Kembali Jadi Masjid, Ini Beberapa Fakta tentang Hagia Sophia di Istanbul

iNews.id Dipublikasikan 16.06, 10/07 • Ahmad Islamy Jamil
Masjid Hagia Sophia di Istanbul, Turki. (Foto-foto: AFP)
Masjid Hagia Sophia di Istanbul, Turki. (Foto-foto: AFP)

ISTANBUL, iNews.id – Dewan Negara, selaku pengadilan tata usaha negara tertinggi di Turki, pada hari ini telah memutuskan untuk mengembalikan status Hagia Sophia sebagai masjid. Sejak 1935, bangunan bersejarah di Istanbul itu difungsikan sebagai museum di bawah perintah Mustafa Kemal Ataturk.

Berikut tiga hal yang perlu diketahui tentang Hagia Sophia, seperti dihimpun AFP, Jumat (10/7/2020):

Dibangun pada abad keenam

Hagia Sophia atau dalam Bahasa Turki disebut Ayasofya, pertama kali dibangun sebagai gereja Kristen Ortodoks antara 532 dan 537 M di bawah Kaisar Justinian I. Bangunan itu dianggap sebagai karya arsitektur Bizantium yang paling penting.

Setelah penaklukan oleh Kesultanan Usmani atas Konstantinopel (sekarang Istanbul) pada 1453, Hagia Sophia diubah menjadi masjid. Namun, oleh rezim Mustafa Kemal Ataturk, bangunan itu dijadikan museum pada 1935. Peristiwa itu terjadi 12 tahun setelah Republik Turki yang sekuler berdiri pada 1923.

Hagia Sophia masuk dalam daftar situs Warisan Dunia UNESCO pada 1985.

Menjadi masjid lagi lewat keputusan bulat Dewan Negara Turki

Menyusul keputusan Dewan Negara Turki pada Jumat (10/7/2020) ini, status Hagia Sophia secara resmi telah berubah dari museum menjadi masjid.

Dewan Negara, selaku pengadilan tata usaha negara tertinggi di Turki, dengan suara bulat membatalkan keputusan kabinet 1934 yang dibuat semasa rezim Mustafa Kemal Ataturk. Lembaga itu menyatakan, Hagia Sophia terdaftar sebagai masjid dalam akta propertinya, seperti dilansir AFP, Jumat (10/7/2020).

Sampai sekarang, Hagia Sophia telah menjadi daya tarik wisata utama di Turki, menyedot jutaan turis setiap tahun. Menurut catatan pada 2019, ada 3,8 juta wisatawan yang berkunjung ke situ.

Ada lebih banyak kegiatan keagamaan di dalam Hagia Sophia dalam beberapa tahun terakhir. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan membacakan ayat Alquran untuk pertama kalinya di sana pada 2018.

Protes dari Barat

Keputusan bersejarah yang diambil Turki hari ini dianggap memicu ketegangan dengan dunia Barat. Ketegangan itu tidak hanya terjadi dengan “musuh abadi” Turki yaitu Yunani, tetapi juga Rusia—yang menjadi mitra Erdogan dalam beberapa tahun terakhir.

Yunani menilai tindakan Turki mengubah status Hagia Sophia sebagai provokasi. Padahal, untuk membangun satu masjid di ibu kota Yunani, Athena, saja sulitnya bukan main. Sementara, Gereja Ortodoks Rusia menyatakan Turki telah mengabaikan aspirasi “jutaan orang Nasrani”.

Amerika Serikat, yang notabene sekutu Turki di NATO, juga merasa gerah. Negeri Paman Sam pun mendesak agar Ankara tidak mengubah status Hagia Sophia menjadi masjid.

Artikel Asli