Kehilangan Suara Itu - Part 3: Sebuah Permintaan

Storial.co Dipublikasikan 07.05, 04/08 • Zahir
Sebuah Permintaan

Catia mengedarkan pandangan di sekitarnya yang redup. 

"Aissh," memegang kepalanya yang sudah diperban sambil menahan rasa sakit.

Di sofa ada beberapa orang yang tengah tidur, begitu juga di lantai yang sudah digelarkan karpet. Catia dapat menyimpulkan bahwa dia sekarang tengah berada di rumah sakit, karna bau obat yang sangat menyengat di hidungnya.

Di samping tempat ia berbaring tertidur seorang laki laki di atas kursi, dengan kepalanya yang di letakkan di atas kasur. Catia memandang wajah laki laki itu serius, karna wajahnya menghadap kearah Catia berbaring.

"Siapa nih, Bang Ikhsan kah, kok cepet pulangnya yah, katanya dua hari lagi," menatap wajahnya lekat sambil terheran.

"Lah bukan, bukan Bang Ikhsan ini mah," setelah memperhatikan wajahnya lebih dekat.

"Abi juga bukan, masa sih Abi seganteng sama semuda ini. Wajahnya aja masih fresh, ga ada kumis kayak abi," sedikit mendekatkan lagi wajahnya pada wajah laki laki itu.

"Eh, kau masih idup?" Bertanya tepat di depan wajah laki laki itu.

Laki laki itu spontan membuka mata, dan membulatkan matanya kearah wajah Catia yang tepat di depan wajahnya. Catia pun tak kalah kagetnya langsung berteriak menjauhkan wajahnya kembali.

"Waaaaaa, astagfirullah!!" Seisi ruangan itu terbangun dan lampu kamar langsung menyala membuat mata Catia agak sakit mendapat cahaya.

"Catia, Catia kenapa nak, ada yang sakit?!" umi Catia yang sudah berada di samping Catia sambil menangkup wajah Catia khawatir.

"Hehe ga ada umi," sambil nyengir.

"Lah terus kenapa teriak?" tanya umi masih dengan menangkup wajah Catia tapi kali ini dengan ekspresi heran. 

Catia hanya kembali nyengir dan menggelengkan kepalanya. 

"Kebiasaan kau dek," menoyor kepala Catia.

"Eh abang udah pulang, kok cepet?" Heran.

"Lah syukur syukur abang mu pulang, ini malah ditanyain," ucap sang abang heran dengan adiknya satu ini.

Mereka tertawa seisi ruangan itu, dan ya yang paling keras tawanya itu Anni yang ternyata juga ada di sini bersama Kak Iska yang hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum. Uminya pun hanya tersenyum sembari memeluk Catia erat. Kekhawatirannya pada Catia sudah sedikit terobati karna Catia yang sudah seperti biasanya.

"Yaudah abi sama yang laen mau ke mesjid dulu nih, mau solat subuh," sambil memakai pecinya.

Catia kembali melihat kepada laki laki yang tidur di samping ranjangnya tadi. Laki laki itu hanya menatap Catia lalu berlalu begitu saja keluar kamar diikuti Bang Ikhsan dan yang lain. Di kamar hanya tersisa Catia dan Anni.

"Lah kamu ga solat?" Menatap Anni heran.

"Ga mbak, Anni udah gede loh," sambil berbangga diri.

"Lah apa hubungannya coba," menatap Anni heran.

Anni hanya mengangkat bahunya sambil berjalan mendekat kearah Catia. Anni memutari penglihatannya ke seluruh tubuh Catia, Catia pun yang awalnya diam akhirnya menyentil kepala Anni karena geram dengan kelakuannya.

"Ih mbak mah, nyentil kepala Anni mulu, entar Anni bodoh loh," mengusap kepalanya yang seakan akan sakit.

"Lah apa hubungannya Anni sayang. Lihat noh kepala mbak, kalo yang ini baru ada hubungannya sama yang kamu bilang tadi," menunjuk kepalanya yang diperban.

"Sakit ya mbak?" Tanyanya polos.

"Mau ngerasain ha?!" Kesal dengan pertanyaan Anni yang tak bermutu.

Anni hanya menggeleng sambil menyengir. Anni duduk di kursi di samping ranjang Catia sambil menumpukan wajah pada telapak tangannya.

"Mbak, cowok yang ngelemparin mbak pake batu bata cakep ya," tersenyum.

