Kenapa Dokter Tak Tangani Pasien COVID-19 Juga Tertular? Curhat Dokter Ini Viral!

Trending Now! Dipublikasikan 03.00, 30/05

Masih banyak sekali masyarakat yang bandel dan tidak menaati instruksi pemerintah, bahkan peraturan mudah untuk mengenakan masker ketika berada di luar rumah pun tidak dipatuhi. Padahal masker dapat melindungi orang lain dan dari sendiri dari infeksi Covid-19, karena banyak orang yang positif virus korona tidak mengalami gejala namun dapat menyebarkan virus tersebut ke orang lain. 

Hal tersebut seperti diceritakan oleh seorang dokter bedah melalui akun Twitter-nya @incitu. Kisahnya itu kini viral hingga telah disukai belasan ribu warganet.

Saya cerita kasus saya dulu dg covid 19, baru lanjut ke kiat2nya survive, gak pake masuk segala wisma atau RS.
Saya dokter bedah di RS rujukan covid. Posisi second line justru berpotensi terinfeksi lebih besar, krn awal2 merebaknya covid kita cuma pakai APD masker bedah biasa pic.twitter.com/7NnSDOswmE

— 🌮 (@incitu) May 26, 2020

Sang dokter bekerja di 3 rumah sakit berbeda yang termasuk rujukan penanganan Covid-19. Namun karena profesinya second line karena tidak secara langsung dan konstan menangani pasien yang terinfeksi Covid-19. 

Namun, berada di second line justru menimbulkan potensi terinfeksi lebih besar karena ia hanya mengenakan masker bedah biasa. Ia tidak menggunakan masker N95 dan alat pelindung diri (APD) karena pada waktu itu jumlahnya terbatas dan diutamakan bagi tenaga kesehatan yang kontak langsung dengan pasien di ruang isolasi.

Ia pun telah dihimbau untuk tidak melakukan bedah elektif, yang adalah tindak bedah di mana dapat dilakukan penundaan tanpa membahayakan nyawa pasien. "Sudah beredar himbauan untuk tidak operasi kasus elektif, saya tetap operasi; karena kasihan pasiennya," cuitnya di Twitter.

Tetapi pada 27 Maret lalu, ia mulai mengalami mampet pada hidung. Pikirnya adalah pilek, namun ia juga khawatir karena juga salah satu gejala terinfeksi Covid-19. 

Tiga hari kemudian ia menjalani rapid test di salah satu RS tempat prakteknya, namun hasilnya adalah negatif. Karena selama seminggu lebih masih mengidap flu, ia lantas memperketat alat pelindung dirinya dengan mengenakan tambahan face shield (plastik mika pelindung wajah) hingga kacamata goggle. Selain untuk melindungi diri sendiri, upaya ini dilakukannya sebagai langkah pencegahan agar tidak menginfeksi orang lain.

Setiap hari bertugas di rumah sakit, ia memeriksa suhu tubuhnya namun hasilnya menunjukkan di angka yang normal. Ia tetap berolahraga dengan lari pagi setiap harinya agar badan tetap fit. Sang dokter juga memutuskan untuk mengkonsumsi Levofloxacin yang merupakan obat antibiotik yang berfungsi mengatasi bakteri sinus dan pneumonia.

Khawatir flu tidak kunjung mereda, ia sempat meminta agar menjalani tes Covid-19 kembali di RS yang berbeda, namun ditolak karena diutamakan bagi orang-orang yang menunjukkan gejala sedangkan sang dokter pada saat itu dinilai masih sehat dan kuat.

Tetapi, ia akhirnya mendapat kesempatan untuk menjalani rapid test dan juga tes swab setelah seorang pasien yang ia tangani meninggal dunia secara mendadak. Hasil rapid test kembali menunjukkan tidak reaktif alias negatif Covid-19.

