Kehilangan Suara Itu - Part 2: Murid Baru

Storial.co Dipublikasikan 07.33, 03/08 • Zahir
Murid Baru

"Umiiii, Catia berangkat ya!" Berlari menyalimi tangan uminya di dapur

"Ga makan dulu?"

"Ga usah umi, nanti Catia jajan di sekolah aja," melambaikan tangannya sembari berlari keluar pintu rumah

"Catia makan entar kamu sakit lagi!!" teriak uminya dari dapur

"Enggak umiii di sekolah aja!!" sudah menaiki motor

"Yakin gak sarapan?" tanya sang abi yang tengah memakai helm

"Tidak abi, yok cusss!!" berteriak sambil memegang pundak abinya

Abi hanya menggeleng gelengkan kepalanya kemudian benar benar tancap gas hampir membuat Catia terjungkang diposisinya.

"Ihhh abi!!" kesalnya 

Abinya hanya terkekeh sambil melambatkan laju motor. Di atas motor Catia memeluk abinya dari belakang dengan erat, teringat kata kata uminya tentang abi malam tadi.

"Iya Catia beruntung punya seorang ayah kayak abi," tersenyum lebar

###

"Abi uang jajan," menyodorkan kedua telapak tangan sambil mengedipkan mata berbinar

"Hahaha iya iya, gausah pake gitu juga matanya," mengambil uang 20 ribuan dari dompet kemudian menaruhnya di atas telapak tangan Catia

Catia pun tersenyum sambil menyalimi tangan abinya kemudian berlari memasuki gerbang sekolah. Saat ia tengah berjalan di lorong lorong kelas ada sepasang tangan yang menutupi matanya dari belakang. Catia berusaha melepasnya, tapi sepasang tangan itu malah mengeratkan tutupannya pada mata Catia.

"Ihhh siapa sik!" Kesal

Karena Catia sudah jengkel dan juga matanya terus berkunang kunang, ia pun menendang orang di belakangnya.

"Untung pernah diajarin silat sama Abi," sambil mengedip ngedipkan matanya yang terasa rabun

"Catia kalo mau nendang jangan pake sepatu, sakit tauk!" terduduk sambil mengusap kakinya yang ditendang Catia

Catia menghadap ke belakang mendapati Siska temannya sedang mengusap kakinya yang ditendang dirinya.

"Kamu Sis?" Malah menatap temannya tajam

"Eh bantuin kek, ni enggak malah dipelototin!" Menggerutu

"Lah salah kamu, kamu sik jail bener, rabun nih mata ku," sambil berjongkok 

Catia membantu Siska berdiri, memapahnya sampai ke lantai dua dan memasuki kelasnya yang tepat di samping tangga. Catia mendudukkan Siska di bangkunya, diikuti Catia yang juga duduk di samping Siska sambil menyenderkan kepalanya ke sandaran kursi.

"Kamu sakit dua hari tauk Cat," ucap Siska

"Terus?" tanya Catia menatap Siska santai

"Lah malah nanya terus. Ni ya, aku tu kesepian ga da kau di samping, ga da juga temen ku yang neminin di kantin," mulai mengomel

"Aduh Siska sayang, aku kan cuma libur dua hari, kok udah kayak ditinggal pacar setauan," meledek Siska yang terus mengomel

"Eh emang aku lesbi apa ama kau," menoyor kepala Catia

"Ih aku juga amit amit kali Sis," menatap Siska horor

"Ada murid baru dari dua hari yang lalu, langsung bikin seisi sekolah heboh," mulai bercerita

"Lah ngapain seisi sekolah yang heboh, orang dia cuma murid baru kan. Emang kalo setiap ada murid baru mesti seisi sekolah heboh?" Heran

"Ihh kamu gatau si, ni murid bandel amat. Baru masuk aja udah bikin masalah," sambil mengingat ingat kejadian dua hari yang lalu

"Emang masalah yang dibikinnya separah itu amat apa?" Mulai tertarik

Sudah biasa bagi Siska bercerita yang tidak penting kepada Catia. Yang paling sering Siska ceritain itu ya tentang cowok, apalagi cowok yang tengah ditaksirnya. 

Kadang Catia hanya menjadi pendengar yang baik, sesekali bertanya, dan bahkan pernah saking lamanya Siska bercerita jadi dongeng pengantar tidur buat Catia. Jarang jarang Catia tertarik kepada ceritanya Siska, apalagi masalahnya tentang cowok, pembahasan paling malas untuk ia dengar.

