Kereta Kencana di Bandung

kumparan Dipublikasikan 07.14, 13/08/2020 • BriiStory
Kereta Foto: Pixabay

Hampir di setiap daerah memiliki kisah misterinya sendiri, cekam ceritanya terus dirasakan oleh setiap generasi.

Malam ini, kita akan membahas satu cerita misteri yang pernah beredar di kota Bandung, tentang kereta kencana.

Simak di sini, di Briistory.

***

Untuk anak Bandung tahun 1990-an sampai 2000-an harusnya pernah tahu atau minimal mendengar cerita tentang kereta kencana.

Kereta kencana yang bukan kereta kencana biasa, tapi kereta yang kemunculannya sepertinya mustahil, janggal, dan susah dicerna dengan akal sehat.

Kereta kencana ini, banyak orang bilang merupakan kereta kencana yang digunakan oleh raja dan keluarga kerajaan pada zaman dahulu kala, malah ada yang bilang kalau kereta kencana ini merupakan alat transportasi yang digunakan oleh prabu Siliwangi.

Bentuknya sangat klasik, berukuran besar, bergerak menggunakan empat roda kayu, ditarik oleh beberapa kuda ukuran besar, lengkap dengan pengawalnya yang berjalan di depan dan belakangnya.

Kalau memang ini rombongan kereta kencana yang benar berasal dari masa ini, pada acara karnaval misalnya, ya pasti kita akan senang dan terkagum-kagum melihatnya.

Akan beda cerita kalau kita melihat kereta kencana ini di tengah malam buta, dengan bentuk yang benar-benar seperti kereta kuda zaman dahulu kala,

lengkap dengan kusir dan para pengawalnya, sungguh kita akan merasakan keanehan dan pasti diikuti dengan rasa takut, karena kemungkinan besar kalau kereta ini bukan kereta kencana biasa.

Sekitar tujuh tahun lamanya gw menghabiskan waktu tinggal di Bandung, kereta kencana ini salah satu urban legend yang menarik perhatian, kisahnya udah beredar turun temurun katanya.

Dari beberapa teman dan orang-orang yang gw kenal, gw mendengar banyak cerita dengan berbagai versi dan lokasi kemunculannya.

Selain mendengar dari orang lain, gw juga punya pengalaman sendiri dengan kereta kencana ini, salah satunya gw alami bareng bang kopral, teman ketika gw tinggal di Rumah Teteh.

Pengalaman melihat kereta kencana bareng bang kopral pernah gue buat thread, bisa dilihat lagi kalau belum pernah baca.

Berbeda dengan cerita lain, yang katanya kereta kencana muncul di jalan Wastu Kencana, jalan Surya Kencana, atau di bagian kota Bandung lainnya, gue malah melihat kemunculan kereta kencana di Jalan Cipaganti, jalan besar satu arah yang letaknya sejajar dengan jalan Cihampelas.

Jalan Cipaganti ini sangat indah dan sejuk, jalan lebar dengan banyak pohon besar berdiri pada kanan kirinya.

Mayoritas rumah yang ada di Cipaganti ini juga merupakan rumah tua peninggalan zaman Belanda, mengesampingkan aura keangkerannya, Jalan ini adalah jalan bersejarah yang menyimpan banyak cerita.

Pengalaman pertama gw bersinggungan dengan Kereta Kencana di Cipaganti terjadi sebelum gw tinggal di Rumah Teteh, kalo gak salah tahun kedua gw kuliah.

Agak lupa awalnya, tapi waktu itu gw sedang bersama Bey dan Gugun, dua teman satu kelas di kampus. Kami bertiga dalam perjalanan pulang dari suatu tempat, kebetulan jalur yang ditempuh memang harus lewat Cipaganti.

Yang pasti waktu itu sudah lewat tengah malam, kira-kira jam satu dini hari.

Dalam keadaan lelah setelah berkegiatan, kami bertiga masih bisa berbincang bersenda gurau. Katana merah yang gw kendarai, membelah tengah kota yang sebagian besar penduduknya sudah lelap di peraduan.

