Kereta dari Masa Depan - Part 6: Malam di Sepuluh Tahun Silam

Storial.co Dipublikasikan 06.30, 05/08 • Okky Putri Rahayu
Malam di Sepuluh Tahun Silam

Nola merasa sangat lega. Akhirnya, dia bisa pipis setelah seharian. Sebuah kelegaan yang sangat memuaskan baginya.

Beranjak dari kloset, Nola memandangi setiap sudut kamar mandi. Dan kesimpulan yang ada di benaknya adalah : rapi! Ya, jika ini benar rumah Hans, maka lelaki itu adalah orang yang sangat rapi. 

Semua alat mandi mulai sabun, sampo, pasta gigi dan lain-lain berjajar di sebuah kabinet kecil susun 3 di sudut kamar mandi. Kamar mandinya juga wangi, yang entah mengapa membuat Nola merasa ingin mandi.

Nggak, nggak. Haruskah gue mandi di sini? Gimana kalau Hans punya kamera tersembunyi di kamar mandinya karena sering bawa cewek ke rumah? Haruskah gue telanjang di rumah milik cowok nggak dikenal? Nola merinding memikirkannya. Akhirnya, dia hanya membasuh wajahnya, yang sudah seharian tegang dan tidak terkontrol karena kepanikan.

Keluar dari kamar mandi, Nola mengamati dapur dan ruang makan. Dan lagi, lagi : rapi! Di dapur tak banyak peralatan terlihat. Kitchen set yang serba kayu itu bahkan terlihat seperti baru dan warnanya masih mengkilap. 

Tak ada barang tergeletak sembarangan sama sekali. Sangat berbeda dengan dapur di rumah indekos Nola. Bahkan kalau dipikir lagi, Nola merasa dapur dan ruang makan rumah Hans lebih rapi dibanding kamarnya.

“Hmm, pasti dia tinggal sama pacarnya, pasti,” gumam Nola. Dia ragu jika Hans merapikan semua itu.

Tak lama Hans menghampiri Nola dan menyodorkan handuk. Lelaki yang sudah melepas kemejanya itu, kini memakai kaos hitam pendek dan masih memakai celana jeansnya tadi.

“Mau mandi nggak?”

Pertanyaan Hans membuat Nola kaget.

“Di sini?” tanya Nola dengan nada canggung.

“Ya di kamar mandi..!” sahut Hans sambil melirik kamar mandi di belakang Nola.

Nola langsung menyilangkan kedua tangannya di dada seolah berusaha menutup tubuhnya. Hans menatapnya bingung.

“Nggak. Siapa tau di kamar mandi lo ternyata ada kamera tersembunyi, kayak kasus-kasus yang lagi rame belakangan ini.”

Hans tidak bisa menahan geli. Dia tertawa.

“Kejauhan mikir lo! Gue cuma nggak mau rumah gue aromanya jadi terkontaminasi. Buruan! Gue juga mau mandi.” Hans menghentikan ucapannya. “Lagian, lo bukan tipe gue.”

Hans meletakkan handuk putih yang dibawanya itu di bahu Nola, lalu berjalan menuju dapur. Mendengar ucapan Hans, Nola naik pitam.

               “Emang lo pikir lo tipe gue? Nggak sama sekali!” ujar Nola dengan nada kesal dan kembali masuk ke kamar mandi dengan wajah memerah. Kalau boleh diralat, sebetulnya saat pertama melihat Hans di stasiun kereta, lelaki itu adalah tipenya. Tinggi, tidak banyak bicara, tegap, tampan, tapi… Nola menghentikan khayalannya. Ada satu sifat yang tidak Nola suka. Satu sifat itu adalah belagu!

“Emang dia pikir dia siapa?” gerutu Nola sambil mengambil handuk di bahunya.

Nola mengeluarkan baju yang diletakkan di dalam lipatan handuk. Sebuah kaos lengan panjang size M model cewek, dan celana training panjang, yang juga jelas sekali model untuk cewek.

“Pantes rumahnya rapi, tinggal sama pacarnya ternyata,” ucap Nola dengan ekspresi wajah yang entah mengapa sedikit kecewa.

***

Setelah mandi, Nola merasa sangat segar. Rasa lelah dan keribetan hari ini luntur begitu saja. Hingga sejenak membuat Nola lupa, bahwa sekarang dia sedang berada di 2010, tanpa uang, dan tinggal di rumah lelaki yang baru tadi siang dia kenal.

Nola berdiri di depan kaca yang tergantung di atas wastafel. Rambutnya yang basah usai keramas kini sedang dia bungkus dengan handuk. Kaos warna putih milik –terduga- pacar Hans juga muat di badannya. Begitu pula dengan celananya.

