Jumlah pilot asing di China kian berkurang, apa penyebabnya?

Kontan.co.id Dipublikasikan 04.13, 16/12/2019 • Anggar Septiadi

KONTAN.CO.ID - JUMLAH pilot asing di China yang biasanya mudah mendapat gaji US$ 300.000 ditambah berbagai tunjangan bakal berkurang. Pelarangan terbang Boeing 737 Max oleh pemerintah kepada maskapai pasca insiden di Indonesia dan Ethiopia jadi alasannya.

Reuters, Minggu (15/12) melaporkan sejumlah maskapai China telah mulai menghentikan perekrutan terhadap pilot asing sembilan bulan pasca insiden. China sendiri merupakan salah satu pembeli terbesar Boeing 737 Max, 20% armada global pesawat tersebut kini mangkrak di hanggar.

Maskapai di China sendiri kini memang masih mengupah para pilot asing, khususnya dari AS dengan harga tinggi. Namun larangan terbang bagi Boeing 737 Max memang sedikit banyak mempengaruhi rata-rata upah yang diterima pilot asing di China.

Apalagi tanpa adanya batas waktu pelarangan yang jelas rekrutmen pilot asing di China jelas bakal berkurang signifikan, cuma segelintir maskapai yang masih melakukan rekrutmen.

*Baca Juga: Kencang, laju pertumbuhan industri China bulan lalu yang tercepat *

“Kami memantau sejumlah maskapai tengah menghentikan prose rekrutmen mereka. Beberapa maskapai bahkan membatalkan pesanan Bpeing 737 Max,” kata Andre Allard, Presiden Direktur AeroPersonnel Global Inc perusahaan rekrutmen khusus industri aviasi.

Pertumbuhan kelas menengah China tercatat memang jadi salah satu faktor tumbuhnya industri penerbangan negara tirai bambu ini. Mereka sering melakukan plesiran lokal, dan Boeing 737 Max jadi pilihan untuk penerbangan-penerbangan tersebut.

Sayangnya, pilot asli China kurang mumpuni menerbangkan Boeing 737 Max. Ini yang bikin jumlah pilot asing di China membludak. Pada 2016, jumlah pilot asing di China telah mencapai 1.000 orang, dua kali lipat dibandingkan jumlah pada 2010.

Perusahaan rekrutmen industri penerbangan lainnya Wasinc International menjelaskan, secara umum pelarangan Boeing 737 Max terbang juga memukul pasar tenaga kerja penerbangan China.

*Baca Juga: Kesepakatan dagang bikin ekspor AS ke China melonjak hampir dua kali lipat *

Mereka mencatat dari 28 maskapai penerbangan di China, kini cuma 7 yang melakukan rekrutmen pilot.

“Sebagian besar maskapai mengalami kelebihan tenaga kerja akibat pelarangan Boeing 737 Max,” kata Presiden Direktur Wasinc Dave Ross.

Pun masakapai yang masih melakukan rekrutmen tercatat mengurangi gaji para calon pilotnya. Misalnya China United Airlines menawarkan upah US$ 288.000 per tahun dengan kontrak tiga tahun untuk menerbangkan seri Boeing 737.

Upah tersebut sudah termasuk tunjangan pendidikan bagi anak-anak pilot sebesar US$ 1.000 per bulan. Meski demikian, permintaan dan nilai upah pilot untuk pesawat pabrikan Airbus justru tercatat stabil.

*Baca Juga: Pemain Arsenal kritik tindakan Beijing atas Muslim Uighur, China meradang *

Juneyao Airlines misalnya menawarkan upah US$ 299.000 per tahun bagi pilot penerbang Airbus A320 di usia 30 tahun hingga 53 tahun. Nilai upah tersebut juga bakal meningkat di tahun kedua bekerja menjadi US$ 311.000.

Di lain sisi Pemerintah China juga kini tengah mendorong agar para maskapainya tak terlalu bergantung terhadap pilot-pilot asing. Per 2018 jumlah pilot lokal China tercatat sebanyak 61.492, tumbuh 54% sejak 2014.

Namun, jumlah tersebut dinilai belum cukup. Boeing mencatat dalam 20 tahun ke depan China setidaknya bakal butuh 8.090 pesawat baru. Untuk mengoperasikan pesawat-pesawat baru tersebut China masih butuh 124.000 pilot, ini setara 119 pilot anyar tiap minggu selama dua dekade mendatang.

Artikel Asli