by Atlanta Mayor Keisha Lance Bottoms. pic.twitter.com/6fAbZbjwNJ

— Josh Jordan (@NumbersMuncher) May 30, 2020

Wali Kota Atlanta, Keisha Lance Bottoms, pada Sabtu (30/5) kemarin melalui siaran langsung mengatakan bahwa hal yang terjadi bukanlah protes, melainkan kekacauan.

"Dari apa yang saya lihat terjadi di jalanan Atlanta, ini bukanlah protes, ini tidak sejalan dengan semangat Martin Luther King Jr., ini adalah kekacauan. Kalian mempermalukan kota kami."

Kekacauan yang terjadi telah dimanfaatkan oleh banyak warga AS untuk menargetkan sejumlah pertokoan untuk kemudian dijarah. Dari pantauan di media sosial, para warga menjarah sejumlah pertokoan bermerek seperti sepatu Vans, toko pakaian, hingga peralatan elektronik seperti Apple dan butik Louis Vuitton. 

Looting Louis Vuitton store in Portland. Nothing screams justice like designer handbags. pic.twitter.com/zWsExSY6DM

— James Woods (@RealJamesWoods) May 30, 2020

Polisi anti huru-hara pun telah dikerahkan untuk menjaga sejumlah lokasi yang ramai pertokoan, dan juga gedung pemerintahan yang menjadi target utama para pemrotes. 

Dilaporkan juga bahwa polisi telah menangkap sejumlah provokator yang diduga telah membuat aksi unjuk rasa yang awalnya damai berujung rusuh dan menimbulkan korban luka-luka.

Para demonstran pun menolak adanya provokator agar aksi unjuk rasa mereka berlangsung damai dan tidak ditunggangi oleh pihak mana pun. Terlihat di video di bawah ini,  seorang diduga provokator tengah berusaha memecah beling dari trotoar untuk kemudian dilempar ke arah barikade polisi yang berada di dekatnya.

Melihat upayanya itu, sejumlah demonstran kemudian mencoba menghalau aksinya dan mengambil beling yang ada di genggaman tangannya. Provokator itu kemudian diserahkan kepada pihak berwajib untuk ditahan atas aksinya yang tidak bertanggung jawab.

🚨🚨🚨
Protestors in DC handed the white dude who was about to provocate the protest to the police.
He has been arrested and taken away. #DCProtests #Riot #BLACK_LIVES_MATTERS pic.twitter.com/mMxvaPaezW

— Safvan Allahverdi (@s_Allahverdi) May 31, 2020

Menanggapi kerusuhan yang terjadi, kepala kepolisian kota Atlanta, Erika Shields, telah angkat suara dan mengatakan bahwa ia mengerti amarah para demonstran karena telah berulang kali warga kulit hitam dan minoritas tewas di tangan polisi. Erika pun tidak mengatakan bahwa tindakan keempat polisi yang menyebabkan Floyd meninggal adalah mengerikan dan patut dikecam.

"Baik itu oleh polisi atau individu lain, kenyataannya adalah kita telah mengurangi nilai dalam hidup mereka," jelasnya.

Erika telah terlihat turun ke jalanan untuk berdiskusi dan mendengarkan aspirasi para demonstran. Langkahnya itu telah dipuji oleh banyak pihak karena telah berusaha untuk menenangkan situasi dengan sabar dan cara yang halus.

Meski demikian, hal itu tidak mampu untuk menghentikan kerusuhan di kotanya. Walhasil Atlanta dan kota lainnya dalam negara bagian Georgia, kini telah berada dalam keadaan darurat, jam malam telah diterapkan serta Garda Nasional telah diturunkan untuk mengamankan kota.

This is the kind of police chief I want… One who speaks the truth. Atlanta Police Chief Erika Shields being open & honest on live TV w/ #CBS46 about what happened in Minneapolis #JusticeForGeorge pic.twitter.com/Ij7SAI5A1x

— Emily Gagnon (@Emily_Gagnon) May 30, 2020

Minnesota dan beberapa negara bagian lainnya juga telah menerapkan keadaan darurat dan menurunkan Garda Nasional. Karena banyak pertokoan yang tutup akibat kerusuhan yang terjadi, banyak warga yang dikabarkan kesulitan untuk mendapatkan makanan.

Pahlawan tak berjubah pun datang, warga Minnesota mendatangi pusat-pusat komunitas yang mengkordiniir distribusi pembagian bantuan bagi orang-orang yang membutuhkan. Mereka membawa makanan dan bahan pokok untuk disumbangkan.

Dalam video di bawah ini, terlihat sebuah pusat komunitas berpenghasilan rendah didatangi banyak donatur hingga kewalahan dan tidak sanggup menyimpan sumbangan yang diberikan. Di tengah api dan asap kekacauan, masih banyak warga yang peduli terhadap sesama. 

#TrendingDunia

After the riots in Minneapolis, a center for low-income housing put out a call asking for food donations.
This is how people responded.
There was so much food it became a distribution center, for anyone who needed it.pic.twitter.com/T85JdOk2Pp

— Goodable (@Goodable) May 30, 2020