Kereta dari Masa Depan - Part 5: Kita Versi Lainnya

Storial.co Dipublikasikan 06.23, 05/08 • Okky Putri Rahayu
Kita Versi Lainnya

Hans menyodorkan botol air minum ke Nola yang duduk di trotoar. Karena haus dan kehilangan nalar, Nola meraih botol itu dengan terburu. Lalu segera membuka tutupnya dan minum. Dan akhirnya, air melintasi tenggorokannya yang sedari tadi kering.

               Hans ikut duduk di samping Nola. Matanya melirik ke jam tangannya, dan waktu menunjukkan pukul 22.15. Dia juga meneguk air minum yang dibelinya dari tukang asongan yang mangkal tak jauh dari mereka.

               “Gimana ceritanya ini 2010? Berarti ini 10 tahun lalu?” Nola mengatakannya dengan nada penuh putus asa.

               “Tenang dulu,” kata Hans.

               “Lo gila nyuruh gue tenang? Kita balik ke masa lalu ini masuk akal nggak sih?”

Hans meletakkan botol air minumnya dan menatap Nola.

               “Terus gue mesti nyuruh lo apa? Lapor ke kantor polisi? Bilang ke orang-orang kalau kita dateng dari kereta tahun 2020? Orang bakal mikir kita ini gila.”

               “I already am,” sahut Nola.

               “But I’m not.

Nola melongo heran dengan lelaki di sebelahnya itu. Pria yang sedari tadi bersikap tenang padahal hidup mereka sedang berada di ambang nalar dan kegilaan.

               “Oh ya? Lo nggak ngerasa gila dengan semua ini? Trus saran lo apa sekarang? Ha? Berhubung otak lo masih waras. Karena gue udah nggak bisa mikir,” sahut Nola.

               “Pertama, kasih gue duit sepuluh ribu.”

               “Hah?”

               “Serius, gue belum bayar air ke abang itu.”

Nola tertawa kesal.

               “Lo nggak punya uang tunai?”

               “Hei, 2020 udah wajar kali kalau cashless. Ada uang elektronik di mana-mana.”

               “Ya tapi masa lo nggak ada cash sama sekali.”

               “Tadi gue buru-buru, mau tarik duit di ATM belum sempet. Dan udah mikir mau narik duit di stasiun tujuan.”

               “Gue nggak nyangka harus terjebak sama orang nggak punya duit kayak lo,” kata Nola sambil mendengus kesal.

Nola lalu membuka tas selempangnya, merogoh dompet dan mengeluarkannya. Kini dia terdiam.

               “Kenapa?”

               “Gue juga nggak ada cash,” ucap Nola. “Abangnya nggak bisa dibayar pakai scan barcode?”

Hans menggaruk pelipisnya, tampak bingung. Matanya memutar dan mencari ATM. Ketemu, Hans melihat ATM sebuah bank di seberang.

               “Tunggu sini, gue ke ATM dulu.”

               “Gue sendiri? Nggak ah, ikut.” Sahut Nola cepat.

               “Lo mau ngerampok gue?”

               “Apaan sih?! Gue juga perlu ambil duit kan.”

               “Kalau kita sama-sama cabut, itu ntar kita dikira kabur sama abang yang jual.”

               “Bang!! Kita ke ATM bentar ya. Kalau nggak percaya, ikutan deh!” teriak Nola tiba-tiba ke abang asongan. Si abang tampak mengangguk tapi mulai memelototi mereka seolah menjaga mangsa agar tak kabur.

Hans langsung berdiri dan berjalan menuju ATM. Nola mengikutinya dari belakang.

               “Stop!” kata Hans saat Nola mulai ikut masuk ke bilik ATM.

Nola perlahan mundur.

               “Yaelah, takut amat. Malu ya ketahuan saldo?”

Hans langsung menutup pintu dan membiarkan Nola di luar. Sambil menuggu Hans, Nola melihat ke arah abang asongan. Tatapannya masih melotot dan memandangi Nola. Dua botol air mineral itu memang mengubah Hans dan Nola jadi buronan abang asongan.

               Tiba-tiba pintu ATM terbuka dan Hans mendongak keluar.

               “Semua kartu gue nggak bisa,” katanya.

Nola langsung membuka lebar pintu dan merangsek masuk ke dalam ATM.

               “Kalau nggak ada saldo ngaku aja,” celetuk Nola.

Ia pun langsung mengeluarkan dompet, mengambil kartu ATM. Memasukkannya. Memencet pin. Dan, gagal.

