Kebanyakan Dipanen, Viagra Himalaya Terancam Punah

Kompas.com Dipublikasikan 13.02, 14/07 • Kontributor Sains, Monika Novena
Kyle Knight / AFP
Masyarakat di Dataran Tinggi Tibet mencari jamur yang dijuluki sebagai viagra Himalaya.

KOMPAS.com - Jamur termahal di dunia yang dijuluki sebagai "viagra Himalaya" terancam punah.

Diungkapkan oleh Organisasi Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN), menurunnya populasi viagra Himalaya dipicu oleh adanya lonjakan permintaan penggunaannya sebagai obat tradisional China.

Seperti dikutip dari Phys.org, Selasa (14/7/2020), jamur parasit yang tumbuh di dalam larva ngengat ini hanya tumbuh di Dataran Tinggi Tibet dan menjadi sumber pendapatan utama bagi beberapa masyarakat.

Selama berabad-abad, jamur dengan nama latin Ophiocordyceps sinensis ini digunakan sebagai tonik kesehatan, tetapi permintaannya kian meningkat sejak 1990-an.

Baca juga: Unik, Tanaman Bercahaya Ini dari Rekayasa Gen Jamur Bioluminescence

Masyarakat sekitar pun melakukan panen berlebih terhadap jamur ini dan memangkas setidaknya 30 persen populasinya dalam 15 tahun terakhir.

"Ini merupakan satu dari kasus terdokumentasikan. Jamur-jamur ini terancam karena panen berlebihan," kata Gregory Mueller, kepala Komite Konservasi Jamur IUCN.

Ia pun menyebut perlunya ada program panen berkelanjutan untuk melindungi jamur dan masyarakat yang bergantung sebagai pendapatan mereka.

Ophiocordyceps sinensis juga dikenal dengan nama "Caterpillar Fungus"  yang berarti jamur ulat.

Sementara itu, masyarakat lokal menyebutnya dengan nama Yarchagumba yang berarti tanaman musim panas, serangga musim dingin.

Jamur-jamur ini hanya ditemukan di padang rumput di ketinggian 3.500 meter di atas permukaan laut. Jamur terbentuk di dalam ulat bulu, dan perlahan membunuh inang mereka.

Untuk tumbuh, diperlukan iklim khusus dengan suhu musim dingin di bawah titik beku namun tanah tidak beku secara permanen.

Dikarenakan nilai ekonominya yang tinggi; setiap musim semi di Nepal, rumah dan sekolah kosong karena ribuan penduduk desa melakukan perjalanan yang sulit menuju pegunungan untuk mengambilnya.

Namun selama pandemi, otoritas melarang perjalanan tahunan untuk memanen jamur.

Baca juga: Jamur Enoki Dikaitkan dengan Wabah Listeria, Penyakit Apa Itu?

Sebenarnya belum ada penelitian yang membuktikan jika jamur ini memiliki kandungan yang bermanfaat. Namun pakar herbal China percaya bahwa jamur ini dapat meningkatkan kinerja seksual sehingga ia pun mendapat julukan viagra Himalaya.

Selain itu, jamur ini juga diklaim dapat menyembuhkan berbagai penyakit, meskipun belum ada bukti ilmiah yang mendukungnya.

Sejarah mencatat bahwa saking mahalnya, harga jamur pernah mencapai tiga kali lipat harga emas di Beijing, China. Orang di China dan Nepal di masa lalu juga sering bentrok karena memperebutkan jamur ini.

Penulis: Kontributor Sains, Monika NovenaEditor: Shierine Wangsa Wibawa

Artikel Asli