Kami memang sekumpulan mahasiswa yang senang bercanda, bagaimana pun situasinya, gak habis-habis bahan obrolan dan candaan, seperti juga pada malam itu.

Singkat cerita, akhirnya kami mulai memasuki jalan Cipaganti.

Cipaganti sudah sangat sepi, hanya satu dua kendaraan yang terlihat melintas. Sementara kami masih saja berbincang cekikikan di dalam mobil.

Situasi sangat normal sampai ketika kami harus berhenti di perempatan pertama, lampu merah pertama.

Di perempatan itu kami masih melihat satu kendaraan menyeberang dari arah kanan.

Gw ingat, kalau itu adalah kendaraan terakhir yang terlihat sebelum peristiwa janggal yang kami alami nantinya.

Detik berikutnya, lampu berubah menjadi hijau, gw menginjak pedal gas, mobil melaju pelan..

Kami bertiga yang sebelumnya berbincang seru, tiba-tiba diam tak bersuara, karena menyadari kalau ada sesuatu yang tengah terjadi.

Jalan Cipaganti yang sedang kami susuri itu mendadak sepi, seperti gak ada kehidupan.

Sepi..

“Kok tiba-tiba sepi ya? Serem amat.” Begitu Gugun bilang.

Gw dan Bey berpikiran sama, kami merasakan apa yang Gugun rasakan.

Tapi walaupun begitu, gw terus injak pedal gas.

Sebegitu sepinya, hanya suara mesin mobil kami yang terdengar memecah sunyi.

Sampai akhirnya, Bey yang sendirian duduk di belakang, tiba-tiba mendekatkan posisi duduknya jadi ke depan.

“Ada kereta kuda di belakang,” kata Bey pelan.

Detik berikutnya, gw mendengar suara, suara yang bersumber dari luar, dari belakang mobil.

Jendela mobil yang gak tertutup penuh, menjadikan suara itu sangat jelas kedengarannya.

Kami mendengar suara ringkik dan suara langkah kaki kuda, ada bunyi kliningan juga, lengkap.

Refleks, gw melihat ke kaca spion mobil..

Benar kata Bey, di belakang kami ada kereta kuda yang bentuknya benar seperti kereta kencana.

Kereta kencana itu berjalan tepat di belakang.

Kami terdiam gak berani bicara apa-apa, selagi gw menginjak pedal gas dalam-dalam. Mobil melaju kencang membelah Cipaganti.

Sekali lagi gw melirik kaca spion, kereta kencana masih ada terlihat, walau jaraknya sudah menjauh dan semakin menjauh.

Sampai akhirnya gak kelihatan lagi, karena di ujung Cipaganti kami berbelok ke kanan.

Begitulah pengalaman ketika gw pertama kali melihat kereta kencana gaib di Bandung.

***

Berikutnya, gw akan bercerita dua kisah yang dialami oleh dua teman.

Cerita pertama, kejadiannya sekitar awal 1990-an, dialami oleh kakak dari teman kuliah gw, Virgo namanya.

Virgo kuliah di UNPAD, kebetulan kampusnya masih di Dipatiukur, belum pindah ke Jatinangor. Waktu itu banyak mahasiswa UNPAD yang kost di sekitaran kampus, di Sekeloa, sekitaran Dago, Gasibu, sampai di belakang monumen depan gedung sate, waktu itu tempat kost ya sekitaran itu.

Nah, Virgo ini kebetulan kost di daerah Sekeloa, tapi punya teman sekelas yang kost di belakang rumah sakit Santo Borromeus, di jalan Surya Kencana tepatnya.

Teman Virgo ini kita sebut saja namanya Andi.

Andi kost di rumah besar bertingkat, di dalamnya ada beberapa kamar, Andi menempati kamar di lantai atas, ada teras di depan kamar. Kamar dan terasnya menghadap ke jalan depan rumah, ya jalan Surya Kencana itu.

