Kematian Anak Indonesia karena Corona Tertinggi di ASEAN, Ini Sebabnya

Kompas.com Dipublikasikan 10.03, 04/06 • Gloria Setyvani Putri
KOMPAS.COM/PUTHUT DWI PUTRANTO NUGROHO
Para pelajar Sekolah Dasar (SD) di Desa Suwatu, Kecamatan Gabus, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah berburu sinyal internet di puncak perbukitan setempat, Selasa (2/6/2020).

KOMPAS.com - Gugus Tugas Percepatan dan Penanganan Covid-19 seringkali menyebut kelompok umur di atas 50 tahun paling banyak meninggal akibat virus corona.

Namun dalam kenyataannya, kematian akibat corona pada anak-anak sama besarnya di Tanah Air.

Dilansir VOA Indonesia, Ketua Ikatan Doker Anak Indonesia (IDAI) Aman Bhakti Pulungan mengatakan bahwa tingkat kematian anak akibat virus corona di Tanah Air merupakan yang tertinggi di negara ASEAN.

"Kalau dibandingkan negara lain, kita paling tinggi (tingkat kematian) dibandingkan Singapura, Malaysia, dan Vietnam," ungkap Aman.

Baca juga: Program Imunisasi Terganggu Covid-19, 80 Juta Anak di Dunia Terancam

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan hingga Sabtu (30/5/2020), terdapat 1.851 kasus Covid-19 pada anak berusia kurang dari 18 tahun.

Kasus tertinggi dilaporkan terjadi di DKI Jakarta (333 kasus), Jawa Timur (306 kasus), Sumatera Selatan (181 kasus), Sulawesi Selatan (151 kasus), Jawa Tengah (100 kasus), dan Nusa Tenggara Barat (84 kasus).

Dari jumlah tersebut, terdapat 29 kasus kematian akibat corona pada anak yang dilaporkan.

Berdasarkan data RS Online Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan, jumlah kematian pada anak yang tercatat dengan status orang dalam pemantauan (ODP) dan pasien dalam pengawasan (PDP) cukup tinggi. Kasus kematian pada anak dengan status ODP per 22 Mei 2020 tercatat sebanyak 41 anak dan pada anak dengan status PDP mencapai 383 anak.

Jika dibandingkan dengan data sekitar dua minggu sebelumnya, yakni pada 13 Mei 2020, tampak ada peningkatan hingga 3 kali lipat.

Pada 13 Mei 2020, jumlah anak yang positif terinfeksi Covid-19 di Indonesia tercatat 584 kasus. 14 anak di antaranya dilaporkan meninggal.

Diberitakan Kompas.id, Kamis (4/6/2020) dalam artikel berjudul 1.851 Anak Indonesia Tertular Covid-19, Upaya Pencegahan di Hulu Tidak Optimal, Aman mengungkap bahwa tingginya jumlah kematian pada anak di Indonesia karena sebagian besar kasus terlambat dideteksi sehingga ketika datang ke rumah sakit dalam kondisi berat.

Dalam laporan IDAI, sekitar 30 persen kasus kematian pada anak terjadi pada usia 0-1 tahun.

Dalam wawancara dengan VOA Indonesia, Aman melihat pemeriksaan Covid-19 untuk anak di Indonesia masih sangat rendah. Anak hanya diperiksa ketika orangtuanya terbukti positif Covid-19.

"Karena memang jumlah anak yang diperiksa paling sedikit kan, dan banyak yang di screening di mall, kantor, asrama, pasar, bandara, anak-anak kan tidak masuk yang di screening. Jadi anak-anak yang kita periksa itu adalah anak-anak yang memang sudah ada gejala. Atau kalau misalnya orang tuanya ada gejala baru (diperiksa). Jadi tidak ada, karena kalau misalnya anak batuk pilek kan tidak semuanya langsung diperiksa kan," jelas Aman.

Selain terlambat terdeteksi, tidak mendapat penanganan segera, dan pemeriksaan yang rendah, ada hal lain yang dialami anak Indonesia.