"Heh cakep palak mu dik, liat nih kepala mbak gagara dia!" menunjuk kepalanya kembali.

"Ati ati loh mbak, benci jadi cinta," terkekeh sambil ngacir keluar kamar takut kena amukan mbaknya.

"Heh sapa yang benci coba sama dia!!" berteriak dari dalam ruangan.

###

Pagi itu juga Catia sudah boleh pulang. Kata dokternya luka di kepalanya cukup dikompres dengan air panas, dan jangan lupa dikasih betadin, dan harus sering sering mengganti perbannya.

"Umi, itu di belakang kita mobilnya ngikutin ya?" bertanya pada uminya yang duduk di samping Abi menyetir.

"Iya sayang, bundanya mau ngomong katanya sama kamu."

"Wah jangan jangan mau lamar mbak lagi," asal ceplos.

Catia langsung melotot pada Anni yang ada di sampingnya itu. Sedangkan seluruh orang yang ada di dalam mobil kaget mendengar ucapan Anni yang asal nyeplos tanpa mikir. Pada akhirnya mobil itu dipenuhi tawa kecuali Anni yang hanya nyengir kearah Catia, dan Catia yang menatap Anni horor.

Sesampainya di halaman rumah, Bang Ikhsan keluar dari mobilnya yang berada di depan mobil yang sedang dikendarai Abi. Bang ikhsan membuka pagar rumah, berlari masuk kembali ke dalam mobil kemudian memasuki mobilnya ke halaman rumah, diikuti mobil yang dikendarai abi, diikuti masuk pula oleh mobil yang mengikuti mereka sedari tadi.

"Masuk aja dulu, saya siapin minuman ya," umi menyambut tamu itu kemudian berlalu ke dapur.

"Catia mau kemana?" tanya abi yang sudah duduk di atas sofa dengan tamu itu.

"Mau kekamar, pen mandi." menghadap kearah abinya.

"Eh sini dulu ntar aja mandinya, ini tantenya mau ngomong sama Catia," abi memberi kode mata dengan artian "hargai tamu Catia!"

"Kalo Catia nya mau mandi, mandi aja dulu gapapa, biar ditungguin aja," ucap tante itu tersenyum.

"Eh nanti aja deh," menggaruk tengkuknya tersenyum canggung kemudian berjalan kearah sofa di samping abinya.

Catia duduk di samping abinya, berhadapan dengan tante, suaminya, dan cowo yang membuat Catia berteriak di rumah sakit tadi. "Entah kenapa waktu waktu kayak gini nih sama persis kayak waktu Kak Ikhsan ngelamar Kak Iska". Itulah isi pikiran Catia yang ngelantur karna teringat kata kata Anni di mobil tadi.

Terlihat bundanya tengah menyenggol dan memberi kode mata kepada putranya. Sedangkan yang diberikan kode gak peka peka, dan malah menaikkan alisnya bingung kearah sang bunda.

"Haduh, Ares, bunda nyuruh kamu minta maap," heran dengan anaknya satu itu.

"Oh," setelahnya hanya hening.

"Ni anak niat minta maap gak sik," itulah isi pikiran Catia.

"Ares kenapa diam?!" menajamkan kata katanya.

"Ares!" kali ini sang ayah turun tangan.

"Ares gugup ni ha!" spontan.

"Haaa," Catia tak dapat menyembunyikan raut bingungnya.

"Kita bukan mau ngelamar anak orang Ares," ucap ayahnya terkikik.

Mendengar ucapan ayahnya entah mengapa membuat Catia malu sendiri.

"Iya iya, aku minta maap ya, gak sengaja itu," memalingkan wajah.

"Yang bener Ares!" tegur bundanya.

Pada akhirnya sang bunda yang turun tangan sambil menghela nafas pasrah dengan sikap Ares.

"Maafin Ares ya nak," tersenyum lembut.

"Ah gapapa tante, namanya juga kecelakaan," membalas senyum tante itu yang terasa hangat bagi Catia.

"Tante juga punya permintaan," tersenyum.

Catia yang mendengar itu langsung tiba tiba menjadi bertambah gugup. Suami tante di depannya malah menatap istrinya bingung, begitupun dengan Ares yang sedari tadi memalingkan wajahnya. 

Dari kesimpulan yang Catia lihat, permintaan yang akan diberikan tante ini adalah tanpa sepengetahuan suami dan anaknya.

"Permintaan apa?" Tanya Catia serempak dengan laki laki itu.

Artikel Asli