Kecanduan Gim Online, 2 Remaja Bekasi Alami Gangguan Jiwa

INDOZONE.ID Dipublikasikan 06.04, 18/10/2019 • Rizka
Kecanduan Gim Online, 2 Remaja Bekasi Alami Gangguan Jiwa
Dua remaja di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, dilaporkan mengalami gangguan jiwa akibat kecanduan bermain gim (game) online.

Dua remaja di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, dilaporkan mengalami gangguan jiwa akibat kecanduan bermain gim (game) online hingga terpaksa dirawat di yayasan gangguan jiwa setempat.

"Ini contoh nyata penggunaan telepon seluler secara berlebihan sebagai dampak perkembangan gim," kata Ketua Yayasan Al Fajar Berseri Tambun Selatan, Marsan, Kamis (17/10).

Marsan mengatakan kedua remaja itu sudah sekitar satu tahun dirawat di yayasan yang ia dirikan. Mereka adalah Nv (17) asal Cikarang Selatan dan Ty (17) asal Cibitung. Dalam kesehariannya, mereka hanya berdiam diri dan sesekali berinteraksi. Namun, kedua pasien itu seketika bereaksi ketika melihat telepon genggam.

Kehidupan pasien dengan gangguan kejiwaan di Yayasan Al Fajar Berseri Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. (ANTARA/Pradita Kurniawan Syah)

"Jadi, (sehari-hari) cuma biasa saja, diam saja. Makan juga bisa. Cuma kalau ada HP, langsung direbut, diambil, dimainin. Misalnya, ada HP di-charge, langsung direbut. Ini karena mereka sudah terlalu ketergantungan dengan gim di HP," kata Marsan.

Berdasarkan informasi dari keluarga dua remaja tersebut, mereka sudah sangat berlebihan menggunakan ponsel. Bahkan, mereka mengoperasikan gawai dari sejak bangun tidur hingga malam, menjelang tidur kembali. Ketergantungan itu bahkan mengganggu kehidupan nyata mereka sebagai seorang pelajar. Tidak jarang, mereka pun bolos sekolah. Makan juga seringkali lupa dan parahnya lagi mereka justru marah jika dilarang.

"Bukan cuma marah, tapi sampai melawan orang tuanya. Ada beberapa kasus, termasuk yang dua ini," ujar Marsan.

Ilustrasi/photo/GamesRadar

Marsan melanjutkan Nv dan Ty bukan pasien gangguan kejiwaan pertama yang dirawat karena penggunaan gawai. Sebelumnya, ada satu pasien lain asal Medan yang mengalami hal serupa.

"Namanya Wh. Katanya sudah (mengunjungi) ke beberapa tempat sampai akhirnya ke kami. Empat bulan di sini, sekarang sudah pulang," katanya.

Menurut Marsan, penggunaan gawai seharusnya sudah mulai dikendalikan. Orang tua berperan besar mengatasi hal ini sedari dini dan harus bisa memberi pemahaman ke anak bahwa gawai mengandung 'magnet' yang bisa merusak otak.

Efek Negati Penggunaan Gawai

Ilustrasi/photo/Beebom

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Kabupaten Bekasi, Muhammad Rozak membenarkan bahwa penggunaan gawai berlebihan bisa menimbulkan efek negatif. Namun, ia mengaku belum menangani atau menerima laporan terkait anak yang terganggu jiwanya karena telepon genggam.

Meski demikian, dalam beberapa kasus kekerasan terhadap anak, salah satu faktor penyebabnya yakni penggunaan telepon genggam. Dia mencontohkan, kasus tawuran pelajar yang dipicu dari informasi beredar di gawai. 

"Begitu juga kasus pencabulan anak dari anak yang sering mengoperasikan telepon genggam, baik mengakses situs porno atau aplikasi dewasa seperti bigo dan lainnya," kata dia.

Ilustrasi/photo/Jagran Josh

Menurut Rozak, setidaknya KPAD Kabupaten Bekasi menangani tujuh sampai sepuluh kasus per bulan terkait kekerasan anak. Ironisnya dari hasil penelusuran, sekitar 30 persen kasus kekerasan diawal dari gawai.

"Orang tua jangan kalah sama anak. Jangan sampai anak mengunci gawainya dan orang tua tidak mampu melihat. Jangan takut memasuki ruang pribadi anak karena anak pun lahir dari ruang pribadi orang tuanya. Peran ini sangat penting," kata Rozak.

Artikel Asli