Sambil menunggu hasil tes swab, ia tetap bertugas dan menjalani sehari-harinya di rumah sakit mengenakan APD lengkap. Prosedurnya ketika sampai di rumah setelah bertugas di rumah sakit pun untuk segera mandi dan menjauhkan pakaian serta APD-nya dari orang lain. Sang dokter juga memutuskan untuk tidur di kamar lain, mengisolasi diri dari anggota keluarga di rumahnya.

Upaya lain yang dilakukannya untuk menjaga kesehatan adalah dengan makan bergizi dan mengkonsumsi vitamin, olahraga yang cukup, rutin cuci tangan, dan yang terutama adalah istirahat yang cukup agar kondisi fisik tetap optimal.

5. Minum vitamin, makan yg bener, istirahat
6. Saat hidung mampet, hirup uap panas spy ingus mencair dan mudah dikeluarkan
7. Tidak batuk dan buang ingus sembarangan
8. Rutin cuci tangan
9. Lari pagi hindari kerumunan dan pakai masker
10. Minum banyak air putih pic.twitter.com/PVFo8zd2VR

— 🌮 (@incitu) May 26, 2020

Hasil tes swab pun baru keluar 2 minggu kemudian, ternyata sang dokter selama ini telah positif terinfeksi Covid-19. Ia pun sontak tertawa karena kaget dengan hasil tersebut, karena orang yang tidak mengalami gejala memiliki potensi besar untuk menularkan orang lain karena tidak mengisolasi dirinya. "Saya ketawa ngakak pas ditelpon dikabari ini. Saya ini masuk OTG. Orang Tanpa Gejala yg berpotensi sangat besar menularkan orang lain," imbuhnya.

Tetapi untungnya sang dokter bedah semenjak mengalami pertama merasa flu dan pilek, sudah melakukan upaya-upaya pencegahan seperti mengenakan masker dan APD, serta menjaga jarak sosial. Hal-hal yang dilakukannya itu terbukti efektif melindungi orang lain disekitarnya, karena para perawat dan dokter lainnya yang bekerja dengannya hingga kini tidak ada yang sakit tertular olehnya.

Setelah dinyatakan positif, lantas ia meminta obat agar segera sembuh. Namun kembali permintaannya itu ditolak lantaran ia masih sangat fit. Bagi orang yang terkonfirmasi positif Covid-19 namun tidak menunjukkan gejala, protokol yang dianjurkan untuk dilakukan oleh dokter spesialis paru-paru adalah untuk mengisolasi diri di rumah selama 14 hari dan minum vitamin C setiap hari.

saya sangat fit, gak perlu obat.
Besoknya saya diminta swab lagi (Protokolnya: 2 minggu dr swab positif dilakukan swab ulang dan 3 hari kemudian swab lagi)
Sejak saya diketahui positif sampai keluar hasil swab 2 kali saya tidak ke RS. pic.twitter.com/W40UrGZBwj

— 🌮 (@incitu) May 26, 2020

Ia pun kembali meminta agar menjalani tes swab kembali, mengingat sudah 2 minggu setelah ia pertama diperiksa. Hasil tes swab menunjukkan bahwa sang dokter negatif Covid-19. Ia kembali melakukan tes swab 3 hari kemudian untuk memastikan, dan hasilnya pun juga negatif. Sang dokter telah sembuh dari virus Covid-19.

"Memakai masker dengan benar itu untuk mencegah kita tertular dan menulari orang lain. Makanya walaupun saya 2 minggu dalam kondisi OTG (orang tanpa gejala) tetap kerja, tidak ada rekan kerja, pasien atau anggota keluarga saya yang tertular," terang sang dokter.

Ia juga menyatakan agar tidak khawatir apalagi paranoid karena hal itu dapat menimbulkan stres dan akhirnya menurunkan kesehatan tubuh kita. 

Membaca kisah kesembuhan sang dokter dan bagaimana upaya-upayanya berhasil melindungi orang lain disekitarnya agar tidak tertular, banyak warganet menunjukkan apresiasi atas contoh baik yang telah ditunjukkannya. Sang dokter juga mencoba menenangkan dengan menjawab sejumlah pertanyaan netizen yang cemas.