Jika Ekonomi RI Resesi, Dampaknya Susah Cari Kerja hingga Kemiskinan Melonjak

kumparan Dipublikasikan 04.31, 05/08 • kumparanBISNIS
Gedung perkantoran di Jakarta. Foto: ANTARA/Indrianto Eko Suwarso

Jurang resesi sepertinya mulai terlihat bagi ekonomi Indonesia. Badan Pusat Statistik atau BPS baru saja mengumumkan pertumbuhan ekonomi kuartal II terkontraksi 5,32 persen.

Kondisi tersebut semakin menyulitkan Indonesia terlepas dari jerat resesi. Banyak ekonom merasa pesimistis ekonomi akan tumbuh positif di kuartal III dan kuartal IV. Padahal, periode tersebut menjadi kunci agar ekonomi tidak kontraksi berturut-turut.

Suatu negara disebut mengalami resesi jika pertumbuhan ekonomi negatif dalam dua kuartal berturut-turut.

Sebelumnya pemerintah masih optimistis jika Indonesia akan terbebas dari jerat resesi. Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan ekonomi akan mulai pulih pada kuartal III 2020.

Dia memproyeksi, pertumbuhan ekonomi di periode Juli-September 2020 bisa tumbuh hingga 1 persen dalam skenario optimis. Namun dalam skenario terberatnya, perekonomian akan tumbuh negatif.

Adapun dalam rapat bersama Badan Anggaran DPR pada 9 Juli 2020, Sri Mulyani memproyeksi pertumbuhan ekonomi di kuartal III 2020 sebesar minus 1 hingga positif 1,2 persen.

"Untuk 2020 ini memang tergantung kinerja di kuartal III dan IV. Kalau kuartal III kita bisa hindari, tidak negatif, yang best scenario kuartal III bisa 0,5 sampai 1 persen. Kalau negatif untuk kuartal III, kita mungkin masih akan negatif. Itu berarti kalau kita bisa sampai negatif, kita bisa resesi," kata Sri Mulyani dalam kumparan to the point, Jumat (24/7).

Menteri Keuangan Sri Mulyani memberikan paparan saat konferensi pers terkait dampak virus corona di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Jumat (13/3). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Dampak Jika Indonesia Resesi

1. Daya Beli Turun

Jika Indonesia terkena resesi, dunia usaha akan merasakan dampaknya. Perusahaan akan melakukan penghematan besar-besaran. Akibatnya, gelombang PHK tak bisa dihindari hingga angka kemiskinan yang bertambah.

Konsumsi rumah tangga sebagai pendorong ekonomi domestik otomatis akan menurun. Selain itu, masyarakat juga akan mulai menghemat pendapatannya. Daya beli pun akan turun.

"Mereka yang kehilangan income, akan kehilangan daya beli, mengurangi konsumsi. Mereka yang masih punya income, juga akan menunda konsumsi, utamanya pada barang sekunder atau barang mewah," kata Direktur Riset Core Indonesia, Piter Abdullah.

2. Sulit Cari Kerja

Selain daya beli yang menurun, para pencari kerja akan semakin sulit. Perusahaan yang tak kuat menanggung resesi, akan mengurangi jumlah karyawannya bahkan menutup usahanya.

Sementara perusahaan yang masih mampu bertahan, diprediksi tak akan menerima karyawan baru. Jumlah lowongan pekerjaan akan menurun. Hal ini sebenarnya sudah terlihat sinyalnya dalam beberapa bulan terakhir.

Dari survei data BPS yang dilakukan sejak Januari-April 2020, jumlah perusahaan yang memasang iklan lowongan kerja menurun drastis.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, survei itu dilakukan pada situs pencarian kerja. Hasilnya, jumlah perusahaan yang memasang iklan lowongan kerja turun lebih dari 50 persen di April 2020, sementara jumlah iklan lowongan kerja turun lebih dari 75 persen.

“Dari sisi perusahan kelihatan sekali jumlah lowongan kerja turun sekali,” kata Suhariyanto saat rapat kerja virtual dengan Komisi XI DPR RI, Kamis (30/4).

Secara rinci, jumlah iklan lowongan kerja pada April 2020 hanya mencapai 2.439 lowongan, merosot tajam hingga 78 persen jika dibandingkan dengan periode Maret 2020 yang mencapai 11.090 lowongan.

Sementara untuk perusahaan yang memasang iklan lowongan kerja, pada periode Maret 2020 masih terdapat 502 perusahaan, sementara di April 2020 hanya 235 perusahaan. Artinya, terjadi penurunan 53,18 persen dalam waktu satu bulan saja.

Bahkan pemerintah memprediksi angka pengangguran diprediksi naik 2,92 juta orang dalam skenario berat dan naik 5,23 juta orang dalam skenario sangat berat.

Potret kemiskinan di Indonesia. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

3. Kemiskinan Meningkat

Di samping itu, angka kemiskinan juga akan meningkat jika resesi terjadi di Indonesia. Pemerintah memproyeksi angka kemiskinan bertambah 1,89 juta orang pada skenario berat dan bertambah 4,86 juta orang pada skenario sangat berat di tahun ini.

Bahkan Bank Dunia memprediksi angka kemiskinan di Indonesia bisa meningkat 5,5 juta orang di tahun ini. Dan dalam skenario terberat, dengan catatan Indonesia terkena gelombang kedua COVID-19, kemiskinan bisa meningkat hingga 8 juta orang.

Piter menjelaskan, dampak resesi ekonomi akan berbeda tiap negara. Singapura misalnya, meskipun negara tersebut mengalami resesi, namun rakyatnya masih akan sejahtera.

Pemerintah Singapura jor-joran memberikan stimulus kepada rakyatnya. Mereka menganggarkan stimulus hampir SGD 100 miliar atau setara 20 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) Singapura.

“Kalau menderita mungkin enggak, karena tingkat kesejahteraan mereka sudah tinggi. Mereka pasti mengalami penurunan income, tapi tidak membuat mereka jatuh ke jurang kemiskinan," jelasnya.

Sementara di Indonesia, pemerintah menyiapkan anggaran Rp 695,3 triliun atau setara dengan 4,3 persen dari PDB Indonesia.

Jika resesi terjadi, tentunya masyarakat akan semakin menderita. Skenario sangat berat yang dibuat pemerintah akan terjadi jika resesi mengenai ekonomi Indonesia.

Artikel Asli