Kembangkan Wisata Kesehatan, Menkes Tawarkan Metode Mak Erot dan Kerokan

Liputan6.com Diupdate 05.01, 20/11/2019 • Dipublikasikan 08.10, 19/11/2019 • Aditya Eka Prawira
Kemenkes bakal bekerja sama dengan Kemenpar dan Ekonomi Kreatif tentang wisata kesehatan. (Foto: Aditya Eka Prawira/Liputan6.com)
Kemenkes bakal bekerja sama dengan Kemenpar dan Ekonomi Kreatif tentang wisata kesehatan. (Foto: Aditya Eka Prawira/Liputan6.com)

Liputan6.com, Jakarta Kementerian Kesehatan bersama Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia bergandengan tangan mengembangkan wisata kesehatan (health tourism).

Berdasarkan konsep dan peta jalan pengembangan wisata kesehatan yang disepakati bersama, health tourism ini terdiri empat klaster; wisata medis, wisata kebugaran dan jamu, wisata olahraga yang mendukung kesehatan, dan wisata ilmiah kesehatan.

Menurut Menteri Kesehatan, Terawan Agus Putranto, Indonesia memiliki potensi memajukan wisata kesehatan ini. Sehingga punya peluang mendatangkan banyak wisatawan asing.

Salah satu dari empat bagian yang dinilai paling berpotensi adalah wisata kebugaran dan jamu.

"Nah, kalau misalnya wisata kebugaran dan jamu ini, inilah yang harus masyarakat majukan. Kita punya industri jamu yang hebat-hebat tapi tidak pernah kita ungkapkan," kata Terawan di Hotel Indonesia Kempinski Jakarta Pusat pada Selasa, 19 November 2019.

Contoh yang disebut Terawan, di antaranya tongkat ali dan purwaceng. Tak ketinggalan, pengobatan alternatif pembesaran organ intim lewat pijat ala Mak Erot tak luput dari perhatian Terawan.

"Di situ kita kemas dengan baik, wisatawan asing pasti datang," katanya.

 

Harus Ada Ide Segar

Menurut Terawan, harus ada ide-ide segar yang membuat orang asing mau datang ke Indonesia agar wisata kesehatan ini mendatangkan devisa negara.

"Kasih hal-hal yang membuat keingintahuan menjadi besar. Ini sangat penting dan kita yakin bahwa Indonesia itu mempunyai ide-ide cemerlang dan inovasi-inovasi yang baik untuk menjual sesuatu," katanya.

Terawan, melanjutkan, kalau yang lain menjual bekam, mengapa Indonesia tidak menjual kerokan?

"Kalau 100 kamar dengan dengan return time-nya hanya 20 menit 25 menit berapa itu? Begitu keluar, minum jamunya," ujarnya.

Purwaceng, tongkat ali, Mak Erot, sampai kerokan menurut Terawan adalah hal-hal yang terkadang tidak terpikirkan, padahal amat berguna karena bisa dikembangkan.

"Ya, kadang-kadang kita malu karena tiap hari kita melihatnya (orang dikerok) tapi buat orang asing, (kerokan) itu hal yang sangat menarik," ujarnya.

"(Kerokan) bagi orang asing itu kan aneh. (Apalagi) kalau gambarnya macam-macam (menjadi menarik)," kata Terawan disambut gelak tawa peserta.

Terawan menegaskan bahwa Kementerian Kesehatan bersama Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif sepakat memprioritaskan pengembangan wisata kebugaran dan jamu, karena dinilai memiliki prospek kesehatan, budaya, dan ekonomi yang tinggi.

"Penetapan ini menjadi prioritas merupakan keputusan yang tepat. Selain mempunyai nilai jual yang tinggi, Indonesia menawarkan tindakan promotif dan preventif lebih utama dalam bidang kesehatan," kata Terawan. 

Artikel Asli