KSAD Thailand: Kebencian pada Bangsa Sendiri Lebih Mengancam daripada Covid-19

iNews.id Dipublikasikan 12.31, 05/08/2020 • Ahmad Islamy Jamil
Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Thailand, Apirat Kongsompong. (Foto: AFP)
Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Thailand, Apirat Kongsompong. (Foto: AFP)

BANGKOK, iNews.id – Pimpinan militer Thailand menilai kebencian terhadap bangsa sendiri sebagai ancaman yang lebih besar daripada wabah virus corona (Covid-19). Pendapat itu dia sampaikan di hadapan para calon prajurit, di saat gerakan prodemokrasi yang baru lahir di negara itu semakin berani menunjukkan taringnya.

Selama lebih dari dua pekan terakhir, hampir setiap hari gelombang protes melanda Thailand. Berbagai aksi unjuk rasa tersebut sebagian besar diikuti oleh kaum muda di kerajaan itu. Gelombang protes itu dipicu oleh kemarahan mereka pada pemerintah promiliter yang dipimpin mantan pimpinan Angkatan Bersenjata Thailand, Prayut Chan O Cha.

Dalam kunjungannya ke Akademi Militer hari ini, Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Thailand, Apirat Kongsompong, membahas tentang “penyakit” mengkritik negara sendiri. “Covid-19 dapat disembuhkan, tetapi penyakit yang tidak dapat disembuhkan adalah kebencian pada bangsa ini,” kata sang jenderal, Rabu (5/8/2020).

“Kita tidak bisa menyembuhkan orang-orang yang membenci bangsanya,” ujarnya seperti dikutip AFP.

Politik Thailand telah lama bergelut dengan siklus protes yang keras dan kudeta militer. Dalam siklus tersebut, kekuatan militer secara jelas berada dalam posisi melindungi kerajaan.

Raja Maha Vajiralongkorn yang superkaya saat ini duduk di puncak kekuasaan Thailand. Dia dilindungi dari berbagai bentuk kritik terbuka karena bernaung di bawah Pasal Pencemaran Nama Baik Kerajaan yang keras.

Sementara, Perdana Menteri Prayut Chan O Cha—yang memimpin kudeta terakhir pada 2014—dipandang sebagai produk warisan militer dalam politik. Sebagian besar kabinetnya pun dipenuhi oleh para jenderal dan elite penguasa kerajaan.

Pemerintahan Prayut kini menghadapi kritik lantaran menangani pandemi virus corona (Covid-19). Kebijakan yang diambilnya dianggap jadi penyebab merosotnya ekonomi Thailand dan jutaan orang menganggur.

Artikel Asli