Kedekatan Ibu-Anak Bukan Sekadar Mitos, Ini Alasan Logisnya

Merdeka.com Dipublikasikan 03.32, 16/09/2019
Kedekatan Ibu-Anak Bukan Sekadar Mitos, Ini Alasan Logisnya. ©Shutterstock
Masalahnya bukan hanya jumlah waktunya saja, tapi beberapa alasan berikut menjelaskan kedekatan anak pada sang ibu.

Bukan teman atau teknologi, tapi ibu dan ayah menjadi dua sosok yang memberi pengaruh paling penting dalam kehidupan anak. Uniknya, menurut situs Dayton Children’s, peran ibu mencapai 47 persen ketimbang sang ayah yang hanya mencapai nilai 20 persen.

Walau keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak sudah berubah secara dramatis dalam beberapa dekade, penelitian masih menunjukkan kalau ibu menghabiskan waktu dua kali lebih banyak untuk merawat anak-anak daripada sosok ayah. Masalahnya bukan hanya jumlah waktunya saja, tapi beberapa alasan berikut menjelaskan kedekatan anak pada sang ibu.

Ibu Punya Lebih Banyak Waktu

Sejak kecil, kebanyaka urusan merawat anak dipegang oleh sang ibu, mulai dari menyusui, memandikan, hingga menidurkannya. Tidak heran jika anak jadi lebih dekat dengan sang ibu ketimbang ayah.

Untungnya, kesadaran untuk melibatkan diri dalam mengurus anak pun kian tumbuh di kalangan para ayah muda. Terbukti dari munculnya komunitas Ayah ASI yang mendukung para ibu memberikan ASI eksklusif pada anak selama minimal 6 bulan.

Ibu Lebih Fleksibel

Ayah seringkali dipandang sebagai sosok yang lebih serius dan tegas. Tidak sedikit anak-anak yang merasa ayahnya sulit didekati karena karakternya yang cenderung kaku. Apalagi kalau sudah membuat keputusan, sulit untuk mengubahnya.

Sebaliknya, ibu lebih fleksibel dan mau berkompromi selama tujuannya tetap baik. Namun jangan sampai ada bad-good cop di dalam keluarga, sebisa mungkin saling mendukung dalam membuat keputusan apapun berkaitan dengan anak.

Ibu Peka pada Perasaan Anak

Perempuan dianugerahi kemampuan untuk berempati, termasuk pada perasaan anak-anaknya sendiri. Tidak heran jika ibu lebih peka saat anak merasa sedih atau senang. Sedangkan ayah sebagai sosok laki-laki seringkali lebih rasional. Bukan hanya itu saja, ibu juga cenderung lebih sabar dibandingkan sang ayah yang mungkin sering pulang dalam keadaan lelah setelah bekerja seharian.

Agar tidak terjadi pilih kasih yang dilakukan anak-anak pada orangtua, ayah dan ibu sebaiknya mulai belajar memahami perasaan sang anak. Daripada sekadar melihat jika ia malas atau temperamental, cari tahu apa yang menjadi penyebab munculnya kemalasan atau emosi yang meledak-ledak.

Lebih Asyik Bicara pada Ibu

Ibu itu dikenal cerewet, tapi justru hal tersebut yang bikin anak jadi lebih nyaman saat membicarakan semua hal. Jika punya ayah yang cenderung pendiam, terkadang komunikasi yang terjalin antara ayah dan anak hanya itu-itu saja. Bagaimana anak bisa dekat jika si ayah jarang bertanya bahkan merasa canggung saat sedang berdiskusi.

Sesekali, sang ibu bisa mundur sejenak dan biarkan sang ayah yang menjalin bonding dengan sang anak. Dorong pasangan untuk sering bertanya hal-hal kecil tapi bikin anak merasa diperhatikan. Selain itu, kurangi nada bicara atau sikap menghakimi saat anak mulai curhat dan meminta pendapat tentang masalah yang sedang dihadapi.

Kedekatan ibu dan anak yang terjalin sejak kecil ini sebaiknya mendapatkan perlindungan optimal dari asuransi anak. Bukan hanya menyangkut kesehatan tapi juga risiko jiwa agar tetap dapat menikmati kebersamaan ini dalam waktu yang relatif panjang. (eth)

Artikel Asli