Jual Mi Ayam Rp 5.000 per Porsi Saat Pandemi, Warung Pedagang Ini Ramai Pembeli

Kompas.com Dipublikasikan 01.18, 08/08/2020 • Kontributor Yogyakarta, Wijaya Kusuma
KOMPAS.COM/YUSTINUS WIJAYA KUSUMA
Warung mie ayam milik Gatot Prayitno di Jalan Bugisan Selatan No 48, Kota Yogyakarta.

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Sebuah warung mi ayam di Jalan Bugisan Selatan No 48, Kota Yogyakarta, sekilas tidak berbeda dengan pedagan lainnya. Namun, warung ini ramai dikunjungi pembeli.

Warung yang berada di pinggir jalan ini mematok harga Rp 5.000 untuk satu porsi mi ayam. Harga yang terbilang murah itu membuat warung ini ramai didatangi pembeli sejak dua bulan terakhir.

Pemilik warung mi ayam, Gatot Prayitno (40) menceritakan perjalanannya berdagang mi ayam.

Awalnya, Gatot merintis usaha mi ayam di sebuah kampung di Solo, Jawa Tengah.

"Saya belajar secara otodidak, dulu awal jualan di kampung daerah Solo," ujar Gatot saat ditemui di warungnya, Jalan Bugisan Selatan No 48, Kota Yogyakarta, Jumat (7/8/2020).

Baca juga: Mendagri Tito: Petahana yang Tak Serius Tangani Covid-19 Tidak Usah Dipilih

Saat berjualan di kampung, warung mi ayam Gatot tak terlalu ramai. Ia pun memutuskan pindah ke Yogyakarta.

"Waktu di kampung itu kan kurang pembelinya, saya terus ke Yogya. Pikiran saya jualan di kampung dengan di kota yang banyak orang istilahnya banyak duitnya kemungkinan lebih mudah berjualan dengan orang yang banyak duitnya," kata dia.

Di Yogyakarta, Gatot membuka warung mi ayam di sekitar GOR Amongrogo. Setelah itu, Gatot pindah berjualan di Pakuncen, Kecamatan Wirobrajan.

Saat itu, Gatot menjual satu mangkok mi ayam seharga Rp 4.000.

"Dulu di depan Pasar Klitikan, Pakuncen. Dulu malah harganya masih Rp 4.000, tapi dulu sudah lama, ya banyak pelanggan saya waktu itu," ungkapnya.

Lama berjualan di Pakuncen, Gatot pindah ke Jalan Godean Kilometer 4. Di lokasi ini, Gatot memasang harga Rp 6.000 per porsi.

Namun, Gatot sempat berhenti jualan selama dua bulan karena pandemi Covid-19.

"Awal pandemi itu saya tutup dua bulan, ya hanya di rumah saja, tidak ada kerjaan," kata dia.

Turunkan harga jadi Rp 5.000

Selama berhenti jualan, Gatot melihat banyak masyarakat yang ekonominya terdampak karena pandemi Covid-19.

Baca juga: Perjalanan Terduga Pelaku Fetish Kain Jarik, Ditangkap Tanpa Perlawanan di Kampung Halaman

Ia pun memutuskan menurunkan harga mi ayam yang dijualnya menjadi Rp 5.000. Gatot mencoba menggaet pembeli dari kalangan berpenghasilan rendah.

"Saya coba menyasar masyarakat bawah, penghasilanya rendah saya kasih harga Rp 5.000. Jadi mengeluarkan dompet, uang Rp 5.000 sudah bisa makan," jelas Gatot.

Warung mi ayam itu kembali dibuka pada Juni 2020, setelah dua bulan tutup. Tak disangka, warung mi ayam Gatot ramai diserbu pelanggan.

Bahkan, Gatot sampai bisa membuka cabang di Jalan Bugisan Selatan No 48, Kota Yogyakarta.

Meski memasang harga Rp 5.000 per porsi, Gatot mengaku tak rugi.

"Tidak rugi, ya memang untungnya sedikit tapi pembelinya kan banyak. Harganya mahal tapi pembelinya sedikit, ya malah rugi," ujarnya.

Omzet Rp 2 juta per hari

Warung mi ayam Gatot buka dari pukul 07.00 WIB. Setiap hari, warung ramai dikunjungi pembeli karena harganya murah.

Selain mi ayam, Gatot juga menjual satu porsi bakso seharga Rp 5.000.

"Sehari bisa terjual kurang lebih 300 porsi, ya masuk di angka Rp 2 juta sehari. Kemarin saja parkirnya sampai di depan tetangga sana," ungkapnya.

Sebagian besar pembeli mi ayam di warung Gatot berasal dari Yogyakarta. Tapi, tak jarang pembeli juga berasal dari luar daerah.

Baca juga: Ini Penyebab Sopir Ambulans Mengantar Jenazah Covid-19 dari Jatim ke Jakarta…

"Yang dari jauh-jauh banyak, tadi pagi malah ada yang dari Padang, kebetulan baru di Yogya. Dia itu lihat di Instagram, terus mencari ke sini, datang ke sini sekitar jam 8 pagi," kata dia.

Untuk menarik pengunjung, Gatot menyediakan paket spesial, salah pembeli pertama dan terakhir akan mendapatkan bonus ekstra pangsit.

Pelanggan yang berulang tahun juga diberikan satu mangkok mi ayam gratis.

"Yang ulang tahun datang ke sini saya gratiskan makan mie ayam bakso dan es teh. Ke sini menunjukan KTP saja," pungkasnya.

Penulis: Kontributor Yogyakarta, Wijaya KusumaEditor: Dheri Agriesta

Artikel Asli