Istri Adalah Orang Lain yang Kebetulan Diurus Suami, Benarkah?

Kompas.com Dipublikasikan 05.30, 09/08 • Sri Anindiati Nursastri
Shutterstock
ilustrasi kondisi keuangan sedang kacau

KOMPAS.com – Baru-baru ini viral sebuah thread di Twitter yang menceritakan tentang kondisi finansial suami-istri dalam rumah tangga. “Aku hanya orang lain yang kebetulan diurus suamiku”, begitu judulnya, menceritakan kondisi seorang istri yang 10 tahun dinafkahi suaminya tanpa mengetahui jumlah pendapatan pasti suami.

Dalam thread tersebut, diceritakan pula mengenai ketidakterbukaan suami terhadap pemasukan dan pengeluarannya secara finansial.

Menanggapi hal ini, psikolog anak dan keluarga Astrid WEN menyebutkan bahwa hubungan rumah tangga seharusnya didasari oleh keterbukaan terutama finansial.

Baca juga: Bisakah Pekerjaan Rumah Tangga Digolongkan Olahraga?

“Kalau dari kasus ini bisa dilihat komunikasi dan keterbukaan mengenai kondisi keuangan sangat kurang antara suami dan istri. Ini menjadi alasan seorang istri penting untuk dibekali pengetahuan tentang cashflow, untuk bisa memberikan bukti kebutuhannya pada suami,” tutur Astrid kepada Kompas.com, Minggu (9/8/2020).

Mengapa calon istri perlu memahami cashflow dalam rumah tangga? Astrid menuturkan, ketika ada kasus seperti yang tengah viral, istri bisa memberikan bukti-bukti otentik pengeluarannya selama satu bulan.

“Harusnya bukan diberikan sekian dan dicukup-cukupi, tapi kebutuhannya berapa, itu yang harus dipenuhi. Meski ada kondisi di mana suami memberikan istri jatah bulanan yang fix karena misalnya istri boros, tapi dalam kasus yang viral kan tidak begitu,” papar Astrid.

Harus bagaimana?

Astrid menyebutkan seorang istri yang diberikan jatah bulanan oleh suami berhak mengetahui pendapatan bulanan suami. Namun jika kondisi finansial seperti kasus yang viral terlanjur terjadi, hal pertama yang bisa dilakukan adalah mencari support system.

Support system ini seperti apa? Cari teman atau orang terdekat yang melek finansial, empatik, dan lebih bijak. Kita harus berani dan terbuka dengan kondisi kita, belajar untuk membuka diri,” tutur Astrid.

Kemudian setelah itu, barulah apa yang kita pelajari dikomunikasikan pada suami.

“Cari waktu yang baik, tarik nafas, kelola emosi. Penting untuk kita memahami dulu tentang cashflow ini karena itu akan menjadi dasar argumen untuk suami,” tambahnya.

Namun jika kondisinya memang sulit, Astrid menyarankan ada baiknya istri mulai mengembangkan keahlian. Saat pandemi seperti ini misalnya, istri bis mengembangkan keahlian di rumah.

Pentingnya bimbingan pranikah

Berkaitan denganthread sang istri di Twitter, warganet dibuat geram oleh postingan suaminya di Facebook.

Tertulis bahwa “Saya ngasih uang jatah tidak semua gajih saya kasihkan, saya tabung buat anak, karna anak darah daging sedang istri adalah oranglain yang kebetulan harus kita urus, intinya jangan terlalu royal juga jngan terlalu pelit.”

Hal-hal prinsipil ini sebetulnya bisa diketahui sejak sebelum menikah. Oleh karena itu, pasangan yang belum menikah ada baiknya saling mengerti konsep pernikahan sampai hal-hal yang detail.

Baca juga: Konseling Pranikah Minimalkan Cerai

“Pasangan harus benar-benar mengerti ekspektasi pernikahan itu apa, konsep finansialnya seperti apa. Hal-hal seperti ini yang biasanya didapatkan dalam bimbingan pranikah,” tutur Astrid.

Saat pasangan mengenal satu sama lain, kewaspadaan dan penerimaan terhadap sesuatu akan menjadi lebih mudah.

“Dari awal mungkin istrinya bisa tahu, kenapa istri hanya untuk dinafkahi misalnya. Masih ada space untuk beradu argumen sebelum benar-benar menikah. Ini yang harus dimanfaatkan dengan baik,” tutup Astrid.

Penulis: Sri Anindiati NursastriEditor: Sri Anindiati Nursastri

Artikel Asli