Jika Shin Tae-yong Jadi Pelatih Timnas Indonesia...

kumparan Dipublikasikan 06.20, 19/11/2019 • Yoga Cholandha
Shin Tae-yong memimpin Korea Selatan di Rusia. Foto: AFP/Joe Klamar

Lars Jacobsson sudah sungguh-sungguh berusaha. Mulanya, dia berupaya meyakinkan ofisial Korea Selatan bahwa dirinya hanyalah seorang turis, tetapi tak berhasil.

Tak kehabisan akal, pria Swedia itu kemudian berkeliling ke rumah-rumah warga sekitar. Akhirnya, dia berhasil menemukan rumah yang dirasa cocok. Pemilik rumah pun berhasil dia bujuk.

Dari rumah tersebut Jacobsson mengeluarkan peralatan canggihnya. Teleskop, kamera, semua ada. Di balik lindungan rumah warga itu, Jacobsson memata-matai sesi latihan Timnas Korea Selatan.

Jacobsson bukan orang biasa. Dia adalah anggota staf kepelatihan Swedia yang sengaja dikirim pelatih Janne Andersson untuk mencari kelebihan serta kekurangan lawan.

Korea Selatan jadi tugas pertamanya di Piala Dunia 2018. Jelang pertandingan pembuka di Nizhny Novgorod, Jacobsson berusaha sekeras tenaga untuk memenuhi permintaan Andersson.

Shin Tae-yong saat menangani Timnas Korsel di Piala Dunia 2018. Foto: AFP/Benjamin Cremel

Akhirnya, cara itulah yang dia gunakan. Dengan bersembunyi di rumah warga, Jacobsson pikir dia sudah berhasil menjalankan tugasnya. Namun, satu hal yang tak dia prediksi adalah kecerdikan Shin Tae-yong.

Shin adalah pelatih Timnas Korea Selatan di Piala Dunia 2018 itu. Usaha Jacobsson untuk menonton latihan tertutup yang gagal tidak dilupakan Shin begitu saja.

Shin tahu bahwa Jacobsson tidak akan menyerah dengan mudah. Untuk itulah dia menyiapkan sebuah siasat. Pemain-pemainnya diminta bertukar kostum untuk mengelabui mata-mata yang penasaran.

"Mereka mungkin tahu beberapa pemain kami tetapi sulit bagi mereka, orang-orang Barat, untuk membedakan orang Asia satu dengan yang lain. Itulah kenapa kami melakukannya," tutur Shin seperti dilansir Reuters.

Pada akhirnya, usaha Jacobsson itu terbongkar. Andersson bahkan harus meminta maaf secara terbuka setelahnya. Beruntung, Swedia tak harus menanggung malu berlebih karena mereka kemudian sukses menang 1-0.

Bagi Korea Selatan sendiri, kekalahan tersebut akhirnya menjadi salah satu alasan mengapa mereka gagal lolos ke fase gugur. Namun, di situ terlihat jelas karakter seorang Shin.

Shin Tae-yong memberi instruksi kepada pemain-pemain Korea Selatan. Foto: AFP/Jung Yeon-je

Ketika ditunjuk, Shin sebenarnya menghadapi situasi mahaberat. Pelatih sebelumnya, Uli Stielike, benar-benar membawa Timnas Korea ke situasi gawat darurat.

Musim panas 2017, Korea Selatan menelan kekalahan dari Qatar. Kekalahan ini membuat kans mereka lolos ke Piala Dunia 2018 terancam. Stielike pun akhirnya dipecat.

Permasalahan pada era Stielike bukan cuma soal hasil, tetapi jauh lebih kompleks dari itu. Taktik yang digunakan tidak jelas, hubungan dengan para pemain memburuk, dan peremajaan tim gagal total.

Dalam situasi tersebut Taeguk Warriors harus menghadapi laga kontra Iran dan Uzbekistan. Iran adalah lawan yang sudah lama tak ditaklukkan Korea Selatan, sementara Uzbekistan adalah tim kaya motivasi.

Korea Selatan bisa dengan mudah karam pada situasi tersebut. Akan tetapi, Shin mampu mengambil alih kemudi dan menyetir bahtera pelan-pelan, tapi pasti, menuju dermaga.

Korea Selatan memang gagal menang dalam dua laga krusial tersebut, tetapi mereka pada akhirnya tetap berhak untuk lolos ke Rusia sebagai runner-up grup. Shin pun dipertahankan.

