Jika ini terjadi, Trump bisa terdepak dari bursa pemilihan presiden AS

Kontan.co.id Dipublikasikan 04.08, 02/07 • Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Dalam beberapa waktu terakhir, hasil polling sejumlah survei politik di AS menunjukkan bahwa Donald Trump memiliki hasil jajak pendapat yang sangat buruk. Performanya terus menurun seiring dengan banyaknya tantangan yang harus Trump hadapi di Amerika.

Melansir Jerusalem Post, sejumlah petinggi dari Partai Republik khawatir bahwa Presiden Donald Trump bisa terdepak dari pemilihan menjelang pemilihan presiden pada bulan November jika jumlah jajak pendapatnya tetap rendah.

"Sekarang masih terlalu dini, tetapi jika jajak pendapat terus memburuk, Anda dapat melihat skenario di mana dia bisa saja keluar," kata seorang anggota Partai Republik kepadaFox News.

Baca Juga: Donald Trump: Mural Black Lives Matter di New York adalah simbol kebencian

"Saya sudah mendengar rumornya tapi saya ragu itu benar. Taruhan saya adalah, dia akan hengkang jika dia yakin tidak ada cara untuk menang," kata anggota Republik lainnya.

Sebuah jajak pendapat yang dirilis olehFox News baru-baru ini menunjukkan bahwa posisi Trump berada di belakang kandidat presiden asal Demokrat Joe Biden dengan selisih mencapai 12 poin. Jumlah jajak pendapat untuk presiden telah menurun di tengah kritik atas penanganan pandemi virus corona serta aksi unjuk rasa yang berbuntut kerusuhan setelah pembunuhan George Floyd oleh seorang polisi Minneapolis.

Baca Juga: Pengakuan Trump: Saya semakin senang dengan Pimpinan The Fed Powell saat pandemi

Tim kampanye Trump menyangkal bahwa presiden akan keluar dari bursa pemilihan presiden dan angkat bicara soal pemilihan dan metodologi yang digunakan.

"Ini adalah berita palsu," kata juru bicara kampanye Trump Tim Murtaugh kepada Fox. “Semua orang tahu bahwa jajak pendapat media selalu salah tentang Presiden Trump - mereka meremehkan Partai Republik dan tidak menyaring calon pemilih - untuk membuat narasi palsu. Itu tidak akan berhasil. Ada keresahan yang serupa pada tahun 2016 dan jika itu akurat, Hillary Clinton akan berada di Gedung Putih sekarang."

Artikel Asli