Rumah kost dengan arsitektur zaman Belanda, tipikal rumah besar yang ada di Bandung. Rumahnya cukup nyaman, tapi menurut Virgo rumah ini seperti banyak menyimpan cerita, cerita yang mungkin sangat menyeramkan.

Pikiran Virgo mungkin saja benar, namanya juga rumah berumur puluhan tahun, atau mungkin lebih dari itu, tentu saja punya banyak cerita dari rentang waktu yang melewati beberapa zaman.

Hingga akhirnya peristiwa itu terjadi, peristiwa yang masih Virgo ingat sampai saat ini.

Entah sudah yang ke berapa kalinya menginap di tempat kost Andi, Virgo memang sudah beberapa kali menginap di situ. Berbagai alasan dia menginap, dari karena sudah kemalaman untuk pulang atau memang karena tempat kost Andi jauh lebih nyaman dari pada tempat kosnya sendiri.

Gak tahu waktu itu alasannya apa, tapi sudah jam sepuluh malam Virgo masih saja di kost Andi.

“Ndi, gw nginep sini aja ya, males pulang nih.” Kata Virgo kepada Andi.

“Ya udah, nginep sini ajalah. Tapi gw mau tidur cepet ya, belum tidur dari kemarin.” Ucap Andi.

Begitulah, akhirnya Virgo bermalam juga di situ, sekali lagi.

Setelahnya, Virgo anteng di depan komputer bermain game, sementara Andi berpegang teguh pada omongannya untuk tidur cepat.

Singkat cerita, akhirnya jam sudah menunjukkan pukul 12 lewat tengah malam.

Virgo yang belum juga mengantuk, memutuskan untuk selesai main game lalu keluar kamar menuju teras.

Teras depan kamar bentuknya memanjang dengan pagar tembok pendek jadi pembatas dengan atap rumah, seperti yang diceritakan di awal tadi, teras menghadap ke jalan Surya Kencana. Di teras ada kursi besi lengkap dengan mejanya, Virgo duduk di kursi itu sambil mengangkat kaki.

Jalan Surya Kencana ini gak panjang, mungkin hanya beberapa ratus meter saja, diapit oleh jalan Teuku Umar dan jalan Hasanudin.

Di kanan kirinya berdiri pohon-pohon besar dan rindang, sampai sekarang pun keadaannya tetap sama, pepohonan besar masih berdiri kokoh.

Tahun 1990-an Bandung masih terbilang dingin, suhu rata-rata masih di kisaran 14 derajat celsius, atau mungkin lebih dingin lagi kalau di wilayah Dago.

Lampu teras memang sengaja dimatikan oleh virgo, membiarkannya gelap.

Duduk santai sambil mengangkat kaki, Virgo menikmati udara malam. Sebungkus rokok menemani tubuhnya yang sesekali bergidik kedinginan.

Jalan Surya Kencana ini bukan jalan umum, manjadikannya sangat sepi, jarang sekali ada kendaraan yang melintas. Benar-benar sepi..

“Sepi amat nih Jalan,” Sungut Virgo dalam hati.

Benar-benar sepi, walaupun sesekali dari kejauhan terdengar suara kendaraan melintas di jalan Juanda dago, yang letaknya gak jauh dari situ.

Hembusan asap rokok terus keluar dari mulut Virgo, yang gak terasa sudah hampir satu jam duduk sendirian.

Sesekali angin berhembus meniup pepohonan, menghasilkan suara khas memecah sepi. Udara dingin menembus kulit, mengelus wajah, membuat Virgo mulai mengantuk dan mulai merasa nyaman dan semakin nyaman..

Sampai akhirnya, ada sesuatu yang membuat Virgo terjaga!

***

Tiba-tiba angin berhenti bertiup, malam yang sudah sepi jadi semakin hening.

Amat sangat sepi, gak terdengar suara apa-apa, kosong.

Virgo merasakan ini, merasakan kalau ada perubahan.

Malam yang tadinya cerah, berangsur menjadi gelap diselimuti oleh kabut tipis yang datang tiba-tiba.

Udara terasa semakin dingin, Virgo mulai semakin menggigil kedinginan.

