Jaran Goyang: Pertemuan (Part 1)

kumparan Dipublikasikan 06.50, 26/01 • Mbah Ngesot
Ilustrasi. Foto: Pexels/Mateusz Dach

Ahmad mematut diri di depan cermin. Merapikan kemeja putihnya. Rambutnya disisir klimis. Ia semprotkan minyak wangi ke seluruh badannya. Senyumnya mengembang. Ia jilat jari telunjuknya lalu dioleskan pada kedua alis yang tebal. Malam ini adalah malam yang sangat istimewa bagi Ahmad karena ia akan menyatakan cinta pada Mila. Tiga tahun sudah ia memendam rasa pada Mila. Tiga tahun sudah ia membayangkan bisa hidup bahagia bersama Mila. Dan, tiga tahun sudah Mila selalu menolak kalau diajak jalan berdua. Tapi, entah setan apa yang merasuki Mila, malam ini wanita itu mau diajak makan malam bersama Ahmad.

Kantor kurir adalah awal pertemuan Ahmad dengan Mila. Saat itu Ahmad bekerja sebagai staff counter, sedangkan Mila jauh lebih tinggi jabatannya dari Ahmad. Mila bekerja sebagai operation manager yang kebetulan menjadi atasan Ahmad. Sikap Mila yang selalu baik pada siapa pun membuat Ahmad jatuh cinta setengah mati padanya. Awal pertama Ahmad berhasil mendekati Mila sangat konyol, ia sengaja mengempeskan ban mobil Mila agar Ahmad bisa memberikan tumpangan padanya. Padahal ya, Si Ahmad ini sebagai staff biasa hanya membawa motor bebek yang kalau digas suara mesinnya seperti kakek yang batuk-batuk. Maklumlah, motor tua.

Siasat Ahmad tidak berhasil begitu saja. Saat pertama ban mobil Mila ia kempeskan, Mila menolak tumpangan dari Ahmad. Ia lebih memilih naik ojek online. Tapi perjuangan tidak berakhir di situ, besoknya, dan besoknya lagi, sampai seminggu berturut-turut, Ahmad rajin kempeskan ban mobil Mila. Sampai akhirnya Mila mau naik tumpangan Ahmad.

"Mbak Mila," Ahmad membuka obrolan sambil fokus mengendarai motornya.

"Iya, Mad," Mila sibuk dengansmartphone-nya.

"Boleh nggak aku panggil Mila saja."

Mila mengerutkan keningnya lalu kembali ke layar smartphone.

"Boleh-boleh," jawab Mila singkat.

"Boleh juga nggak, aku follow sosial media kamu?"

Mila mematikan layar smartphone dan memandangi Ahmad dari belakang, keningnya berkerut. Dalam hatinya ia bergumam *'ini orang kenapa sih' *

"Boleh, tapi fokus aja dulu bawa motornya. Nanti kalau nabrak, kita nggak bisa saling follow di sosial media loh."

Semakin berbunga-bunga saja hati Ahmad.

"Siap Mila."

Tapi tiba-tiba, ia malah memberhentikan lajut motor tuanya. Mengeluarkan smartphone yang layarnya sudah retak seperti habis dibawa perang dunia dua. Mila heran kenapa Ahmad berhenti, ia mulai curiga kalau Ahmad akan merampoknya. Wah, atau jangan-jangan dia akan jadi korban pelecehan seksual.

"Kenapa berhenti?"

"Sebenter, Mil," Ahmad membuka sosial media miliknya.

"Sudah aku follow, ya."

"Ya ampun Mad-Mad. Kan bisa nanti kali," sergah Mila kesal.

"Untuk urusan rasa nggak bisa dinanti-nanti, Mil."

Mila semakin heran dengan kelakuan Si Ahmad. Kini ia bergumam lagi dalam hatinya 'Kampret bengetnih orang, hadeuh*kalau tahu begini mendingan gua jalan kaki' *

"Iya-iya udah aku follow ya," Mila menyodorkan smartphone-nya. Jelas smartphone mewah yang harganya di atas sepuluh juta.

Dari situlah, awal kedekatan Ahmad dan Mila. Sebenarnya Mila tidak mendekat, tapi Ahmad yang ngotot mengejar-ngejar Mila. Sekali dua kali, Mila balas chat dari Ahmad, tapi semakin lama chat Ahmad hanya centang biru. Bahkan, pernah hanya centang satu, tahunya dia diblokir Mila. Ya wajar saja dia diblokir, pendekatan Ahmad benar-benar seperti serangan Nazi kepada tentara Prancis tanpa ampun. Jam dua pagi, di mana orang-orang sedang enak tidur, Si Ahmad malah video call Mila.

Nantikan cerita Jaran Goyang selanjutnya. Agar tidak ketinggalan, klik subscribe di bawah ini:

Artikel Asli