Kecanggihan VAR Warnai Kekalahan Spurs dari Leicester

kumparan Dipublikasikan 13.33, 21/09/2019 • Billi Pasha Hermani
Pemain Tottenham Hotspur Harry Kane (kedua kanan) menendang ke arah gawang Leicester City di Stadion King Power. Foto: REUTERS/Andrew Boyers

Tottenham Hotspur kembali menelan hasil negatif. Mereka keok 1-2 saat menyambangi markas Leicester City, King Power Stadium, Sabtu (21/9/2019). Harry Kane sempat membawa mereka unggul di babak pertama. Namun, The Foxes sukses mencetak dua gol balasan via Ricardo Pereira dan James Maddison.

Tambahan tiga angka ini membawa Leicester merangsek ke posisi runner-up klasemen sementara dengan torehan 11 poin. Sementara Spurs, melorot ke peringkat kelima karena baru mengemas 8 angka. Ini juga menjadi kegagalan mereka memenangi 9 laga tandang beruntun di Premier League sejak musim lalu.

Besar misi Spurs dalam lawatannya ke markas Leicester. Ya, mereka tengah berupaya memutus paceklik kemenangan dalam delapan laga tandang beruntun di Premier League.

Itulah mengapa Mauricio Pochettino mempersiapkan personel terbaiknya dalam laga ini. Kane dan Son Heung-min pada barisan terdepan.

Di area sentral, ada Moussa Sissoko serta Tanguy Ndombele. Lalu ada Jan Vertonghen dan Toby Alderweireld sebagai pilar pertahanan. Sementara Christian Eriksen dan Lucas Moura dicadangkan. Hugo Lloris yang mesti absen juga digantikan oleh Paulo Gazzaniga.

Beralih ke kubu Leicester. Brendan Rodgers menampilkan para pemain terbaiknya. Jamie Vardy, James Maddison, serta Youri Tielemans masih jadi tumpuan. Sementara Ricardo Pereira dan Ben Chilwell diplot di posisi full-back.

Satu-satunya pergantian yang dilakukan Rodgers cuma di lini tengah: Menukar Hamza Choudhury dengan Harvey Barnes. Alasannya, demi menunjang kreativitas dari sisi sayap.

Jual beli serangan tersaji di babak pertama. Leicester relatif intens untuk mendobrak pertahanan lawan dari sisi tepi, via Barnes dan Pereira.

Ancaman yang dituai Leicester berhasil menggetarkan jala gawang Spurs di menit 16. Namun, setelah meninjau VAR, wasit Paul Tierney menganulir gol Wilfred Ndidi tersebut. Dalam tangkapan tayangan ulang, para pemain Leicester lebih dulu terjerat perangkap offside.

Lain dengan skema Leicester, Spurs cenderung aktif dalam mengeksploitasi area tengah lawan. Terlebih, Leicester hanya bertumpu pada Ndidi sebagai gelandang pelindung back-four.

Dinamisnya pergerakan Sissoko dan Ndombele berpengaruh signifikan bagi Spurs dalam memenangi duel lini sentral. Itu belum ditambah dengan aktifnya Erik Lamela yang diutus aktif dari secondline.

Hasilnya tokcer. Diawali umpan dari tengah, Son kemudian meneruskannya lewat umpan back-heel yang sukses diakhiri oleh Kane di menit 29.

Sebenarnyastriker berusia 26 tahun itu sempat oleng dan terjatuh saat beradu dengan Caglar Soyuncu. Namun, dengan cerdik Kane berhasil melepaskan tendangan sesaat sebelum jatuh ke tanah. Skor 1-0 menghiasi babak pertama.

Leicester makin ngegas di babak kedua. Vardy nyaris saja menyamakan kedudukan di menit 54. Akan tetapi, sepakan jarak dekatnya masih mampu ditepis Paulo Gazzaniga.

Di menit 67, melalui serangan balik, Serge Aurier berhasil menjebol gawang Kasper Schmeichel. Namun, lagi-lagi VAR berbicara. Tierney menganulirnya karena Son sebelumnya berada dalam posisi offside.

Bukannya menambah pundi-pundi gol, Spurs malah kebobolan di menit 69 melalui aksi Pereira. Itu menjadi gol pertama pemain asal Portugal tersebut di musim ini.

Berusaha untuk mengembalikan momentum, Pochettino kemudian memasukkan Eriksen dan menarik keluar Lamela.

Malang bagi Spurs, mereka balik tertinggal di menit 85. Adalah Maddison yang jadi aktor gol Leicester lewat sepakannya.

Tak ada gol balasan yang dibuat Spurs. Masuknya Moura juga tak memberikan impak berarti. Spurs pun takluk dari Leicester dengan skor akhir 1-2.

Oh, iya, sebelumnya kami sudah memperkirakan soal kegagalan Spurs dalam laga ini lho. Ini artikelnya.

Artikel Asli