               “Hah?”

Hans mengintip tulisan di layar. Sama persis seperti seperti miliknya barusan.

               “Kartu gue baik-baik aja kok. Ada duitnya sumpah. Meskipun nggak banyak.”

Nola mengeluarkan HP nya di kantong, dan masih tidak bisa menemukan sinyal.

               “Gue punya mobile banking kok, harusnya bisa gue cek kalau ada jaringan”

Hans menyandar ke dinding dan tampak memikirkan sesuatu.

               “Jadi, kita nggak bisa pakai barang kita dari masa depan?” kata Nola tiba-tiba.

               “Percuma juga gue nabung kalau ending-nya nggak bisa dipakai gini,”

               “Woohoo, sombong banget sih, emang berapa tabungan?”

Hans tidak menjawab dan melenggang keluar bilik ATM. Nola mengeluarkan kartunya dan memasukkannya kembali ke dompet. Saat akan keluar dari pintu, Hans kembali masuk dan membuat Nola kembali terdorong masuk.

               “Apaan sih?”

               “Kita bayar minum pake apa?”

Nola menelan ludah dan tampak kebingungan pula. Keduanya kini saling berhadapan di dalam bilik ATM yang ukurannya tidak terlalu besar. Nola juga bingung bagaimana mendefiniskan perasaannya saat ini karena begitu mepet dengan seorang pria asing.

               Hans mengalihkan tatapannya dari Nola. Keduanya mendadak canggung di ruang ATM beukuran 1,5x1,5 meter itu.

               Dok!Dok! Tiba-tiba seseorang menggedor pintu. Nola dan Hans terkaget dan menatap seseorang yang berada di luar. Dan ternyata, si abang asongan sudah menanti di depan.

               “Seumur hidup gue, gue nggak pernah nyolong, atau makan minum dan nggak bayar,” kata Hans.

               “Menurut lo gue pernah? Semiskin-miskinnya gue, gue nggak bakal beli kalau nggak punya duit.” Nola memakai tas selempangnya. “Awas!” katanya sambil meminta Hans minggir.

               Nola keluar bilik ATM dan berhadapan langsung dengan abang asongan.

               “Error bang mesinnya,” kata Nola dengan wajah memelas.

Si abang asongan menatap Nola, dan Hans yang juga sudah keluar dari bilik.

               “Hmm, pacar kau nggak punya uang?” ucap abang asongan sambil menatap hans.

Hans sudah bersiap membuka mulut untuk menjawab, tapi Nola langsung mencubit lengannya.

               “Sama. Kita nggak bawa cash. Atau abang mau aku transfer aja nanti kalau udah bisa ATM nya?”

               “Hmm, bawa aja lah. Kasihan kali kau ini. Punya pacar nggak punya uang,” ucap abang asongan lalu menyodorkan sebungkus roti. “Nih!”

Nola menerima roti itu sambil tersenyum dan Hans menahan emosi dengan ucapan abang asongan.

               “Yaudah lah, abang pulang dulu. Mending kau pacaran sama abang aja lah, Neng,” kata abang asongan lagi.

Nola masih memaksakan senyumnya meski rasanya ingin menimpuk orang ini dengan sepatu. Dan setelah si abang asongan pergi menjauh, Nola berbalik menatap Hans.

               “Apa gunanya gengsi kalau nggak bisa nyelesaiin masalah?!” celetuk Nola.

***

Hans dan Nola kembali duduk di trotoar. Nola membagi kue yang diberikan abang asongan menjadi dua bagian.

“Nih,” katanya sambil menyodorkan setengah bagian ke Hans.

Hans tidak menerima itu.

               “Lo makan aja,” kata Hans.

Dan tak lama perutnya berbunyi.

               “Nih, nggak usah gengsi dan sok tenang. Kita sama-sama nggak punya duit,” kata Nola sambil menyodorkan lagi kuenya ke Hans.

Hans menerima itu , dan Nola tampak tersenyum.

               “Heh! Gue tahu harus ke mana,” kata Hans tiba-tiba.

Nola menatap Hans sambil menggigit roti selai cokelat.

               “Kalau ini 10 tahun lalu, berarti gue ada tempat tinggal deket sini,” katanya tiba-tiba.

Nola hanya mengedip-kedipkan matanya, tanda heran.

               “Ya lo mikir sendiri juga, sepuluh tahun lalu lo tinggal di mana?”

Nola mengunyah roti itu sambil berpikir.

               “Sama tante gue, di Pluit.”