“Dingin amat, masuk kamar aja ah.” Begitu kata Virgo dalam hati.

Lalu dia berdiri berniat untuk masuk kamar.

Tapi, belum juga membuka pintu, Virgo berhenti melangkah..

Karena tiba-tiba dia mendengar suara yang menarik perhatiannya.

Dari kejauhan ada suara yang aneh, tapi tertangkap telinga.

Yang pertama terdengar adalah suara ringkik kuda.

Setelah ringkik kuda, Virgo seperti mendengar suara langkah kaki kuda, suara tapak kuda yang bertemu dengan aspal jalanan.

Semuanya terdengar dari kejauhan, tapi jelas.

Virgo kemudian memperhatikan dengan seksama jalan Surya Kencana yang semakin pekat tertutup kabut.

“Itu suara apa? Kok kaya suara kuda?” Kata Virgo dalam hati.

Suara langkah kuda yang diiringi sesekali oleh ringkiknya itu semakin lama semakin jelas terdengar, menandakan kalau sang sumber suara semakin dekat jaraknya, walaupun sama sekali Virgo belum bisa melihat penampakannya.

Pada saat itu yang ada di pikiran hanya rasa penasaran, gak ada yang lain, makanya Virgo terus menatap jalan dengan seksama.

Beberapa puluh detik kemudian, Virgo akhirnya menyadari kalau semua bunyi itu berasal dari sebelah kanan, berasal dari arah jalan Teuku Umar, yang kemudian semakin mendekat ke rumah kost Andi.

Mengucek-ngucek mata, mencoba menajamkan penglihatan, menembus pekat kabut tipis, Virgo akhirnya bisa melihat sesuatu.

Dari arah kanan, muncul dua orang yang sedang berjalan kaki, dua orang ini berpakaian layaknya pengawal kerajaan, bertelanjang dada, mengenakan kain yang melilit di pinggang, lengkap dengan tongkat panjang di tangan kanan.

Dua orang itu berjalan dengan langkah tegap, menembus kabut malam, melintasi jalan.

Ketika masih bertanya-tanya dalam hati, tentang siapakah dua orang ini, tiba-tiba di belakang mereka muncul lagi dua orang dengan penampilan sama persis, berseragam layaknya pengawal kerajaan.

Masih terbengong-bengong, Virgo semakin terperangah ketika di belakang empat orang pengawal itu muncul empat kuda yang sedang berjalan menarik kereta di belakangnya, belakangan Virgo yakin kalau ini adalah kereta kencana.

Empat kuda berbaris dua-dua, menarik kereta kencana. Kereta kencana ini bergerak menggunakan empat roda. Di atas bagian depan, duduk seseorang yang sepertinya bertugas sebagai kusir.

Di bawah remang cahaya seadanya, terhalang oleh pekatnya kabut. Virgo melihat semua itu.

Kereta kencana besar dengan pengawal yang berjalan di depan dan belakangnya, melintas di jalan Surya Kencana.

Satu pemandangan yang sangat gak masuk di akal!

Sontak Virgo langsung lari masuk ke kamar dan membangunkan Andi.

“Ndi, bangun Ndi, bangun. Ayo antar gw ke depan rumah, cepetan Ndi.” Panik Virgo membangunkan Andi.

Masih gelagapan, tapi Andi ikuti kemauan Virgo.

Lalu mereka turun ke lantai satu, keluar rumah menuju halaman.

“Ada apa sih Go? Lo ngeliat apa? Panik amat.” Tanya Andi yang nyawanya masih belum terkumpul.

“ Ada kereta kencana Ndi, tadi melintas di jalan ini, jalan ke arah sana.” Kata Virgo sambil menunjuk ke arah jalan Hasanudin.

Tapi saat itu Virgo dan Andi gak melihat ada apa-apa lagi, Surya Kencana sudah sepi, kabut pun tiba-tiba menghilang, malam kembali cerah seperti sedia kala.

“Kereta kencana? Serius lo? Gak mimpi?” Tanya Andi.

