Kamasutra Satwa: Tubuh Penuh Duri, Bagaimana Cara Landak Kawin?

Kompas.com Dipublikasikan 12.27, 17/01/2020 • Amalia Zhahrina
GETTY IMAGES
Ilustrasi landak

KOMPAS.COM - Selain fisiknya yang menggemaskan, landak juga dikenal karena bulu runcing yang menutupi sebagian besar tubuhnya. Duri-duri tersebut berfungsi untuk memberikan perlindungan alami terhadap predator yang ingin memangsanya.

Jika hampir seluruh duri menutupi tubuhnya, lalu bagaimana cara landak kawin dan bereproduksi?

Landak dapat secara luas dibagi menjadi dua, yaitu Dunia Lama dan varietas Dunia Baru. Kedua jenis ini tentunya sangat berbeda satu sama lain, khususnya dalam hal ekologi dan struktur sosial.

Baca juga: Kamasutra Satwa: Punya 2 Kelamin Sekaligus, Bagaimana Siput Kawin?

Salah satu landak Dunia Baru yang telah dipelajari, landak Amerika Utara (Erethizon dorsatum), hidup di pohon dan memakan daun, buah, dan kulit kayu.

Sedangkan, Landak Dunia Lama hidup di tanah (seperti di gua) dan memakan buah, akar dan umbi.

Selain itu, landak Dunia Baru pada umumnya adalah binatang soliter, sedangkan landak Dunia Lama hidup dalam kelompok keluarga.

Sistem Perkawinan Landak Dunia Baru dan Lama

Kedua jenis landak ini juga memiliki sistem perkawinan yang sangat berbeda. Landak Dunia Lama merupakan salah satu hewan yang monogami, atau hanya menikahi satu pasangan selama hidupnya.

Menurut pakar landak Uldis Roze, pasangan landak dewasa ini akan membentuk pasangan seumur hidup dan berkembang biak beberapa kali setiap tahunnya. Seekor betina landak lama akan mengandung bayi selama 90 hari atau tiga bulan.

Sebaliknya, landak betina Amerika Utara hanya subur sekali setahun selama delapan hingga 12 jam. Namun, masih minim pengetahuan tentang perilaku landak jenis ini.

"Faktanya, mereka (landak Dunia Baru) sangat tidak aktif secara seksual sehingga vagina biasanya ditutup dengan selaput," kata Roze, seperti dilansir dari LiveScience (02/08/2014).

Pada bulan September, membran atau lapisan vagina pada landak betina akan hancur, kemudian mulai mengeluarkan lendir vagina yang tidak sedap bersama dengan air kencingnya untuk memikat jantan ke wilayahnya.

Baca juga: Kamasutra Satwa: Kungkang Memang Malas, tapi Tidak untuk Kawin

Roze lanjut menjelaskan, ketika jantan pertama tiba, betina masih belum siap untuk berovulasi sehingga jantan tersebut harus menunggu. Akibatnya, jantan-jantan lain ikut menghampiri betina tersebut dan terjadi pertempuran ganas antar jantan yang menghasilkan bekas luka, telinga yang hilang, dan cedera lainnya.

Jantan yang menang akan menjaga betina dengan duduk di cabang bawah pohonnya, memungkinkan dia untuk mencegat pejantan lain yang mendekat. Akhirnya, ia akan merangsang wanita itu dengan mengencinginya.

Namun, buang air kecil ini bukan berasal dari kandung kemih, melainkan bentuk dari ejakulasi.

"Itu adalah proyektil berkecepatan tinggi yang meluncurkan tetesan urin dari satu cabang pohon ke cabang lainnya,” sambung Roze.

Baca juga: Kamasutra Satwa: Gurita Jantan Tancapkan Penis pada Hidung Pasangannya

Jika betina menolak kedatangan seekor jantan, ia cukup berteriak, mengibaskan urin, dan melarikan diri. Dia juga mungkin bersikap bermusuhan dan mencoba menggigit atau mengusapnya jika dia tidak mendapatkan petunjuk.

"Laki-laki harus menghormati (keputusan) perempuan itu tidak bisa diperkosa," kata Roze.

Ketika betina siap kawin, dia akan menunjukkan bagian belakangnya dan menekuk ekornya agar punggungnya tidak menusuk jantan. Dia juga akan meletakkan sisa duri rata di tubuhnya, memungkinkan laki-laki untuk "memasangnya" sebentar walaupun sedikit bahaya.

Pasangan itu akan kawin beberapa kali lagi sampai betina sudah cukup kemudian saling menjauh. Jantan akan segera pergi untuk mencari lebih banyak pasangan, betina akan menghabiskan tujuh bulan ke depan dengan hamil, dan empat bulan berikutnya menyusui bayinya sebelum waktunya untuk memulai permainan lagi.

Menariknya lagi, landak Dunia Lama kawin lagi segera setelah betina melahirkan.

"Tapi ini kawin steril, dan tidak ada bayi yang dihasilkan," kata Roze.

Penulis: Amalia ZhahrinaEditor: Sri Anindiati Nursastri

Artikel Asli