Kemarau Singkat

LINE TODAY Dipublikasikan 23.00, 19/10/2019 • Cartoonize

Sulit menjelaskan bagaimana kejadiannya, pokoknya ketika ia membuka mata, tiba-tiba dia tahu saja. 

[.]

Bagaimana caramu tahu kalau kamu harus menghirup oksigen untuk bertahan hidup, atau bahwa anggota keluargamu bukan orang asing? Hal-hal sederhana seperti itu, justru jadi rumit jika berusaha diingat kapan pertama kali kita mempelajarinya. Tahu-tahu informasi itu sudah ada di dalam otakmu dan menjadi bagian dari dirimu. Demikian pula dengan Dinda; ia tahu bahwa tujuannya dilahirkan ke dunia adalah untuk mencari pangeran sakti Jaya Pakuan.

Baiklah, mungkin akan lebih baik kalau segalanya diceritakan dari awal.

Dinda adalah reinkarnasi dari Ajung Larang, seorang putri kerajaan Sunda. Suatu hari, datang padanya seorang pangeran bernama Pakuan yang memiliki sebilah kujang hijau. Ajung Larang jatuh hati, sayang sekali Pakuan menolaknya untuk kehidupan yang suci sebagai rahib. Akan tetapi, Larang patah arang, sebab bahkan setelah lebih dari enam abad semenjak peristiwa itu, dalam setiap reinkarnasinya ingatan mengenai Pakuan masih lekat benar. Kira-kira, begitulah yang selalu diceritakan Dinda.

“Kemarin aku lihat dia lagi dari balkon! Beruntung sekali dia memilih kamar dengan jendela kaca besar itu, letaknya pas buat diawasi dari kamarku, pula,” nada Dinda bicara berapi-api. Sejenak ia terdiam, kemudian matanya berbinar. Ia menggeleng begitu kencang hingga rambut hitam panjangnya bergetar. “Tidak, ini bukan cuma keberuntungan. Ini jelas-jelas takdir!”

Herman, yang sudah menjadi pendengar setia Dinda selama hampir satu jam terakhir (delapan belas tahun terakhir, sebenarnya), bergumam tak jelas menanggapi.

Sial bagi Herman, Dinda itu sebetulnya lumayan tersohor akan rupanya yang cantik jelita. Pergi ke sekolah yang sama dengan Dinda sejak taman kanak-kanak, berita mengenai deretan lelaki yang berusaha memenangkan hatinya bukan hal baru. Begitu pula dengan berita kedua yang biasanya segera menyusul tak lama setelah berita pertama, tentang bagaimana Dinda menolak siapapun itu yang mengungkapkan cinta padanya secara mentah-mentah.

Penolakan Dinda selalu sama persis: maaf, aku sedang menunggu yang lain, diutarakan dengan begitu manis, sampai-sampai si pihak tertolak lupa kalau harga dirinya tengah dipertaruhkan.

Menemani Dinda berjalan pulang ke rumah setiap hari (bukan keinginan Herman, ini lebih seperti perjanjian antara kedua ibu mereka yang diputuskan saat keduanya masih dalam kandungan), tak heran kalau Herman langsung dicurigai. Beberapa menggodanya karena menganggapnya rakus menguasai Dinda sendirian, sementara yang lebih anarkis mengancam akan memukulnya jika sampai Dinda tersakiti, sambil berkomentar bahwa lelaki sekejam Herman, yang tega membiarkan Dinda menunggu, tidak layak menuai cinta gadis itu.

Bukannya Herman tidak pernah mencoba menjelaskan kalau Dinda itu menderita halusinasi kronis yang membuatnya percaya bahwa dirinya adalah seorang titisan putri Sunda. Hanya saja, tidak ada yang bisa menerima fakta bahwa Dinda, yang rupawan dan brilian, ternyata punya satu sekrup copot di kepala. 

Namun, Herman sendiri masih normal, terima kasih. Jadi, kira-kira sejak masuk sekolah menengah, ia mulai mencoba menerima Dinda berikut apapun itu pandangan orang terhadap mereka berdua, dengan apa adanya.

“Terus kamu lihat semua kegiatan dia di kamar? Berarti termasuk ganti baju, telanjang, nonton—”

“Aku ini sangat menghormati privasi Jaya Pakuan, tahu. Bukan perempuan murahan seperti itu. Lagipula, Jaya Pakuan nggak banyak melakukan kegiatan, kebanyakan cuma duduk diam. Mungkin bersemedi. Dia punya kemampuan spiritual tinggi, ya, nggak pecicilan dan mesum kayak kamu.”