“Bener ndi, gw yakin.”

“Ya udah, masuk yuk. Gw ceritain di dalem aja” kata Andi.

Lalu mereka kembali ke dalam kamar.

Di kamar Andi dan Virgo membahas kemunculan kereta kencana itu, yang kebetulan Andi sudah pernah mendengar ceritanya.

***

Cerita berikutnya adalah pengalaman yang dialami oleh Ivan, mahasiswa salah satu kampus di jalan Dipatiukur angkatan 2005.

Ivan sendiri yang akan bercerita langsung, simak ya…

***

Angin yang berhembus pelan, tiba-tiba berhenti. Kendaraan yang tadinya melintas sesekali, tiba-tiba gak terlihat lagi. Riuh gema suara dedaunan sedikit ramai sebelumnya, jadi hening juga dalam diam.

Aku merasakan semua, Bandung gak pernah sesepi ini, tengah malam sekalipun..

Nyaris jam satu malam, aku menunggu Rendy temanku untuk menjemput. Terpaksa menunggu di jalan Cipaganti karena travel dari Jakarta yang aku tumpangi punya perhentian terakhir di Jalan Cihampelas.

Rendy memintaku untuk berjalan sedikit ke Cipaganti supaya dia gak harus berputar ke Cihampelas untuk menjemputku.

Begitulah..

Sambil membetulkan lagi posisi tas punggung, sekali lagi aku perhatikan sekeliling.

Jalan Cipaganti ini sepinya gak pake takaran, heningnya gak ada gambaran.

Terus aku perhatikan jalan dari ujung satu dan ujung satunya lagi. Menegaskan situasi yang sebenarnya sudah aku sadari sejak dari belasan menit tadi, fakta kalau ternyata aku benar-benar sendirian, gak ada orang lain lagi.

Aku sendirian..

Sedikit membesarkan hati, aku pikir mungkin ini hanya momen kebetulan, kebetulan semua instrumen alam berhenti secara bersamaan, lalu menghasilkan sepi seperti ini. Mungkin saja kan..

Ya sudah, aku gak bisa ke mana-mana juga, hanya berdiri menunggu Rendy datang menjemput.

Oh iya, sudah dua kali dalam rentang lima menit aku melihat layar ponsel, ternyata gak ada sinyal. Waktu yang sangat tepat untuk mengalami gangguan, aku jadi gak bisa menghubungi Rendy untuk memberi tahu kalau aku sudah sampai.

Kaki pegal karena sudah cukup lama berdiri, lalu aku memutuskan untuk duduk di atas trotoar, masih di pinggir jalan.

Lampu lalu lintas yang letaknya gak jauh dari tempatku duduk, tetap menjalankan tugasnya dengan baik, terus menyala berganti warna walaupun sama sekali gak ada kendaraan di empat ruas jalan perempatannya.

"Duh, lama banget sih Rendy gak nongol-nongol." Aku bergumam sendiri.

Sekali lagi melihat layar ponsel, masih saja gak ada sinyal.

Setelahnya, aku terhenyak sadar, ketika merasa ada kejanggalan.

Tiba-tiba suasana menjadi amat sangat sepi, melebihi sepinya beberapa belas menit tadi. Kali ini heningnya keterlaluan, mencekam perasaan dan penglihatan.

"Ada apa ini, kok aneh." Ucapku dalam hati, sambil merasa kalau mulai kehilangan nyali.

Lalu, ada hembusan pelan angin dingin, menerpa wajah mengelus kulit.

Sejauh mata memandang, jalanan Cipaganti sangat sepi, tapi kosongnya bicara, heningnya seperti bercerita.

Beberapa detik kemudian, akhirnya aku melihat sesuatu, ada pergerakan.

Di kejauhan, ada pergerakan orang, ada dua orang.

Kabut tipis yang mulai turun memang sedikit membatasi penglihatan, tapi aku masih dapat menangkap pemandangan itu.

Dua orang yang masih belum kelihatan jelas, tapi sudah terlihat kalau mereka sedang berlari kecil di tengah jalan, mendekat ke tempat aku yang sedang berdiri di bawah pohon besar, sebelum lampu merah.