Shin Tae-yong (paling kiri) mendampingi Korea Selatan dalam uji tanding kontra Latvia. Foto: AFP/Ozan Kose

Meski demikian, posisi Shin tidak pernah aman. Tak sedikit yang menyebutkan bahwa dirinya cuma disiapkan untuk jadi kambing hitam seandainya Korea Selatan gagal bicara banyak di Piala Dunia.

Nyatanya, Korea Selatan memang tak banyak bicara. Namun, sekali bicara, lantang sekali suara mereka. Tak tanggung-tanggung, dalam pertandingan grup terakhir melawan Jerman, mereka sukses meraih kemenangan.

Pertandingan itulah yang jadi simbol rezim singkat Shin di Timnas Korea Selatan. Dalam laga itu Korea Selatan memainkan sepak bola yang kerapkali diasosiasikan dengan sang pelatih.

Ada yang menyebut Shin sebagai Jose Mourinho dari Asia. Shin dipandang sebagai sosok pragmatis yang rela melakukan apa saja agar timnya meraih hasil optimal.

Namun, sebenarnya itu adalah anggapan yang malas. Memang benar bahwa tim asuhan Shin bisa tampak seperti tim asuhan Mourinho, tetapi filosofi asli Shin sebenarnya tidak demikian.

Shin adalah mantan pesepak bola yang cukup sukses di zamannya. Dia pernah merasakan gelar juara Liga Champions Asia dan mengumpulkan 23 caps Timnas Korea Selatan di medio 1990-an.

Shin Tae-yong (kiri) saat masih bermain. Foto: AFP/Stanley Chou

Posisi semasa bermain ini akhirnya berpengaruh pada cara Shin melihat sepak bola itu sendiri. Pada 2010, di Seongnam Ilhwa Chunma, filosofi bermain Shin yang asli benar-benar terlihat.

Dengan pakem 4-4-2, Shin mengedepankan permainan sepak bola yang cepat dan agresif. Dia lebih suka timnya mengalirkan bola secara vertikal secepat mungkin, sesering mungkin.

Dengan cara itulah Shin berhasil membawa Seongnam juara Liga Champions Asia pada 2010. Dalam laga final, mereka sukses menundukkan wakil Iran, Zob Ahan, dengan skor 3-1.

Sayangnya, prestasi itu tidak pernah bisa dia ulangi. Paling banter, gelar juara yang dia dapatkan hanyalah Piala FA Korea edisi 2011. Sampai akhirnya, Shin angkat kaki dari Seongnam pada 2012.

Kegagalan mengulangi prestasi itu mengubah Shin. Sejak itu Shin berhenti menjadi Alex Ferguson dan berubah jadi seperti Mourinho. Kecenderungannya untuk mengutak-atik taktik bermula dari sana.

Sebenarnya, pakem 4-4-2 masih jadi andalan Shin sampai di Piala Dunia 2018 itu. Akan tetapi, tak jarang pula dia menggunakan pakem lain, mulai dari 4-2-3-1 sampai 3-4-3, khususnya setelah mulai menangani Timnas di level junior.

Shin Tae-yong saat membawa Seongnam Ilhwa juara Liga Champions Asia 2010. Foto: AFP/Kiyoshi Ota

Perubahan-perubahan ini sering dilakukan Shin karena dia jadi kerap meragukan rencana awalnya. Biasanya, Shin mengubah taktik hanya beberapa saat sebelum pertandingan.

Walau demikian, filosofi asli Shin sebenarnya tak pernah hilang. Serangan balik yang belakangan jadi andalannya itu hanya bisa dilakukan jika tim terlatih mengeksekusi umpan vertikal cepat dengan baik.

Terlepas dari kekurangannya dari segi taktik itu, Shin adalah sosok pelatih yang bagus. Pertama, karena kecerdikannya tadi. Dia tahu apa yang harus dilakukan terutama di saat-saat sulit.

Kedua, soal komunikasi. Shin dikenal sebagai motivator ulung yang mampu menjalin hubungan baik dengan para pemain. Dialah yang sukses menyatukan Korea Selatan usai tercerai-berai di bawah Stielike.

Selasa (19/11/2019) ini, Shin akan bertemu dengan perwakilan PSSI di Malaysia. Dia akan menjalani wawancara untuk mengisi pos pelatih kepala Timnas Indonesia senior.

Apabila Shin nanti benar-benar menjadi pelatih 'Garuda', kira-kira itulah yang akan didapatkan. Shin adalah sosok yang bisa melejit di situasi sulit. Semestinya, kemampuan itu sangat berguna di tim nasional seperti milik Indonesia.

Artikel Asli