Kehilangan Suara Itu - Part 1: Suara Itu

Storial.co Dipublikasikan 07.27, 03/08 • Zahir
Suara Itu

"Subhanallah," itu kalimat yang keluar dari bibirnya

Azan itu kembali ia dengar lewat jendela rumahnya, azan yang seminggu belakangan ini terus terdengar olehnya. Ia tersenyum sendiri memandang masjid yang berada tak jauh dari rumahnya itu. 

Suara azan yang selalu membuat ia betah hanya untuk duduk berdiam diri di dekat jendela. Banyak cara bukan untuk mengagumi ciptaan Tuhan, bukan hanya seorang laki laki saja.

"Hayooo mbak ngapain?" memunculkan wajahnya di depan muka gadis itu

"Astagfirullah, kamu ngagetin mbak aja ah," sambil menyentil kepala orang di depannya

"Ih habis mbak senyam senyum sendiri kek orang gila tauk," sambil mengelus kepalanya yang tadi disentil

"Gak ada mbak lagi dengerin azan suaranya merduuuu banget," sambil tersenyum kearah orang di depannya

"Wah mbak lagi jatuh cinta yaa," sambil meledek gadis itu

"Kamu, kan mbak bilang suaranya gak orangnya," menyentil kembali kepala orang di depannya

"Ih mbak apaan sik suka banget nyentil kepala aku!" Agak kesal

"Gak ada suka aja," sambil terkekeh

"Mbak ke depan yok, di depan ada kakak aku, kami sengaja mampir nemuin calon mertuanya," sambil berbisik ke telinga mbaknya

"Wah sayang kalo gitu, kan Bang Ikhsan lagi keluar kota," ucapnya sambil tertawa

"Iya itu, bisa bisa si calon istri galau," sambil terkikik berdua

"Ekhm," dari arah pintu

"Eh ada si calon istri ya," ucap gadis itu sambil kembali terkikik

"Hayoo kalian gunjingin aku ya," sambil bersandar di pintu dan melipat tangan 

"Hehehehe," ucap mereka kompak sambil cengar cengir 

Nama gadis itu Catia Artika Yezet Kelas 2 MTS, mempunyai Abang bernama Al Ikhsan Yezet yang sudah bergelar sebagai seorang dokter. Abangnya itu yang akan segera menikah dengan Kak Dianiska atau yang lebih akrab dengan panggilan Iska, sebulan lagi pernikahan itu akan digelar. 

Kak Iska mempunyai adik bernama Annisa yang lebih akrab dipanggil Anni. Anni dengan seenaknya saja memanggil Catia dengan mbak bukan kakak. Awal awal Catia tidak menerima panggilan dari Anni, tapi lama kelamaan pun ia sudah terbiasa dan merasa nyaman dengan panggilan itu. 

Bang Ikhsan sering keluar kota, jarang hanya untuk sekedar berkumpul dengan keluarganya, bahkan berjumpa dengan calon istrinya pun, untung untung juga disela taa'ruf. Cinta itu bukannya tak mengenal waktu dan tempat, itu pula yang di rasakan oleh dua orang yang tengah mempersiapkan diri menuju jenjang yang lebih serius, maka lebih berat juga hal yang akan mereka hadapi di depan sana.

"Mbak yok ke depan!" Menggandeng tangan Catia

"Mentang mentang kamu udah ada mbak baru ya, kakaknya dilupain," sambil memerhatikan Catia dan Anni yang lewat begitu saja di hadapannya

"Hahahaha kakak kan udah mau nikah, Anni mana boleh manja manja lagi sama kakak," tertawa diikuti Catia

Di depan mereka melihat ada umi Catia tengah duduk di ruang tengah sambil menonton televisi

"Umii, tadi Mbak Catia senyum senyum lagi jatuh cinta!" Berteriak sambil berlari kearah uminya Catia

Catia yang tidak menduga kalau kalau Anni bakal iseng pun tiba tiba kaget. Dia kira Anni sudah melupakan percakapan soal yang itu, nyatanya malah dibongkarnya di depan uminya secara terang terangan.

"Eh enak aja, mana ada," Catia mengelak sambil melempari Anni dengan bantal yang ada di atas sofa tapi tidak tepat sasaran

"Wlekk, Mbak Catia jatuh cinta, Mbak Catia jatuh cinta!" Berlari lari sambil meledek Catia

Catia terus melempari Anni dengan bantal, dan mengejar kemana pun Anni berlari. Terkadang Anni bersembunyi di belakang tubuh umi, membuat umi hanya bisa menggeleng geleng pasrah sambil tersenyum.

"Yaudah Abi mau ke mesjid dulu nih," datang dari arah dalam sambil merapikan pecinya

"Iya Abi ati ati ya, sekalian titipin salam buat si muazinnya," Anni kembali terkikik

Kali ini lemparan bantal Catia tepat sasaran membuatnya puas dan tertawa terbahak bahak

"Rasain," sambil masih tertawa

Semua orang yang ada di sana, umi, abi, Anni, Kak Iska terheran heran sambil menggelengkan kepala juga tertawa kecil mendengar tawaan Catia yang terbahak bahak.

