Kasihan, Bocah Kerja Kuli Bangunan demi Beli HP untuk Belajar Online di Grobogan

Liputan6.com Diupdate 06.00, 09/08 • Dipublikasikan 06.00, 09/08 • Felek Wahyu
Seorang siswa Mts di Grobogan terpaksa bekerja sebagai kuli bangunan demi membeli HP untuk belajar online di Grobogan. (Foto: Liputan6.com/Felek Wahyu)
Seorang siswa Mts di Grobogan terpaksa bekerja sebagai kuli bangunan demi membeli HP untuk belajar online di Grobogan. (Foto: Liputan6.com/Felek Wahyu)

Liputan6.com, Grobogan - Demi bisa mengikuti pelajaran sekolah, seorang bocah di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah memilih kerja jadi kuli bangunan.

Gaji kecil yang didapat itu dikumpulkan sedikit demi sedikit agar bisa membeli HP alias ponsel supaya bisa mengikuti pelajaran jarak jauh yang diterapkan pemerintah di masa pendemi Covid-19.

Kerja jadi kuli bangunan di rumah tetangga dilakukan lantaran Catur Feriyanto, yang tinggal bersama kakaknya selalu terlambat mengumpulkan tugas sekolah.

“Tidak punya HP tidak bisa belajar, jadi kerja biar bisa beli HP,” aku Catur.

Layaknya kuli bangunan lain, Catur juga bekerja mengaduk campuran bangunan yakni semen dan pasir serta mengangkat genting. Saat ditanya apakah lelah bocah kecil itu mengaku tetap semangat demi barang yang diinginkan.

“Tidak apa-apa. Biar bisa beli HP,” tambahnya.

Tugas sekolah, baru bisa dikerjakan Catur setelah pukul 21.00 WIB setelah meminjam ponsel milik kakaknya sepulang kerja jadi kuli bangunan.

“Siang tidak bisa kerjakan tugas. Bisanya malam, pinjem HP dari mbak (kakak). Jadi kerja biar dapat uang buat beli HP,” ucapnya.

 

Alasan Pemilik Proyek Bolehkan Catur Bekerja

Seorang siswa Mts di Grobogan terpaksa bekerja sebagai kuli bangunan demi membeli HP untuk belajar online di Grobogan. (Foto: Liputan6.com/Felek Wahyu)

Bukan ingin mempekerjakan anak di bawah umur, namun semangat Catur Febriyanto yang membuat Marno pemilik proyek mendukung dan mengizinkan Catur bekerja.

Pemilik rumah tempat Catur bekerja mengaku mengizinkan bocah itu bekerja kendati tidak seberat pekerja lainnya.

“Saya izinkan kerja karena katanya ngak punya HP buat brlajar. Jadi saya izinkan. Tidak ngoyo (memaksa) harus kerja keras. Cuma kami minta ngaduk dan bantu angkat genteng,” kata Marno yang tinggal sekitar 20 meter dari rumah Catur.

Catur, merupakan siswa kelas 7 MTs Ya Robi, Grobogan. Di Desa Karangrejo, Kecamatan Grobogan, Catur tinggal bersama dua saudaranya dan kedua orangtuanya yang bekerja sebagai buruh tani.

Marno mencaritakan, awalnya Catur ingin kerja karena ingin punya ponsel tapi tak punya uang.

“Ya saya suruh kerja di sini. Kerjaanya sehari hari bagus cakep gak males-malesan saya kasih kerja kemampuannya dia kerja yang berat kerja yang keras itu saya tidak boleh sekitar bisa itu saja sehari ya saya kasih Rp50 ribu,” katanya.

Simak Video Pilihan Berikut Ini:

Artikel Asli