Kelemahan Dasar Pemain Indonesia yang Terendus Para Pelatih di Inggris

Kompas.com Dipublikasikan 13.30, 15/12/2019 • Alsadad Rudi
Mola TV
Para pemain yang mengikuti program Garuda Select II di Birmingham, Inggris.

JAKARTA, KOMPAS.com - Ada sejumlah kelemahan dasar para pemain Indonesia yang baru terendus oleh para pelatih dalam program Garuda Select di Inggris.

Hal itu diceritakan oleh Timo Scheunemann, pelatih asal Jerman, yang kini menjadi penerjemah teknis dalam program tersebut.

Garuda Select sudah berjalan dalam dua tahap. Tahap pertama berlangsung pada Januari-Mei 2019 dan yang kedua pada Oktober 2019-April 2020.

Selama hampir dua bulan berjalannya program Garuda Select tahap II, Timo menyebut para pemain lebih ditekankan mengenai cara bertahan yang benar.

Program Garuda Select di bawah arahan dua mantan pemain timnas Inggris, yakni Dennis Wise selaku direktur teknik dan Des Walker selaku pelatih kepala.

"Secara spesifik, yang ditekankan adalah cara bertahan sebagai sebuah kesatuan. Pemain yang menekan lawan secara individu tanpa bantuan teman-temannya dihukum oleh Des Walker dengan cara membiarkan pemain tersebut bertahan sendirian," tulis Timo, dikutip dari laman programgarudaselect.com.

"Tentu saja pemain tersebut menjadi bulan-bulanan dan tidak mampu merebut bola," kata pria Jerman yang sudah sangat fasih berbahasa Indonesia itu.

Baca juga: Kabar dari Andre Kobra, Teman Bagus Kahfi dkk yang Lama Hilang

Timo menyatakan cara menghukum yang dilakukan Wise dan Walker bertujuan menekankan pemahaman pada para pemain bahwa sepak bola adalah permainan tim.

Jadi, menyerang harus dilakukan bersama-sama, bertahan juga demikian. Karena bertahan harus dilakukan bersama-sama, menurut Timo, komunikasi menjadi sangat penting.

Pada tahap inilah Timo menyebut ada salah satu kelemahan dasar para pemain Indonesia yang terlihat jelas.

"Di sini kelemahan pemain kita jelas terlihat, dari jenjang SSB sampai timnas sama saja, miskin komunikasi. Bukan hanya bicara, Des Walker sering sekali memberikan contoh," tutur Timo.

Menurut Timo, Walker adalah tipe pelatih yang aktif. Bek andalan timnas Inggris saat Piala Dunia 1990 itu juga mengajarkan bahwa berkomunikasi bukan sekedar teriak “hei” atau menyebut nama rekan setim, tetapi harus konstruktif dan berisikan komando yang jelas.

"Tekan lawan ke garis", misalnya, atau "drop, jangan (tekan) dulu". Pemain yang berada di belakang memberikan komando bagi pemain di depannya mengingat ia memiliki pandangan yang lebih luas tentang situasi di lapangan," ucap Timo.

Baca juga: 3 Pemain Masa Depan Indonesia yang Tampil Bagus dalam Garuda Select II

Kini, Timo menyebut para pemain Garuda Select sudah mulai paham bahwa saat kehilangan bola, secara berturut-turut yang harus dilakukan adalah cepat bereaksi dan berlari sprint kembali ke posisi masing-masing.

Kemudian, setelah formasi bertahan terbentuk, dilakukan pergeseran ke arah posisi bola secara bersama-sama.

Adapun yang ketiga, saat bergeser dan menekan secara bersama-sama, para pemain yang berada di belakang memberikan komando yang jelas kepada pemain di sekitarnya.

"Kebiasaan buruk bertahan secara individu dan tanpa saling mengarahkan sudah mulai ditanggalkan," kata Timo.

Garuda Select merupakan Program Akselerasi Pengembangan Bakat kerja sama antara PSSI dan Mola TV.

Tujuan utama Program Garuda Select bukan untuk membentuk sebuah tim, tetapi untuk menanamkan profesionalisme dalam bakat-bakat terbaik Indonesia.

Tujuannya agar mereka bisa berkembang dalam dunia sepakbola profesional baik di dalam maupun di luar negeri.

Di setiap musim tim teknis Garuda Select memilih 24 bakat terbaik Indonesia untuk ditempa secara intensif di Eropa, mengejar segala ketinggalan mereka baik dari sisi mental, fisik, teknik, ataupun taktik.

Baca juga: Cepat Adaptasi Jadi Kunci Kemenangan Garuda Select atas Cheltenham

Kriteria pemilihan bakat pun dilakukan berdasarkan penilaian atas potensi mereka untuk berkembang di masa depan dan bukan berdasarkan kemampuan yang mereka tunjukkan sekarang.

Selama dua bulan berjalannya program Garuda Select, Timo menyebut dirinya menjadi saksi langsung dari perkembangan pesat yang dialami para pemain muda belia usia 16 tahun itu.

"Semuanya perlu waktu, semuanya butuh sebuah proses. Walau demikian, saya sudah bisa melihat perkembangan signifikan terutama dalam hal pengertian taktis dan pengambilan keputusan," ucap Timo.

"Hal ini sangat menggembirakan mengingat kedua hal ini, bersama dengan kelemahan dalam hal mental, menjadi masalah-masalah utama timnas senior kita selama ini," katanya.

Penulis: Alsadad RudiEditor: Eris Eka Jaya

Artikel Asli