Topik obrolan mereka selama beberapa bulan terakhir ini tidak pernah jauh dari Jaya Pakuan, atau yang jiwanya diyakini Dinda bersemayam di dalam tubuh seorang laki-laki bernama Ares.

Ares baru pindah ke lingkungan tempat tinggal mereka awal semester lalu. Ia dan ibunya kini menempati sebuah rumah besar tetapi reyot yang berlokasi tepat di seberang rumah Dinda. Ketika mereka pindah ke sana, Herman terkejut bukan main, sebab selama ini ia pikir rumah itu berhantu. Sejauh yang ia ingat, rumah itu selalu terbengkalai. Waktu Herman kecil dulu, suatu kali ia ditantang untuk masuk ke sana. Ia berani, tetapi pada akhirnya tidak bisa masuk karena semua pintunya terkunci rapat.

Sementara fokus Herman jatuh kepada rasa bersemangat yang timbul karena artinya sekarang ia—secara teknis—memiliki kesempatan untuk mengintip interior rumah yang penuh enigma itu, ibunya, beserta tante-tante lain yang mampir ke rumah, cenderung berkonsentrasi kepada si nyonya pendatang yang kerap mengenakan aksesoris berkelas, yang kelihatan menonjol dan agak janggal di kampung mereka yang sederhana, serta bagaimana ia tidak pernah terlihat bersama sang suami.

Dinda kasusnya beda lagi. Detik di mana pandangannya jatuh kepada Ares, ia sontak menggedor rumah Herman selayaknya orang gila.

Ares seusia mereka, tetapi tidak pergi ke sekolah yang sama. Tidak relevan juga, lagipula, sebab toh ini adalah liburan tengah semester terakhir mereka di SMA. Tahun depan, ia dan Dinda, termasuk Ares, akan menempuh jalannya masing-masing. Mirip sang ibunda, tubuh Ares jangkung dan pakaiannya trendi, jadi menyandingkan Herman di sampingnya akan menyerupai foto konsumen sebelum dan sesudah tindakan pada sebuah brosur klinik operasi plastik.

“Halah, paling kamu naksir dia karena dia cakep dan dari kota. Benar, kan?” Apabila digoda seperti itu, Dinda akan merajuk hingga dua atau tiga hari berikutnya.

Herman memeriksa jam pada ponsel. Sudah cukup larut. Tanpa basa-basi, ia menyela celotehan Dinda, “ini sudah malam.”

Dinda, jelas, tak puas. Ia berkacak pinggang. “Kamu nggak menyimak ceritaku sama sekali, ya?” omelnya.

“Kalau kamu bisa mengawasi gerak-gerik Ares dengan mudah, itu artinya kamu pun gampang dikuntit. Kamu ingat rumah tetangga yang diobrak-abrik minggu kemarin? Pelakunya masih belum tertangkap, Dinda,” Herman menanggapi dengan tenang. “Lebih baik aman daripada menyesal. Ayo, kita pulang.”

Gadis itu masih kelihatan sebal, tetapi tidak mengoceh lagi saat mereka berdua berjalan bersampingan meninggalkan lapangan badminton.

[.]

Kesempatan yang ditunggu-tunggu itu akhirnya datang menghampiri Herman memasuki bulan Agustus, saat matahari sedang terik-teriknya dan kawanan nyamuk bersekongkol membentuk paduan suara paling bising sedunia. Herman buru-buru berusaha terlihat seolah tengah melipat pakaian ketika ia menyadari sosok Bunda yang mendadak muncul di kusen pintu kamar.

“Kamu ngapain?”

“Beberes,” jawab Herman enteng, hampir otomatis. Bunda memindai seisi kamar tajam tanpa sepeser pun rasa percaya.

“Bunda boleh minta tolong antar makanan ke rumah Tante Mia, nggak?” tanya Bunda. Menegaskan maksudnya, ia sedikit mengayunkan sebuah rantang kecil yang bertengger dalam genggamannya.

Dahi Herman berkerut. “Tante Mia itu…”

“Tante yang baru pindah. Yang anaknya seumur kamu.”

