KNKT: Kecelakaan Pesawat Lion Air karena Desain dan Kelalaian Pilot

kumparan Dipublikasikan 05.17, 23/09/2019 • Feby Dwi Sutianto
4 anggota dari Perusahaan Boeing 737 MAX hadir di JICT, diskusi dengan KNKT. Foto: Fachrul/kumparan

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Indonesia menemukan fakta terbaru soal kecelakaan pesawat Lion Air JT-610 pada 29 Oktober 2018. Pesawat tipe Boeing 737 Max 8 jurusan Jakarta-Pangkal Pinang jatuh di kawasan Tanjung Karawang, Jawa Barat beberapa menit setelah lepas landas dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang.

Menurut laporan KNKT yang dilaporkan The Wall Street Journal (WSJ), Senin (23/9), para penyelidik menemukan adanya persoalan desain pesawat dan kelalaian yang memicu kecelakaan fatal itu. Laporan WSJ tersebut merupakan temuan pertama otoritas Indonesia yang bakal dipublikasikan.

Masih menurut WSJ, kelalaian pilot (pilot error) dan kesalahan prosedur perawatan pesawat juga menjadi pemicu.

Atas temuan itu, Juru Bicara Boeing mengaku masih terus bekerja dengan KNKT untuk menuntaskan hasil investigasi. Sementara petinggi KNKT menolak berkomentar terkait bocoran hasil investigasi awal yang ditulis WSJ.

Sementara itu, otoritas keselamatan penerbangan Amerika Serikat (The U.S. National Transportation Safety Board/NTSB) akan menyampaikan beberapa rekomendasi mulai dari panduan kemampuan menerbangkan pesawat secara manual hingga memperbaiki desain pesawat baru oleh FAA.

"Badan keselamatan transportasi AS ditargetkan pada akhir September untuk meningkatkan pelatihan di kokpit pesawat dan mekanisme pengambilan keputusan oleh awak kabin," tulis WSJ.

Puing pesawat Ethiopian Airlines ET 302 Foto: Reuters/Tiksa Negeri

Tujuan dari pelatihan tersebut untuk meningkatkan kecakapan pilot dalam menghadapi situasi darurat seperti gangguan sistem otomatis, kemudian pilot bisa merespons dengan tepat saat terjadi peringatan dini di pesawat seperti yang terjadi pada kecelakaan 2 Boeing 737 Max, Lion Air dan Ethiopian Airlines.

Pesawat Boeing 737 MAX diparkir di tempat parkir staf karena tidak ada lagi kapasitas yang tersisa di bandara. Foto: Twitter/@Airplane_pic

Hingga saat ini, seluruh armada Boeing 737 Max yang telah diserahkan ke maskapai atau masih berada di pabrik harus di-grounded atau dilarang terbang sementara. Di seluruh dunia, setidaknya ada 500 unit Boeing 737 Max yang harusgrounded.

Otoritas Penerbangan Sipil Amerika Serikat (Federal Aviation Administration/FAA) memperpanjang keputusan penghentian operasional sementara dari pesawat Boeing 737 Max. FAA memperluas evaluasi terhadap seluruh keluarga Boeing 737 series, termasuk Boeing 737 NG.

Dampak lain yang ditimbulkan, kinerja keuangan Boeing ikutan terpukul. Boeing mencatatkan kinerja keuangan buruk pada kuartal II. Produsen pesawat asal Amerika Serikat (AS) ini rugi USD 2,942 miliar atau setara Rp 41,18 triliun. Sementara pada kuartal II 2018, Boeing masih untung USD 2,196 miliar.

Artikel Asli