"Heh anak gadis itu kalo ketawa ya ga boleh keras keras. Mana mau muazinnya nanti," candaan abinya membuat Catia bungkam dan ganti sekarang giliran Anni yang tertawa.

"Lah ini Abi kenapa ikut ikutan," ucapnya malu dan sedikit kesal

"Tuh kan tuh kan, si Anni bahagia lihat aku dipojokkin kek gini. Huaaa Ya Allah Catia malu," sambil menunduk menahan malu

###

"Eh kamu nginep sini?" duduk dari posisi tidurnya

"Engga dong, ngapa emang, kepengen ya Anni tidur di sini," godanya yang langsung mendapatkan lemparan bantal dari Catia

"Eh Anni cerita dong," mengarahkan arah duduknya menatap Anni

"Cerita apaan?" masih sibuk memainkan hpnya

"Kamu chat sama siapa sik, cuek amat," cemberut

"Ihhh ada deh, kepooo," tanpa menatap Catia

"Huh," membuang nafas kasar

Anni hanya terkikik melihat wajah kesal mbaknya. 

"Mbak kenal sama muazin yang azan di masjid itu?" mulai menatap Catia lurus tak lagi memainkan hpnya

"Gak," memalingkan wajahnya

"Cieee ngambek," tertawa

"Gak," masih dengan nada jutek

"Tuh kan, ihhh ngambek," menoel pipi mbaknya

"Ihhh enggak!!" kesalnya

"Hahahaha, nanti isya ke mesjid aja, lihat muazinnya," berusaha menahan tawa

"Gak mau!"

"Lah, kenapa, gak penasaran apa?" bingung

"Gak tau," singkat padat jelas

"Ihhh siapa tau nanti muazinnya dah tua," bergidik ngeri

"Ya kan mbak cuma suka denger suara azannya doang!" kesal

"Ihhhh dah tua, mbak mau sama kakek kakek," semakin memancing amarah dari seorang Catia

"Ihhhh apaan sik Anni!!" melempar bantal kearah Anni yang sudah berlari keluar kamar sembari terkikik

"Kalo juga bisa diilangin, gak mungkin lah aku mau suka sama tu suara. Kenapa coba tu suara mesti ada!!!" teriaknya kesal

"Anni udah Azan Isya kenapa teriak teriak!!" teriak uminya dari arah dapur yang tengah memasak bersama Kak Iska

"Ihh padahal umi aja teriak," cemberutnya

"Mbak dengerin tuh suara aki aki!!" dari luar kamar

"Sabar Catia, sabar, orang sabar di sayang Allah," menaik turunkan dadanya dengan amarah yang siap meledak

###

Setelah isya, Anni dan Kak Iska pun pamit pulang, dan ya tentunya diantar oleh abi Catia, abinya selalu melarang anak perempuan pulang sendiri tanpa adanya laki laki di jam segini. Catia sedang kesal dengan Anni, jadi ia tak ikut mengantar, memilih tinggal dengan uminya.

"Kenapa, berantem lagi sama Anni?" sudah hafal apa yang akan terjadi jika Anni dan Catia bertemu

"Ngeselin dia umi," cemberut Catia

"Emang ada apalagi ha?" mengusap rambut Catia

"Emang salah ya Catia kagum sama suara azan yang seminggu ini terus terusan terdengar?" menatap uminya cemberut

"Eh," heran

"Tuh kan jangan jangan umi mau bilang kalo itu salah," membuang muka kesal

"Hahaha ya enggak dong sayang," mengusap rambut Catia sambil tersenyum

"Eh, gak salah apa yang Catia lakuin?" menatap uminya penasaran

"Kagum sama suka itu gak bisa disamain. Umi juga dulu kagum sama keahlian abi mu," menerawang

"Emang keahlian abi apa?" tertarik

"Lembut, abi mu itu sudah menjadi abi yang terbaik bagi anak anaknya," mencubit hidung Catia gemas

"Wahhh berarti dari kagum lama lama jadi suka," dengan wajah berbinar

Uminya hanya tersenyum sambil menarik Catia ke dalam pelukannya.

"Kagum dan suka itu berbeda, kamu perlu tau itu saja nak. Jika kamu kagum, jangan sampai salah mengartikannya ya nak, dan jika kamu suka jangan pula membantahnya ya," mencium puncak kepala Catia

Catia hanya terdiam mencoba mencerna kata kata yang dimaksud oleh uminya.

"Kalo Catia salah mengartikannya  bagaimana?"

Awalnya hanya hening, Catia pun tak merasakan lagi elusan tangan umi di kepalanya.

"Kamu akan menyesal."

"Ha, a…apa yang umi bilang tadi?. Ah umi terlalu terbawa suasana ya, udah gak usah dipikirin. Eh gimana sama muazin mu itu, kamu tau dia orangnya seperti apa?" tersenyum menatap Catia.

"Hehe engga sik umi," menyengir.

"Hahaha anak gadis umi satu ini," mencubit pipi Catia gemas.

Artikel Asli