Tanpa buang waktu, Herman buru-buru bangkit dan menyambar rantang dari Bunda. Masa bodo isi rantang itu, hatinya tak kuasa menahan rasa bersemangat. Untuk pertama kali dalam hidupnya, akhirnya Herman punya alasan untuk masuk ke rumah raksasa itu! Bunda tersenyum, dia tahu betapa besarnya rasa ingin tahu Herman, dan memang sebab itulah ia meminta putranya pergi ke sana.

Saat Herman berlari turun untuk mengenakan sandal, senyum Bunda tiba-tiba memudar. “Kamu nggak perlu terlalu keras pada dirimu sendiri, Man. Rasanya sudah lama sekali sejak terakhir kali Bunda lihat kamu sebahagia ini, padahal baru sebentar,” ucap Bunda lirih. Herman tidak menoleh, tetapi Bunda tahu kalau anak laki-lakinya itu pandai benar pura-pura tak mendengar. “Cuma kamu yang belum berdamai.”

“Aku berangkat,” potong Herman, kaku, raib sebelum Bunda sempat mengucapkan sepatah kata pun lagi.

[.]

Jarak yang terbentang antara pagar besi dan pintu depan rumah itu sangat jauh, mungkin cukup bagi sebuah mobil untuk berputar. Pagarnya mengeluarkan decit nyaring saat didorong Herman paksa hingga membuka. Yang membuat Herman heran, rumah itu tampak sama kosongnya seperti sebelumnya, ketika ia sungguhan belum ditinggali. Tidak tampak tanda yang menunjukkan adanya kehidupan. Tak ada deretan tanaman hijau, sepatu berantakan, atau sepeda yang diparkir di sana. Semuanya kusam, layu—sekarat.

Mungkin Tante Mia tidak menyukai perubahan.

Meskipun sudah kelihatan besar dari jauh, kini saat Herman berdiri tepat di depan pintu utama yang besar dan kukuh, struktur rumah itu semakin tegas dan megah. Dinding tinggi menjulang yang membuat leher Herman sakit saat ia menengadah, mencoba mencari puncaknya. Namun, Herman sudah pernah tiba di titik ini, bertahun yang lalu.

Pintu kayu jati terbuka pada ketukan kedua, dan bersamaan dengan itu Herman mendengar seorang anak berumur sepuluh tahun dalam dirinya bersorak gembira.

“Siapa?”

Itu Ares, dengan kaus longgar dan rambut acak-acakan. Herman mengerjap, sesaat terbesit dalam benaknya Dinda beserta omong kosongnya soal Jaya Pakuan.

“Makanan dari Bunda. Buat kau dan ibumu,” terang Herman, menyodorkan rantang yang ia bawa.

Ares mengangguk ragu menerima pemberiannya. “Baik, trims, kurasa…”

“Boleh aku masuk?”

Pertanyaan tersebut meluncur begitu saja dari mulut Herman, impulsif tanpa pikir panjang, dalam kepanikan saat instingnya mengatakan Ares akan langsung menutup pintu. Di luar dugaan, Ares terdiam, sebelum membukakan pintu lebih lebar. Ia mengedikkan kepala, sebuah isyarat bagi Herman untuk ikut. Dan Herman, tak ayal, senang tak kepalang.

Interior rumah itu ternyata mengesankan sekaligus mengecewakan. Tidak ada papan lantai yang menguik saat diinjak seperti di film seram, tetapi di sisi lain Herman melihat bagian yang tak tertebak sebelumnya, contohnya tangga marmer di tengah rumah dan pahatan kayu yang menyerupai Anubis. Sofa hijau botol di ruang tamu masih ditutupi plastik. Sejumlah dekorasi ditaruh di atas meja kopi, tetapi semuanya tampak berdebu.

Herman mencoba menguraikan ketegangan. “Ibumu tidak ada di rumah?”

“Tidak. Dia kerja.”

“Tapi ini hari Sabtu.”

“Terus?”

Kecanggungan lagi-lagi menyergap mereka berdua. Herman mendadak ingat kalau ia belum memperkenalkan diri, jadi ia langsung menyebutkan nama.

“Ngomong-ngomong, rumahku di gang sebelah. Nggak jauh,” imbuh Herman, “dan usia kita sama.”

Ares tersenyum simpul. “Aku tahu, kok.”