Siapa dua orang itu? ngapain mereka lari kecil di Cipaganti malam-malam?

Pertanyaan-pertanyaan itu belum lagi terjawab, ketika detik berikutnya aku melihat kalau mereka ternyata gak hanya berdua, aku tersadar akan hal itu ketika mereka terus mendekat dan semakin mendekat.

Ketika jarak kami hanya tinggal belasan meter, jelaslah kalau dua orang itu memang gak sendirian, ada beberapa orang lagi di belakangnya, berlari kecil di depan kendaraan yang bergerak ditarik oleh beberapa kuda tinggi besar.

Iya, beberapa orang yang berlari kecil paling depan ternyata seperti sedang mengawal kereta kuda di belakangnya, kereta besar beroda empat dengan ukiran-ukiran cantik menghiasi setiap sisinya.

Ringkik suara kuda dan suara tapak-tapak kakinya yang bersentuhan dengan aspal jalanan, terdengar semakin jelas karena mereka terus saja semakin mendekat.

Aku terperangah seperti terhipnotis, antara mencekam ketakutan dan kagum terpesona akan keindahan kereta kencana.

Kereta kencana yang sepertinya sangat mustahil keberadaanya di tengah malam seperti ini, gak mungkin..

Sampai akhirnya, mereka benar-benar melintas persis di depanku.

Para pengawal kereta, berseragam layaknya tentara kerajaan, lengkap dengan topi dan tombak di tangan. Kusir yang duduk di depan pun sama, berseragam juga.

Benar, kereta kencana ini besar, empat roda kayu menjadi alat bergeraknya. Banyak bagian kereta berwarna kekuningan layaknya emas. Benar-benar indah..

Di hadapanku, kereta mengurangi kecepatan, pada saat inilah aku dapat melihat kalau jendela kereta yang berada di samping dalam keadaan terbuka.

Iya, jendelanya terbuka, aku jadi bisa melihat ke dalam.

Dalam penerangan yang kurang, aku melihat ada dua orang duduk di dalam. Duduk berdampingan.

Masih sedikit berbentuk siluet, tapi aku dapat melihat dan memastikan kalau mereka adalah sosok laki-laki dan perempuan. Aku dapat membedakannya dari mahkota yang ada di kepala mereka.

Jarak kami hanya beberapa meter, membuatku cukup jelas melihat semuanya. Terpaku diam memperhatikan dalam ketakutan.

Aku melihat semuanya, kereta kencana yang melintas di jalan Cipaganti, tengah malam buta.

Lalu mereka kembali terus bergerak ke arah jalan Setia Budi, meninggalkanku sendirian. Terus menjauh dan semakin menjauh, sampai akhirnya menghilang di kegelapan ujung jalan Cipaganti.

Aku langsung terduduk lemas di atas trotoar, coba mencerna peristiwa apa yang baru saja terjadi.

Beberapa detik kemudian, waktu terasa mulai bergerak berputar kembali, setelah sebelumnya seperti total berhenti.

Satu dua kendaraan muncul melintas, kehidupan muncul lagi.

Sampai akhirnya, Rendy datang, kemudian aku masuk ke mobilnya, lalu kami pergi meninggalkan Cipaganti.

"Gw dari tadi udah muter-muter Cipaganti tiga kali tapi lo gak keliatan aja, kenapa tiba-tiba tadi ada? lo ngumpet di mana Van?"

Aku masih shock, belum mampu menjawab pertanyaan Rendy.

Masih trauma dengan peristiwa janggal di jalan Cipaganti yang baru saja terjadi.

Hai,

Balik lagi ke gw ya, Brii.

Begitulah beberapa kisah seram tentang kereta kencana gaib di bandung, maaf kalau ada kekurangan.

Sekian cerita kali ini.

Tetap sehat, supaya bisa terus merinding bareng.

Met bobok, semoga mimpi indah.

Salam,

~Brii~

Artikel Asli