“Gila, gue ada di masa lalu,” ucap Nola lirih.

Nola mengamati dirinya sendiri di cermin. Menyadari bahwa baru tadi malam dia menangis dan menyesali banyak hal dalam hidupnya.

               Ini bukan mimpi! Kata Nola berkali-kali dalam hati. Ini doaku yang menjadi nyata. Katanya lagi. Ya, di setiap malam yang dilewatinya sendirian, dia selalu memohon pada Tuhan untuk mengembalikannya ke masa lalu. Ke masa dia belum mengacaukan hidupnya. Ke masa ketika dia seharusnya memilih hal yang lebih tepat.

Tiba-tiba, air mata Nola menetes. Dia bingung dengan perasaannya sekarang. Separuh dari dirinya merasa senang dia punya kesempatan kedua. 

Tapi separuh lagi, merasa sangat takut bahwa dia sudah mulai gila. Keadaan ini terlalu gila buat dimengerti, pikirnya.

               Nola menghapus air mata di pipinya dan menyalakan keran. Sekali lagi, dia membasuh mukanya. Membaurkan air matanya dengan air yang mengalir keluar dari keran.

***

Tiba-tiba aroma sedap menerobos hidung, saat Nola keluar dari kamar mandi. Hans terlihat duduk di kursi meja makan dan menyantap sesuatu. Nola berjalan mendekati Hans dan langsung duduk di kursi di depan Hans. Dan benar, di meja sudah ada satu mangkok mie lagi untuk Nola.

“Terima kasih untuk makanannya,” kata Nola yang kemudian langsung menyantap mie kuah rasa soto di depannya.

Entah mengapa hari itu, bagi Nola, itu adalah mi paling enak yang pernah ia makan. Entah karena dia begitu lapar, atau karena memang mi instan edisi 2010 ini berbeda dari yang dia makan di masa depan.

Hans dan Nola pun makan dalam diam. 

Keduanya benar-benar lapar hingga tak ada yang ingin mereka pedulikan sekarang selain mi kuah, telor, dan beberapa helai sawi yang ada di mangkok masing-masing. Juga dua gelas teh lemon di hadapan mereka. Ini adalah makanan terenak yang dimakan keduanya setelah roti isi coklat dari abang asongan yang tadi sempat mengganjal perut.

***

               “Baju pacar lo?” kata Nola usai menuntaskan semangkok mi nya.

Hans tidak menjawab dan masih fokus menatap layar HP-nya.

               “Oh iya, kalau lo versi tahun ini pulang ke rumah gimana? Kalian nggak boleh ketemu sama lain.”

Hans mulai tertarik dengan teori Nola dan kini mengalihkan perhatiannya ke Nola.

               “Kenapa?”

               “Serius lo nggak pernah nonton Harry Potter?”

Cowok itu hanya menganguk lalu meletakkan HP-nya di meja. Lalu melipatkan kedua tangannya seolah menagih penjelasan lebih lanjut dari Nola.

               “Kalau lo versi masa lalu dan masa depan ketemu, lo bakal gila di masa depan. Karena itu bakal mengacaukan pikiran lo karena perbedaan waktu ini,” jelas Nola.

               “Oh…”

Nola tampak heran dengan respons Hans itu.

               “Cuma ‘oh’ ?”

               “Terus gue harus ngomong apa?”

               “Ya kita harus mikirin gimana kita pergi dari sini kalau nanti diri lo di masa lalu pulang ke rumah. Ya kalau lo mau gila sih nggak apa-apa,” jelas Nola.

               “Gue nggak bakal pulang lagi ke sini,” kata Hans.

               “Hah? Lo ngomong apa?”

               “Hari ini, hari gue pergi dari rumah ini dan nggak balik lagi. Jadi tenang aja.”

Tiba-tiba tangan Hans meraih mangkok di hadapan Nola dan menumpuknya dengan miliknya. Ia lalu membawa mangkok-mangkok itu menuju dapur.

               Entah kenapa Nola merasa ada yang aneh dengan Hans saat mengucapkan kalimat barusan. Tenggorokan pria itu seperti tersedak sesuatu. Seolah kalimat itu sangat susah diucapkan. 

Meski kepo setengah mati, Nola berusaha menahan diri untuk tidak bertanya. Sama seperti dirinya, mungkin Hans juga sama emosionalnya dengan Nola saat menyadari bahwa dirinya kembali ke masa lalu.

               “By the way, itu baju adik gue,” kata Hans tiba-tiba.

Setelah itu, yang terdengar di antara mereka hanyalah suara air yang mengalir dari keran.

***

Artikel Asli