“Kalau begitu, kapan-kapan kita harus nongkrong bareng. Di sini juga ada Dinda. Kurasa hanya kita bertiga remaja di kampung ini, sisanya terlalu tua atau masih bocah,” lanjut Herman, tanpa mengungkit gejala waham yang diidap Dinda. “Kamu dari kota, kan? Tanyakan apa saja soal daerah pinggiran ini, aku tahu semuanya,” tukasnya bangga.

“Dasar sok,” Ares melempar lirikan jahil balik, lalu melipat lengan sambil mulai berpikir. “Kita bisa mulai dengan rumah ini sendiri. Asal kau tahu, kamu bukan orang pertama yang terlihat sangat tertarik pada rumah ini, lho. Ada apa sebenarnya?”

Pada momen ini Herman langsung sibuk mengelus dagunya yang ditumbuhi akar-akar rambut. Bukannya dia tidak tahu, tetapi apa etis menyampaikan ke orang kalau rumah yang ia tinggali dianggap berhantu? Seingat Herman, dulu sekali rumah ini milik seorang pengusaha dengan penghasilan menengah ke atas, hingga suatu hari sebuah perampokan besar-besaran merenggut segalanya dari keluarga mereka. Ketika dia mengungkap hal ini kepada Ares, laki-laki itu malah mengklaim bahwa ia tidak percaya takhayul. Namun, sesaat kemudian, wajahnya memucat.

Ares meneguk ludah. “Tunggu, apa maksudmu pernah terjadi perampokan yang brutal dengan pertumpahan darah di sini…”

Herman hampir tertawa, kemudian ingat kalau perbuatan itu tidak sopan. “Bukan. Mereka dirampok sampai bangkrut dan tidak mampu lagi membayar pajak rumahnya sendiri. Lalu mereka pindah, tapi ke mana, tak ada yang tahu.”

Lawan bicaranya mengangguk dengan pandangan menerawang jauh. Isi percakapan mereka selanjutnya lebih dangkal dan terkesan tidak relevan, Herman segera lupa tak lama setelah mereka berpisah sore itu.

[.]

Kebetulan saja malam itu Herman sedang duduk di teras depan sambil bermain gim ponsel, jadi dia melihat semuanya. Bagaimana Dinda menyelip keluar dari pintu rumah (mengenakan pakaian yang kelewat tipis, menurut Herman), berlari ke jalan tanpa memastikan apakah pagar rumahnya sudah terkunci rapat, kemudian melesat pergi ke ujung gang. Setelah itu, Dinda sudah tidak bisa terlihat lagi, tetapi Herman hafal benar jalan itu dan lagipula bisa menerka tujuan Dinda: rumah Ares.

Herman terkejut, sekaligus bingung, sekaligus geli, hingga pada akhirnya dia terpaku saja dengan gim setengah jalan yang belum dihentikan, pandangannya masih jatuh ke tempat di mana Dinda tadi berada. Akan tetapi, detik selanjutnya semua perasaan yang bercampur dalam benaknya tadi hilang seketika.

Ujung mata Herman menangkap sesuatu yang mengendap-endap dalam pekat malam, suara gerakannya tersamarkan oleh gemerisik daun yang diterpa angin. Ralat, itu bukan sesuatu, itu seseorang. Sekejap segala gosip selama sebulan terakhir mengenai pencuri tak kasat di kampung bergaung di telinganya.

Apakah itu pelakunya? Herman mematikan lalu mengantongi ponsel sebelum mulai berdiri agar bisa mengawasi gerak-gerik si sosok misterius. Sosok itu berlari, lalu menghilang di belokan.

Tunggu.

Gaung dalam telinga sontak berubah menjadi alarm kebakaran saat Herman tersadar bahwa si maling itu sedang menuju rumah Ares. Seperti Dinda.

Menarik membayangkan apa yang akan terjadi jika Dinda bertemu si maling itu di jalan, tetapi pada momen itu rasanya kemungkinan tersebut hanya lucu asal tidak sungguhan kejadian. 

Herman sudah berlari sekencang ia bisa. Namun, apa yang tampak di hadapannya hanya gang kosong dan sepi. Tidak ada Dinda maupun si sosok misterius yang ia buntuti. Cuma pendar kekuningan lampu jalan… dan pagar besi rumah Ares yang sedikit terbuka, belakangan Herman sadar setelah memicingkan mata. Tanpa pikir panjang, ia melangkah maju memasuki pekarangan rumah Ares. Oke, mungkin kini Herman-lah yang gelagatnya mirip maling—tapi masa bodoh. Dia harus memastikan.