"Parah bener tau gak kau, dia mecahin jendela ruang guru pake batu. Buk Ira kena tu batu di kepalanya gagara si anak baru itu," sambil bersemangat

"Lah dia ngapain ngelempar batu ke kaca ruang guru coba?" tanya Catia heran

"Lah mana saye tau, saye kan lihat di deket ruang guru rame, yaudah mampir situ sekedar ingin tau apa yang terjadi.  Denger berita ini juga dari orang situ."

"Terus tu murid baru diapain?" tanya Catia 

"Ya di panggil lah orang tuanya, disuruh tanggung jawab kaca ruang guru yang pecah, sekalian biaya pengobatan Bu Ira."

"Pasti cowok," sudah bisa menebak

"Hehe pinter deh temenku yang satu ini," nyengir

"Lah iyalah, orang setiap hari yang kau ceritain tentang cowok," sambil menoyor kepala Siska

Dari luar kelas beberapa murid laki laki berlarian, ada yang sampai terjungkang di depan kelasnya membuat Catia harus menahan tawa, lain halnya dengan Siska dan teman sekelasnya yang tertawa.

"Ih Siska, gak boleh!" mencubit pinggangnya

"Ih iya iya, abisnya lucu, gak tahan," menahan tawanya sekuat tenaga

Suara dinding yang seperti diketuk keras terdengar hingga ke dalam kelasnya membuat Catia meringis mendengarnya.

"Res kau gapapa?"

"Eh liat tuh ada kunang kunang terbang di kepala kau!" 

Suara berisik terdengar di luar kelasnya, mumpung juga bel belum bunyi kan, jadi murid laki laki lagi pada asik bermain, ya tentunya itu berlaku untuk anak laki laki pada umumnya, berbeda dengan seorang laki laki di kelasnya yang sering dijuluki "culun".

###

Jam pelajaran ketiga sudah berakhir, Catia dan Siska langsung berjalan ke kantin. Catia ingat dua hari lalu dia sakit karna magnya kambuh, dan Catia tak mau lagi itu terjadi, apalagi dia tidak sarapan dulu di rumah. Catia hanya membeli nasi goreng dan aqua, sedangkan Siska malah membeli mie goreng makanan favoritnya.

"Sis kamu makan mie mulu pagi pagi lagi, usus buntu entar baru tauk," menatap Siska sebentar kemudian melanjutkan makannya

"Ih Jan doain lah," sambil terus menyantap mienya

Kantin mulai rame, orang berdatangan, ribut, ya begitulah suasana kantin. Untungnya kantinnya gede, dilengkapi fasilitas lengkap. Jadi orang di dalemnya pun tak akan bersesak sesakkan.

"Catiaaaa!!" Membuat Catia yang asik dengan makanannya menoleh ke asal suara

"Alamak," menepuk jidatnya saat melihat seorang perempuan tengah melambaikan tangannya kearah Catia sambil tersenyum lebar

Seluruh orang menatap kearah Catia karna perempuan yang memanggil Catia bersuara terlalu keras hingga seisi kantin mendengar. Perempuan itu berjalan dengan semangat kearah meja di tempat Siska dan Catia berada. Catia melirik Siska yang masih sibuk dengan makanannya tak memedulikan siapa gerangan yang berteriak.

"Ya Allah selamat kan dunia Catia Ya Allah," menatap cemas kearah perempuan yang tengah berjalan kearahnya juga bergantian menatap Siska yang masih sibuk dengan makanannya

"Udah ngapa masang tampang khawatirnya, aku dah tau kok siapa yang bisa teriak begitu di tempat ruangan terbuka tanpa malu," masih terus menyantap mienya

"Siska sayang, jangan bikin masalah ya," memohon dengan memasang tampang wajah imutnya

"Tergantung, itu cewek mah datengnya pas ada maunya aja kan bikin naik darah," kali ini menatap Catia tajam

Catia hanya bisa menelan ludahnya pasrah. Tapi, Entah datang darimana, Sebuah batu bata melayang mengenai kepala Catia, Catia langsung tergeletak begitu saja di lantai kantin.

Terakhir hal yang Catia ingat Siska dan murid perempuan lainnya tengah mengerumuni Catia sambil membantu dirinya sadar.

"Cat, Cat, Catia sadar!!"

Artikel Asli