               “Jauh banget,” Hans menatap Nola dengan serius. “Ini bukan ajakan apalagi tawaran, kalau lo mau ikut gue ya terserah lo.”

Hans berdiri, memakai tas gitarnya. Nola ikut berdiri.

               “Lo mau ke mana?” tanya Nola heran. “Gue ikut! Secara cuma lo yang bisa paham kondisi gila ini. Gue nggak mau sendiri.

Hans tak menjawab apa pun, dia langsung berjalan dan disusul Nola dari belakang.

***

               Ini adalah hari yang panjang dan melelahkan bagi keduanya. Mereka belum makan dari siang, lelah berjalan dan kini kembali berjalan lagi ke tempat yang dituju Hans. Entah ke mana. Nola tidak yakin dan dia terpaksa percaya pada Hans.

               Keduanya berhenti di sebuah rumah di pemukiman yang tak jauh dari Thamrin Residence Apartment. Nola mengamati rumah satu lantai dengan pagar hitam itu. 

Tapi tiba-tiba, Hans menarik Nola dan mengajaknya bersembuyi di belakang sebuah mobil yang terpakir di depan rumah, saat seseorang tampak keluar dari rumah itu. Nola merapatkan mulutnya dan berusaha keras untuk tidak bertanya ‘ada apa’.

               Pemuda yang baru saja keluar dari rumah itu tampak berjalan pergi. Hans menatap pemuda yang kini hanya keliatan punggungnya itu. Hingga pemuda itu pun hilang di tikungan pertama. Tak lagi terlihat.

               Nola yang bersembunyi di belakang Hans, mengamati bagian punggung Hans.

               “Ha?!!!” Itu lo???!” celetuk Nola tiba-tiba. “Itu lo sepuluh tahun lalu kan?” kata Nola lagi.

***

               Hans membuka pagar yang memang tidak terkunci, lalu masuk ke teras dan merogoh kunci dari dalam waist bag-nya.

               Nola berdiri di belakang Hans, menunggu pria itu membuka pintu. Dia punya segudang pertanyaan tentang teori-teori time travel di kepalanya. Dan membuatnya ingin meledak sekarang.

               Setelah Hans membuka pintu, Nola langsung merangsek masuk dan mencari kursi untuk duduk. Di ruang tamu yang tidak terlalu besar itu, Nola menyandarkan punggungnya di sofa warna merah. Lalu menggeleng-gelengkan kepalanya, seperti tidak percaya.

               “Berarti gue juga punya versi gue sepuluh tahun lalu,” katanya tiba-tiba. “Wah gilaaa!”

Hans menutup pintu dan menguncinya langsung. Mendadak suara dari putaran kunci membuat Nola tersentak. Dia sekarang berada di rumah dengan seorang pria yang baru dikenal. 

Ah sudahlah, Nola sudah tidak berpikir aneh-aneh lagi. Hidupnya saat ini sudah kelewat aneh.

               “Sebenarnya kita ini kenapa sih?”

Hans duduk di salah satu sofa dan tampak menghembuskan napasnya pelan.

               “I got it,” kata Nola tiba-tiba. “Apa ini kesempatan kedua? Kesempatan buat gue ngubah semua keputusan dalam hidup gue.”

Hans tidak merespons. Hanya menatap gadis yang baru ditemuinya tadi siang dan kini dia bawa ke rumah.

               “Oke, ini kayak Harry Potter di seri The Prisoner of Azkaban. Ada gue dari masa depan, dan ada gue di masa lalu. Lo juga,” ujar Nola.

               “Terus?”

               “Gue harus nyelametin diri gue di masa lalu, supaya masa depan gue berubah.”

Hans tertawa.

               “Emang itu masuk akal?”

               “Lo kira hidup kita jadi masuk akal sejak kita naik kereta tadi?”

               “Nggak. Besok kita harus naik kereta itu lagi dan balik ke masa depan.”

               “Ini bagus lagi, gue bisa memperbaiki masa depan gue. Lo nggak mau?”

Teori Nola memang terdengar konyol buat Hans. Tapi, itu terdengar seperti kesempatan emas yang menyenangkan. Ya, memang ada beberapa hal di masa lalu yang ingin Hans ubah. Mungkin ini waktunya.

               “Jadi?” tanya Hans sambil menunggu teori lanjutan dari Nola.

               “Oke, pertama-tama. Gue mau tanya?”

               “Apa?” sahut Hans cepat.

               “Kamar mandi sebelah mana? Gue kebelet pipis!” seru Nola .

***

Artikel Asli