Rumah itu jadi semakin mencekam dalam kegelapan. Herman melintasi halaman dengan perasaan ngeri, lalu tiba di pintu yang tidak terkunci.

“Permisi?”

Dia sungguh merasa tidak nyaman, menyusup ke dalam rumah orang tanpa izin begini, tetapi apa boleh buat. Lagipula, Ares mengenalnya, jadi paling tidak Ares tidak akan tiba-tiba memukulnya dengan wajan atau apa. Lampu di ruang tamu tidak menyala, maka Herman dalam meraba-raba dalam gelap, mengikuti secercah cahaya yang muncul dari sekat pintu di salah satu dinding.

“Kamu ngapain?”

Herman terperanjat. Jantungnya berdegup cepat sekali, dan masih berusaha mengatur napas saat membalas jengkel, “Dinda, aku hampir jantungan.”

Dinda mengangkat sebelah alis. “Itu ucapanku.”

Herman menegakkan tubuh. “Kamu jawab aku dulu, aku serius. Kamu sedang apa di sini?”

“Mengantar makanan,” jawab Dinda polos, membuka kedua tangannya seolah hendak membuktikan bahwa ia tidak bersalah. “Cek saja kalau nggak percaya.”

Sebetulnya ada apa, sih, antara Ares dan makanan, pikir Herman heran. Ia kemudian menggeleng, teringat masalah yang lebih genting. Ditariknya pergelangan tangan Dinda. “Tadi aku melihat… sesuatu. Kamu sebaiknya pulang.”

Namun, Dinda justru bertahan di tempat. “Melihat apa?” Ia menuntut.

“Aku nggak tahu,” kata Herman lagi, pahit. Ia berdecak gelisah. “Di mana Ares? Kita harus bilang kalau ada sesuatu yang tidak beres.”

“Apa?”

Penyelinap, Herman bermaksud menjawab, saat ia merasakan kausnya ditarik dari belakang dan tubuhnya terhempas menuju lantai. Dalam sepersekian detik itu ia hanya sempat mendorong Dinda menjauh, sementara ia masih kesulitan mencerna apa yang sedang terjadi. Apa yang didengarnya kemudian adalah teriakan (yang mungkin Dinda), kedatangan seseorang (yang mungkin Ares), serta gambaran kabur sebuah kujang hijau.

Lalu, terang.

Dan gelap.

Herman merasakan kesadarannya perlahan muncul ke permukaan dari lautan hitam. Ia berkedip, sekali, dua kali, kemudian raut wajah Ares memasuki pandangannya. Hal kedua yang ia sadari adalah posisi tubuhnya horizontal, di atas sofa hijau botol yang masih tertutup plastik.

“Hei,” sapa Ares dengan senyum lemah. Gerak-geriknya gugup. “Mungkin terdengar gila, tapi—”

Herman mendesah. “Jadi, Jaya Pakuan. Ya?”

Bibir Ares terbuka, kemudian terkatup. “Kurasa itu penjelasan yang cukup.”

“Dia… ngapain, sih? Memburu kau?”

“Sudah sejak abad kelima belas. Berkelana melintasi Pulau Jawa bukan perkara sederhana, mau tak mau kau pasti bertemu musuh. Kebetulan, waktu itu musuhnya penyihir,” Ares menanggapi ringan.

“Bukan manusia?” tanya Herman ragu.

“Bukan.”

“Oke.”

Ares memerhatikan tampang Herman lekat, lalu tergelak. “Hebat! Ekspresimu nggak berubah sama sekali.”

“Kamu pikir sudah berapa lama aku mendengar ocehan Dinda?” balas Herman. Begitu nama itu disebut, air muka Ares langsung berubah kecut. Herman bangkit dan menoleh ke sekeliling ruangan. “Ngomong-ngomong, di mana dia?”

Ares mengedikkan kepala ke arah pintu. “Sudah pulang. Jangan khawatir, sudah kupastikan dia sudah tiba di kamar, lewat jendela kamarku.”

Ah, ingatkan Herman untuk menyarankan pada Dinda agar memasang gorden yang lebih tebal.

“Baguslah.” Ia menghela napas panjang.

[.]

Barangkali sudah hampir setengah jam ia dan Dinda berbaring telentang di tengah lapangan badminton, menghadap langit yang menaungi mereka dalam diam. Herman tidak tahu persis, tetapi ia punya ketakutan irasional untuk bangkit dan mengecek arloji. Ia juga tidak mau bicara. Instingnya mengatakan bahwa memecahkan kesunyian yang khusyuk di antara mereka berdua merupakan sejenis dosa.

