Jembatan Gantung Ambrol, Pelajar Uji Nyali Seberangi Sungai Batang Tebo ke Sekolah

Liputan6.com Diupdate 02.19, 19/10/2019 • Dipublikasikan 02.00, 19/10/2019 • Gresi Plasmanto
Jembatan Gantung Putus di Bungo Jambi, Warga Terpaksa Sebrangi Sungai dengan Perahu
Pelajar melintasi jembatan gantung yang rusak. Jembatan rusak yang sebelumnya sempat viral itu baru kemudian diperbaiki. (Liputan6.com/Gresi Plasmanto)

Liputan6.com, Jambi - Rusaknya jembatan gantung sepanjang 135 meter yang menghubungkan dua dusun di Kecamatan Tanah Sepenggal, Kabupaten Bungo, Provinsi Jambi, kini masih dalam tahap perbaikan setelah sempat viral di media sosial. Sembari menunggu masa perbaikan selesai, untuk sementara ini warga terpaksa menyeberangi sungai dengan perahu.

Jembatan yang menjadi akses satu-satunya masyarakat di Dusun Teluk Pandak dan Dusun Embecang tersebut, diketahui sudah sejak lama rusak. Bagian lantai jembatan gantung yang terbuat dari papan itu ambrol diterpa angin sehingga tak bisa dilalui.

Tak hanya menjadi mobilitas masyarakat, jembatan gantung tersebut juga menjadi akses perekonomian warga setempat. Selain itu, akses pendidikan juga bergantung pada jembatan yang melintasi Sungai Batang Tebo itu.

"Untuk memfasilitasi penyeberangan selama masa perbaikan jembatan, pihak pemerintah dusun sudah menyiapkan dua perahu untuk warga," kata Pjs Datuk Dusun Teluk Pandak, Amril dihubungi dari Jambi, Kamis (17/10/2019).

Dalam masa tunggu perbaikan selesai, pemerintah dusun melarang warga melintasi jembatan gantung yang disebut-sebut sebagai jembatan maut itu. Namun demikian, sebut Amril, masih ada warga, termasuk anak-anak sekolah yang nekat menantang bahaya dengan melintasi jembatan gantung yang rusak.

"Meski itu bahaya, warga tetap saja masih ada yang nekat melintas, termasuk juga anak sekolah yang sempat viral kemarin itu," jelasnya.

Amril mengatakan, terdapat dua perahu yang difungsikan untuk memfasilitasi masyarakat dalam menyeberang. Selain mengangkut orang, perahu motor itu juga bisa mengangkut barang, termasuk sepeda motor.

"Akses di dua dusun tidak lumpuh, karena sudah ada perahu. Masyarakat kami minta jangan nekat melewati jembatan, tapi gunakan perahu yang sudah disediakan," ujarnya.

Meski telah disediakan perahu motor, tak jarang masih ada warga yang nekat dan terpaksa menyebrangi derasnya arus sungai karena tidak mampu untuk membayar ongkos penyeberangan.

 

Menelan Korban

Pekerja sedang memperbaiki jembatan gantung putus yang menjadi akses utama masyarakat di dua dusun di Kabupaten Bungo Jambi. (Liputan6.com/Gresi Plasmanto/Dok. Istimewa)

Rusaknya jembatan gantung dalam beberapa bulan terakhir ini telah memakan dua orang korban. Satu di antaranya korban meninggal dunia setelah hanyut terbawa derasnya arus sungai. Sedangkan, satu korban lainnya berhasil diselamatkan.

Rusaknya jembatan gantung tersebut, juga sempat viral di jagat media sosial beberapa hari yang lalu. Sejumlah pelajar terpaksa melewati jembatan itu dengan berjalan ditali baja sambil berpegangan tali.

"Tahun ini ada korban, warga yang lewat itu terjatuh dari jembatan bersama sepeda motornya hanyut dan enggak bisa tertolong lagi. Sebelumnya lantai jembatan ini juga pernah putus dan kembali diperbaiki, terus rusak lagi," kata warga Kabupaten Bungo, Reza.

Setelah diketahui adanya korban, jembatan yang setiap tahunnya mengalami kerusakan itu kemudian pemerintah daerah setempat baru bertindak memperbaiki jembatan. Perbaikan itu dianggarkan dana sebesar Rp150 juta.

"Sebenarnya sudah lama warga nunggu perbaikan, pas sudah viral ke mana-mana baru diperbaiki," katanya.

Warga berharap agar pemerintah membangun jembatan tersebut secara permanen dengan konstruksi beton atau dengan kerangka baja yang lebih kokoh. Sebab, banyak warga yang sangat bergantung pada jembatan dan setiap harinya ratusan kendaraan roda dua yang melewati jembatan itu.

"Perbaikan jembatan secara permanen harus dilakukan supaya warga bisa memanfaatkan jembatan dengan aman, tidak rusak-rusak terus setiap tahun," kata Reza memungkasi.

 

Artikel Asli