Kenali Penyakit Autoimun yang Diidap Ashanty, dari Pemicu hingga Tes

Kompas.com Dipublikasikan 05.21, 18/10/2019 • Gloria Setyvani Putri
KOMPAS.com/ Ira Gita
Ashanty saat ditemui dalam acara pembukaan Outlet Ayam Asix ke-8, di kawasan Braja Mustika, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (2/1/2019).

KOMPAS.com - Penyanyi Ashanty didiagnosis mengidap penyakit autoimun.

Istri Anang Hermansyah itu mencoba mengambil hikmah di baliknya, sebagai teguran dari Tuhan.

""Mungkin aku ditegur aku terlalu duniawi. Semua teguran itu pasti karena Allah sayang," kata dalam video berjudul "Pernah Menderita Meningitis, Kini Ashanty Divonis Autoimun" di kanal YouTube Cumicumi, seperti dikutip Kompas.com, Kamis (17/10/2019).

Karena itu pula, Ashanty memutuskan untuk lebih memerhatikan kesehatannya sendiri. Salah satunya dengan membersihkan pikiran dari hal-hal negatif.

"Aku enggak mau stres, karena pemicu paling besar adalah stres. Setelah terapi, udah bener-bener bagus, baru bisa DSA (Digital Substraction Angiography) juga," ujar Ashanty.

DSA merupakan pemeriksaan pembuluh darah otak untuk melihat aliran ke vena.

Namun, apa itu penyakit autoimun dan apa saja gejalanya?

Baca juga: Bisakah Orang dengan Penyakit Autoimun Tertentu Memiliki Penyakit Autoimun Lain?

Penyakit autoimun

Dilansir Healthline, penyakit autoimun merupakan kondisi di mana sistem kekebalan tubuh keliru menyerang tubuh kita.

Sistem kekebalan berfungsi melindungi tubuh dari kuman seperti bakteri dan virus. Ketika tubuh mendeteksi adanya musuh, sistem kekebalan tubuh akan mengirim "pasukan" untuk menyerang kuman tersebut.

Normalnya, sistem kekebalan tubuh dapat membedakan sel asing dengan sel yang ada di tubuh kita.

Namun ketika sistem kekebalan tubuh justru menganggap bagian tubuh sebagai sel asing, tubuh akan melepaskan protein bernama autoantibodi yang justru menyerang sel sehat. Inilah yang disebut penyakit autoimun.

Beberapa penyakit autoimun biasanya hanya menargetkan satu organ seperti Diabetes tipe 1 yang merusak pankreas. Namun, ada juga penyakit autoimun yang memengaruhi seluruh tubuh seperti systemic lupus erythematosus (SLE), mempengaruhi seluruh tubuh.

Pemicu autoimun masih belum jelas

Hingga saat ini, penyebab kenapa sistem kekebalan tubuh menyerang sel sehat belum dapat dipastikan.

Namun, beberapa orang memang lebih mungkin mengalami penyakit autoimun dibanding yang lain.

Menurut studi yang terbit tahun 2014, ilmuwan mengetahui bahwa perempuan lebih berisiko mengalami penyakit autoimun dibanding pria. Perbandingannya 2 banding 1.

Penyakit autoimun dimulai selama seorang perempuan mengalami masa subur, yakni mulai umur 15 sampai 44 tahun.

Selain lebih berisiko menyerang perempuan, penyakit autoimun juga lebih sering terjadi pada kelompok etnis tertentu.

Misalnya, penyakit autoimun lupus lebih banyak dialami orang Afrika-Amerika dan Hispanik, dibanding orang Kaukasia.

Penyakit autoimun tertentu seperti multiple sclerosis dan lupus bisa menular dalam keluarga.

Menular dalam keluarga artinya, tak semua anggota keluarga pasti mengalami penyakit ini. Namun, mereka mewarisi kerentanan terhadap kondisi autoimun.

