Jangan salah! Keguguran dan stillbirth tidak sama, ini perbedaan dan cara mencegahnya

TheAsianparent Dipublikasikan 13.15, 21/01 • Shafa Nurnafisa
stillbirth-adalah-lead.jpeg

Memiliki kehamilan yang sehat tentunya merupakan harapan semua calon ibu. Termasuk Bunda bukan? Namun sayangnya, dalam perjalanan kehamilan ada beragam masalah yang bisa timbul. Seperti risiko terjadinya keguguran dan stillbirth. Stillbirth adalah kondisi di mana bayi terlahir mati.

Kondisi ini  jelas berbeda dengan keguguran. Apakah Bunda sudah mengetahui apa saja perbedaannya?

stillbirth adalah

Perbedaan stillbirth dan keguguran dan cara mencegahnya

Keguguran merupakan kondisi kehilangan janin pada usia kehamilan di bawah 20 minggu. Kondisi tersebut berbeda dengan stillbirth, yakni merupakan keadaan bayi meninggal dalam kandungan setelah kehamilan berusia di atas 20 minggu. Dalam beberapa kasus stillbirth ini, ada juga bayi yang meninggal ketika proses persalinan berlangsung. Namun, presentasenya cenderung kecil.

Tentang stillbirth 

Seperti yang dilansir dari laman World Health Organization, definisi yang direkomendasikan oleh WHO untuk menyebut kondisi kehilangan janin adalah ketika bayi lahir tanpa tanda kehidupan di usia kehamilan 28 minggu atau lebih. Sesuai masa kehamilan, klasifikasi kondisi stillbirth adalah sebagai berikut ini:

  • 20 hingga 27 minggu: Kondisi stillbirth awal
  • 28 hingga 36 minggu: Kondisi stillbirth akhir
  • Setelah 37 minggu: Stillbirth

Seperti yang dilansir dari Hello Sehat, pada 2015, jumlah bayi meninggal karena stillbirth adalah 2,6 juta secara global. Kondisi ini lebih sering terjadi di negara-negara berkembang.

stillbirth adalah

Faktor risiko stillbirth

Hingga saat ini, belum ada penelitian yang menjelaskan penyebab pasti bayi meninggal dalam kandungan. Namun, tentunya ada beberapa faktor yang kemungkinan dapat meningkatkan risiko terjadinya stillbirth seperti:

  • Gangguan plasenta
  • Ibu hamil menderita penyakit tertentu seperti diabetes yang tidak dikontrol dengan baik, atau pun tekanan darah tinggi yang menyebabkan preeklampsia.
  • Infeksi bakteri
  • Cacat lahir
  • Bayi terlilit tali pusar
  • Paparan lingkungan yang tidak sehat
  • Kekurangan nutrisi

Ketahui gejala stillbirth

Stillbirth bisa terjadi pada siapa pun. Untuk mengurangi faktor risikonya, Bunda bisa memahami beberapa gejala yang bisa menyebabkan terjadinya stillbirth seperti:

  • Terjadinya pendarahan vagina, terutama ketika kehamilan memasuki trimester kedua
  • Janin di dalam perut kurang bergerak. Atau pergerakan bayi di dalam kandungan mengalami perubahan drastis dan berbeda dari biasanya

Dalam beberapa kasus, biasanya kondisi stillbirth juga tidak menunjukkan tanda yang darurat sebelum terjadi. Oleh karena itu, apabila Bunda merasa ada yang salah dengan kondisi kehamilan, jangan ragu untuk segera periksa dan berkonsultasi dengan dokter kandungan Anda.

stillbirth adalah

Mencegah stillbirth

Ada beberapa cara untuk mencegah kondisi stillbirth, di antaranya adalah:

  • Konsumsi makanan bernutrisi dengan gizi seimbang.
  • Hindari merokok, minum minuman beralkohol, serta obat-obatan terlarang.
  • Hindari juga untuk berada di lingkungan yang terpapar asap rokok.
  • Pastikan berat badan Bunda ideal sebelum merencanakan kehamilan.
  • Perhatikan pergerakan bayi dalam kandungan.
  • Rutin berkonsultasi ke dokter.

Tentang keguguran

Berbeda dengan stillbirth, apabila kehamilan berakhir sebelum 20 minggu, maka kondisi itu disebut keguguran. Biasanya, keguguran ini rentan terjadi pada tiga bulan pertama kehamilan atau pada trimester pertama. Oleh karena itu, Bunda kerap diharapkan untuk lebih memerhatikan kondisi kesehatan pada masa-masa tersebut.

Secara umum, ciri utama keguguran adalah keluarnya darah dari vagina ketika hamil muda. Baik itu dalam bentuk bercak maupun mengalir selayaknya menstruasi.

Meski tidak dapat dipungkiri juga, tidak semua kondisi keluarnya darah dari vagina adalah tanda keguguran. Namun, tidak ada salahnya Bunda tetap memeriksakan kondisi tersebut pada dokter sehingga bisa melakukan penanganan untuk mencegah permasalahan medis yang tidak diinginkan.

stillbirth adalah

Selain itu, gejala keguguran juga bisa berupa:

  • Keluar darah disertai dengan munculnya rasa nyeri perut, kram perut, serta nyeri punggung bagian bawah.
  • Demam tinggi selama trimester awal
  • Muntah-muntah hingga sangat sulit makan dan minum
  • Keputihan tidak normal
  • Nyeri saat buang air kecil

Penyebab keguguran

Penyebab keguguran sangat beragam. Beberapa hal yang bisa meningkatkan faktor risiko keguguran di antaranya adalah:

  • Penyakit kronis
  • Infeksi bakteri
  • Hamil di atas usia 35 tahun
  • Merokok, minum minuman beralkohol
  • Pernah keguguran sebelumnya
  • Kelainan pada rahim

Upaya pencegahan

Sama seperti stillbirth, pola hidup yang sehat sebenarnya adalah kunci utama untuk mencegah keguguran terjadi. Beberapa cara yang bisa Bunda lakukan sebagai upaya pencegahan keguguran adalah:

  • Konsumsi makanan bernutrisi dengan gizi seimbang
  • Menjaga berat badan tetap ideal
  • Tidak merokok dan hindari lingkungan yang terpapar asap rokok
  • Menerima vaksin sesuai anjuran dokter
  • Rajin berkonsultasi ke dokter

Itulah beberapa berbedaan stillbirth dan keguguran. Perlu diketahui, kedua kondisi tersebut bisa terjadi pada siapa pun. Oleh karena itu, tetap jaga kesehatan Bunda selama kehamilan dan jangan ragu untuk memeriksakan diri ke dokter apabila Anda merasa ada yang salah dengan kondisi kehamilan, ya.

Untuk Bunda yang pernah mengalami kehilangan janin, baik stillbirth dan keguguran, tetap semangat dan jangan berkecil hati, ya. Pasalnya, hormon kehamilan akan selalu diingat oleh tubuh sehingga Bunda tetaplah sosok seorang ibu seutuhnya. Bunda telah berjuang dan berusaha yang terbaik untuk calon si kecil.

Semoga informasi ini bermanfaat!

***

: Hello Sehat, Alodokter

Artikel Asli