Padahal, ini bukan kali pertama mereka memandang bintang bersama. Namun sejak kejadian di rumah Ares itu, tiba-tiba hubungan mereka jadi getas—salah tarik sedikit akan membuat segalanya patah. Semua dimulai dari nol lagi. Obrolan terasa asing, candaan kini dilempar penuh kehati-hatian.

Maka dari itu, malam ini Herman memilih bersekutu dengan langit. Ia selalu berpikir betapa tidak adilnya kita jarang meluangkan waktu untuk mengagumi langit, sementara langit mengawasi kita sepanjang waktu. Kita, yang mungil, repetitif, dan sangat rentan, justru jadi bahan perhatian sang langit yang tunggal sekaligus infinit. Itu lucu, bagi mereka yang suka satir.

Lucu sebagaimana Herman kini memikirkan cara terbaik untuk menyampaikan pada Dinda bahwa awan di malam hari selalu kelihatan lebih tinggi daripada siang tadi. Atau berandai jika semua lampu di bumi mati secara serentak, pasti pendar bintang-bintang akan semakin jelas. Beruntung betul orang-orang di zaman pertengahan!

Ah, tapi sentimen seperti ini menghambat kemajuan teknologi, batin Herman. Ia tak mau Edison bangkit dari kubur cuma untuk menjitaknya. Jadi, apa yang lepas dari mulut Herman setelah itu justru sama sekali tidak berkorelasi dengan isi kepalanya.

“Besok aku akan mulai cari kerja,” tutur Herman rendah, nyaris cukup pelan untuk dibawa angin.

Dinda diam. Tepat ketika bahwa Herman berpikir kalau selesai sudah percakapan mereka malam ini, gadis itu berujar balik, “kalau kamu kerja, apa itu berarti kamu bakal jarang di rumah?”

“Kurasa kerja seperti itu.”

“Tahu apa kamu soal kerja? Kamu belum pernah kerja.”

“Kamu juga belum pernah kuliah. Kita bukan anak kecil lagi, Dinda.” Herman menggigit bibir. “Orang-orang pintar kayak kamu harus bikin perusahan besar yang gajinya bagus buat orang tolol kayak aku. Bukannya malah banyak berimajinasi tentang kisah percintaan kerajaan Cirebon.”

“Hargai dirimu sedikit, dong,” tegur Dinda, dan intonasinya melunak, seperti yang belum pernah didengar Herman sebelumnya. Sebuah desahan panjang. “Tapiiiii, kamu benar. Lagipula, aku udah nggak mengejar Jaya Pakuan lagi.”

Herman membisu. Terkekeh, tertawa, lalu tergelak lepas. “Ya ampun, aku kira kamu nggak akan pernah lepas dari waham bahwa kamu jelmaan Ajung Larang,” ucapnya di sela tawa, mengabaikan tatapan tajam Dinda.

Dinda bahkan sampai bangkit dari posisi telentang khusus untuk memelototi Herman. “Siapa bilang?” hardiknya ketus. “Maksudku itu, aku sudah pindah hati ke Banyak Catra. Walaupun memang dia tidak setampan Pakuan, tapi ternyata reinkarnasinya manis juga.”

Di penekanan yang terakhir itu, Herman akhirnya bisu betulan. Kali ini giliran Dinda yang tertawa, berderai dalam malam yang panas hingga Ares datang untuk bergabung bersama mereka tak lama kemudian.

[.]

Sulit menjelaskan bagaimana kejadiannya, pokoknya ketika ia membuka mata, tiba-tiba dia tahu saja. 

Herman pikir hal itu aneh dan tidak logis, jadi dia menganggap itu hal lalu. Biarpun demikian, pengetahuan itu selalu mengganjal di pinggir benaknya: dulu, namanya adalah Banyak Catra.

Herman—Catra—tak pernah menyangka bahwa butuh nyaris tujuh ribu tahun untuk menggoyahkan hati seorang perempuan paling gigih di seantero nusantara.

Profil Singkat

Rutin mengkhayal sebelum tidur. Sedang bingung karena membaca fiksi penggemar lebih asyik daripada membaca jurnal dan buku pelajaran. Twitter: @jinggabiruabu