Tren kenaikan angka kejadian penyakit autoimun membuat para ilmuwan berasumsi ada keterlibatan faktor lingkungan, seperti infeksi dan paparan bahan kimia.

Selain itu, faktor risiko dari makanan tinggi lemak, tinggi gula, dan makanan olahan yang memicu peradangan juga dicurigai dapat mengembangkan penyakit autoimun. Namun, hal ini belum terbukti.

Sebuah studi tahun 2015, menduga bahwa vaksin dan antiseptik ikut berperan dalam kenaikan kasus autoimun. Disebutkan dalam jurnal tersebut, vaksin membuat anak-anak terlindungi dari kuman.

Kurangnya paparan kuman tersebut disinyalir bisa membuabt sistem kekebalan tubuh bereaksi berlebihan terhadap zat-zat yang tidak berbahaya.

Perlu digarisbawahi, para ilmuwan hingga saat ini tidak mengetahui persis penyebab penyakit autoimun. Apakah ini karena genetika, pola makan, infeksi, atau paparan bahan kimia. Semua faktor risiko tersebut masih berupa asumsi.

Gejala penyakit autoimun

Gejala awal dari penyakit autoimun antara lain:

  • Kelelahan
  • Otot pegal
  • Bengkak dan muncul ruam
  • Demam ringan
  • Sulit berkonsentrasi
  • Mati rasa atau kesemutan di tangan dan kaki
  • Rambut rontok
  • Ruam kulit

Selain itu, ada beberapa penyakit autoimun yang memiliki gejala khas. Misalnya, diabetes tipe 1 menyebabkan rasa haus ekstrem, penurunan berat badan, dan kelelahan.

Ada juga penyakit autoimun yang gejalanya datang dan pergi seperti psoriasis atau RA.

Psoriasis membuat sel-sel kulit menumpuk dan menghasilkan bercak bersisik yang gatal dan kering. Psioriasis merupakan salah satu penyakit autoimun yang pemicunya antara lain stres dan pilek.

Pemeriksaan penyakit autoimun

Jika Anda merasakan gejala-gejala seperti disebutkan di atas, segera periksakan diri ke dokter. Anda mungkin perlu mendatangi spesialis, tergantung pada jenis penyakitnya.

Berikut adalah beberapa dokter spesialis dan keahliannya:

  • Ahli reumatologi mengobati penyakit sendi, seperti rheumatoid arthritis serta penyakit autoimun lainnya seperti sindrom Sjögren dan SLE.
  • Ahli gastroenterologi mengobati penyakit pada saluran GI, seperti penyakit celiac dan Crohn.
  • Ahli endokrin mengobati kondisi kelenjar, termasuk penyakit Graves, tiroiditis Hashimoto, dan penyakit Addison.
  • Dokter kulit merawat kondisi kulit, seperti psoriasis.

Baca juga: Cerita 2 Pasien Atasi Nyeri Reumatik Autoimun dengan Agen Biologik

Tes untuk mendiagnosis penyakit autoimun

Diagnosis penyakit autoimun tak bisa dilakukan hanya dengan sekali tes. Dokter biasanya akan mengkombinasikan beberapa tes, melakukan pemeriksaan fisik, dan mengulas gejala yang dirasakan untuk mendiagnosis Anda.

Tes antibodi antinuklear (ANA) merupakan salah satu tes pertama yang digunakan dokter ketika gejala yang dirasakan mengarah pada penyakit autoimun.

Bila tes ANA positif, Anda mungkin menderita salah satu dari penyakit autoimun, tapi ini belum bisa mengkonfirmasi penyakit autoimun mana yang Anda idap.

Untuk itu, dokter akan mencari autoantibodi spesifik yang diproduksi pada penyakit autoimun tertentu dengan tes lain. Dokter mungkin juga memberi tes nonspesifik untuk memeriksa peradangan di dalam tubuh akibat penyakit autoimun.

Penulis: Gloria Setyvani PutriEditor: Gloria Setyvani Putri

Artikel Asli