Jangan Ucap 5 Kalimat Ini jika Ingin Membesarkan Anak Bermental Kuat

Kompas.com Dipublikasikan 06.17, 12/08/2020 • Gading Perkasa
SHUTTERSTOCK
Orangtua mendampingi saat anak menghadapi kegagalan.

KOMPAS.com - Dalam mengasuh anak, kita sering tidak sadar mengucapkan kalimat yang memengaruhi mental mereka.
Seperti contoh, "Saya sangat bangga pada anak saya karena begitu kuat, Dia tidak pernah menangis sejak neneknya meninggal."
Sepintas kalimat tersebut terdengar positif, namun bisa menjadi pesan beracun untuk anak.
Baca juga: Orangtua Harus Tahu, Ini Efeknya Jika Terlalu Sering Marah pada Anak
Tidak menangis bukan ciri utama kekuatan. Butuh lebih banyak keberanian untuk meneteskan air mata dibandingkan menahannya.
Kekuatan mental melibatkan kesadaran yang mendalam akan emosi kita dan mengetahui bagaimana berekspresi dengan cara yang sehat, seperti menangis saat kita sedih.
Kalimat yang kita gunakan membuat perbedaan besar. Jika tidak waspada, kita bisa mengirim pesan yang menanamkan kebiasaan tidak sehat yang dapat menguras kekuatan mental anak untuk mencapai potensi terbesar mereka.
Untuk membuat anak kuat secara mental, hindari beberapa kalimat berikut:
1. "Ini bukan masalah besar"

Di saat anak cemas dan menceritakan kekhawatirannya bahwa temannya akan marah padanya, jangan menggunakan kalimat "ini bukan masalah besar."
Bagi anak, itu masalah besar. Dan ia mencoba memberi tahu kita, bahwa ia membutuhkan bantuan untuk mengatasi emosinya.
Daripada meminta anak untuk tidak khawatir, beri keterampilan yang ia butuhkan untuk mengatasi kesulitannya.
Baca juga: Orangtua, Jangan Menjadi Toksik bagi Anak
2. "Berhenti menangis"
Tidak ada salahnya menangis. Ini cara yang sehat untuk mengekspresikan emosi.
Satu alasan mengapa banyak orang dewasa meminta maaf ketika mereka menitikkan air mata, karena mereka diajari menangis itu hal yang buruk.
Tentu saja, jika anak berteriak dan berguling-guling saat kita berbelanja di toko, tangani perilaku mereka.
Jelaskan kepada anak, mengganggu orang lain di toko tidak diperbolehkan. Pastikan kita mengoreksi perilaku anak, bukan emosinya.
3. "Kamu anak terpintar di sekolah"
Berhati-hati saat kita memberi tahu anak, bahwa mereka adalah pemain basket terbaik atau anak terpintar di sekolah, sebab pujian berlebihan tidak membawa kebaikan.
Buat pujian yang tulus. Dan fokuslah pada usaha daripada pencapaian.
Tekankan fakta bahwa mereka belajar untuk waktu lama, sehingga mereka tahu kita menghargai usaha mereka.
Jika kita memuji untuk kesuksesan yang mereka raih, mereka akan tumbuh dengan keyakinan bahwa mereka perlu meraih kemenangan lewat segala cara, bahkan jika harus curang atau menyakiti orang.
Selain itu, mereka juga berpikir mereka hanya pantas dipuji ketika berprestasi, sehingga mereka tidak mau mencoba segala sesuatu yang memiliki kemungkinan gagal.
Baca juga: 5 Hal yang Harus Dilakukan Orangtua Saat Anak Gagal

4. "Semuanya akan baik-baik saja"
Wajar jika orangtua ingin meyakinkan anak bahwa semuanya akan selalu baik-baik saja.
Tapi terkadang, semuanya tidak dalam kondisi baik. Kita tidak dapat mencegah mereka menghadapi kesulitan, atau bahkan tragedi.
Ajarkan agar mereka kuat menghadapi apa pun yang terjadi dalam kehidupan. Beri mereka keterampilan dan alat yang mereka butuhkan untuk menangani tantangan hidup.
5. "Tenanglah"
Mengatakan "tenanglah" kepada anak tidak menciptakan rasa damai. Sebagian orangtua meminta anak untuk tenang, karena mereka frustrasi dan tidak ingin anak mereka panik.
Namun, ketika anak merasa kesal, pastikan kita beri mereka keterampilan untuk menenangkan diri. Kita juga ingin mereka tahu apa yang harus dilakukan saat kita sedang tidak bisa membantu mereka.
Cobalah mengajak anak untuk menurunkan ketegangannya. Entah itu menarik napas dalam-dalam atau berjalan-jalan, anak-anak perlu mengetahui cara menenangkan pikiran dan tubuh mereka.
Kita dapat mengingatkan anak tentang keterampilan khusus yang akan membuat mereka tenang, sehingga mereka mau belajar mempraktikkannya dengan cara mereka sendiri.
Baca juga: Tak Hanya Orang Dewasa, Anak Remaja Pun Bisa Mengalami Gangguan Mental

Penulis: Gading PerkasaEditor: Bestari Kumala Dewi

Artikel Asli