Aman mengatakan bahwa sebagian besar populasi anak di Indonesia memiliki komorbit atau penyakit penyerta. Ini seperti kurang gizi, anemia, tengkes, diare, dan pneumonia.

"Kita harus sadar bahwa beban kesehatan pada anak Indonesia sangat tinggi. Jumlah kasus pneumonia dan diare pada anak di Indonesia juga tinggi, padahal gejala yang ditunjukkan pada Covid-19 hampir sama dengan penyakit ini," ungkap Aman.

"Hal ini diperparah dengan upaya pencegahan dari hulu, yakni upaya preventif dan promotif yang tidak berjalan di masyarakat," imbuh dia.

Aman menilai, risiko penularan kasus pada anak semakin tinggi dengan banyaknya masyarakat yang tidak lagi menjalankan protokol.

Meski sebagian besar anak berada di rumah, bukan tidak mungkin orangtua atau anggota keluarga yang tinggal bersama dengan anak harus menjalankan aktivitas di luar rumah.

Dari sinilah, potensi penularan Covid-19 muncul. Terlebih ketika orangtua yang membawa virus melakukan kontak langsung dengan anak sebelum membersihkan diri.

Kondisi ini diperparah dengan tak ada pengawasan pada aktivitas anak. Banyak anak yang bermain dan berkegiatan di luar rumah tanpa mengenakan masker yang benar.

Aman menambahkan, pengawasan pada anak yang masih sulit dilakukan untuk pencegahan Covid-19 seharusnya menjadi pertimbangan untuk tidak membuka sekolah dalam waktu dekat.

Menurut Aman, setidaknya sekolah secara aktif baru bisa dibuka pada Desember 2020 dan dilakukan secara bertahap.

"Setidaknya harus ada satu tempat sebagai percontohan. Pastikan dulu protokol kesehatan bisa dijalankan secara maksimal. Penularan Covid-19 pada anak sama berisikonya dengan usia dewasa, bahkan bisa lebih berisiko karena sulit menerapkan protokol kesehatan pada anak. Biasanya anak cenderung tidak nyaman menggunakan masker terlalu lama dan tidak berkumpul dengan teman-temannya," tuturnya.

Penelitian terkait Covid-19 pada anak

Menurut Dr Malik Peiris, ketua virologi di University of Hong Kong, anak-anak tidak kebal terhadap virus corona Wuhan. Namun, ketika mereka terinfeksi, gejala yang mereka alami cenderung ringan sehingga luput dari pemantauan ahli.

John Williams, pakar penyakit menular anak di University of Pittsburgh Medical Center mengatakan, infeksi tanpa gejala adalah hal yang umum pada anak, terjadi pada 10-13 persen kasus.

Sebuah riset yang terbit bulan Mei di JAMA Pediatrics, mengungkap bahwa anak-anak dan remaja memiliki risiko lebih besar untuk mengalami komplikasi dan kondisi yang parah jika terpapar Covid-19.

Sementara itu, penelitian yang dilakukan sekelompok ilmuwan di Rutgers University, New Jersey itu mengungkap, anak-anak rentan mengalami kondisi parah terutama jika memiliki penyakit bawaan kronis, termasuk obesitas.

"Namun anak-anak yang tidak memiliki penyakit kronis juga rentan terinfeksi Covid-19. Orangtua harus benar-benar waspada," ungkap peneliti Lawrence C Kleinman, profesor sekaligus Wakil Kepala Pengembangan Akademis dan Kepala Divisi Pediatrik Kesehatan Masyarakat, Rutgers Robert Wood Johnson Medical School.

Baca juga: Hasil Pemindaian MRI Tunjukkan Peradangan di Otak Pasien Covid-19

Kompas.com memberitakan pada 4 April 2020, ahli epidemiologi dari Columbia University, Stephen Morse, mengatakan bahwa anak-anak merupakan kelompok yang dapat menjadi pembawa asimptomatik atau penularan infeksi tanpa gejala virus corona.

Penulis: Gloria Setyvani PutriEditor: Gloria Setyvani Putri

Artikel Asli